Implementasi Psikologi Forensik Pada Kasus Begal Payudara Oleh : Nabella Vira Winduantika

by
Ilustrasi Suara.com

KASUS pelecehan seksual di Indonesia seperti tidak berkesudahan. Pelecehan seksual seringkali terjadi di kendaraan umum, tempat bekerja, atau bahkan di jalan raya. Motif pelaku beragam, beberapa di antaranya adalah ingin terlihat lebih maskulin, demi memenuhi hasrat seksual dan juga karena ‘iseng’. Terdapat berbagai macam bentuk-bentuk pelecehan seksual yang marak terjadi, yaitu perilaku menggoda. Contohnya seperti memberi ajakan yang tidak pantas, lalu pelanggaran seksual, contohnya menyentuh area intim pada tubuh.

Selanjutnya pelecehan gender, misalnya melontarkan pernyataan yang merendahkan orang lain dengan dasar jenis kelamin, lalu pemaksaan seksual, contohnya perlakuan seksual dengan pemaksaan dan biasanya diawali dengan ancaman, dan yang terakhir penyuapan seksual, seseorang meminta perlakuan seksual dengan janji akan memberikan imbalan setelahnya.

Koalisis Ruang Publik Aman dalam survei pelecehan seksual di ruang publik dilakukan pada akhir tahun 2018, jumlah responden yang ikut andil dalam pengisian survei tersebut berjumlah 62.224 orang yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Survei tersebut mendapatkan hasil sebesar 64 persen responden perempuan dan 11 persen laki-laki sebagai responden. 69 persen diantaranya pernah mengalami tindak pelecehan seksual di ruang publik.

Begal payudara adalah bentuk pelecehan seksual yang marak terjadi akhir-akhir ini. Begal payudara adalah bentuk pelecehan yang dilakukan pelaku dengan memengang atau meremas payudara korban dalam keadaan sedang mengendarai sepeda motor.

Begal payudara terjadi dalam waktu yang singkat, namun dapat menimbulkan trauma pada diri korban. Trauma yang dirasakan bukan hanya dikarenakan tindakan tidak etis yang dilakukan pelaku pada korban, namun juga stigma masyarakat yang beberapa dari mereka menyalahkan korban karena menggunakan pakaian yang kurang sopan, pulang larut malam, mencari perhatian, dan sebagainya.

Padalah sebenarnya beberapa alasan tersebut kurang rasional, karena banyak didapati korban pelecehan seksual yang menggunakan pakaian muslimah atau hijab serta tindak pelecehan seksual tersebut terjadi di siang hari. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil penelitian yang menemukan data dari sebuah survei yang menunjukkan bahwa kejadian pelecehan seksual paling banyak dilakukan di siang hari, yaitu sebesar 34 persen, lalu di sore hari sebesar 25 persen, di malam hari sebesar 21 persen dan pagi hari 19 persen.

Peran Psikolog Forensik sangat dibutuhkan demi menciptakan keadilan, melindungi serta memulihkan psikologis korban. Biasanya, pada korban pelecehan seksual, dibutuhkan pemeriksaan psikologis secara keselurahan untuk melihat apakah terdapat trauma dalam diri korban setelah mengalami kejadian buruk tersebut. Dalam buku Forensic Psychology milik Flero & Wrightsman dijelaskan mengenai “Syndrome” Evidance yang biasanya ditemukan dalam diri korban dan berkaitan dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Setelah melakukan pemeriksaan psikologis, Psikolog harus memverifikasi hasil pemeriksaan tersebut dengan rekam medis korban. Jika setelah verifikasi tersebut benar ditemukan trauma dalam diri korban, maka seorang Psikolog Forensik berhak untuk mengikuti persidangan sebagai saksi ahli guna mendukung pernyataan korban berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis serta menilai tanggapan dari tersangka atau pengacaranya.

Tidak hanya korban yang memerlukan pendampingan seorang Psikolog Forensik, namun juga pelaku memiliki hak yang sama untuk didampingi oleh profesional, yaitu Psikolog Forensik. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi ketidaktepatan hukuman yang hendak dijatuhkan pada pelaku. Pasalnya, jika dalam pendampingan serta pemeriksaan psikologis, didapatkan kecenderungan akan mental disorder, maka secara otomatis pidana yang dijatuhkan kepada pelaku atau tersangka tidak valid.

Penyertaan Psikolog Forensik dalam persidangan sudah tidak asing lagi, di Indonesia banyak persidangan yang mendatangkan Psikolog sebagai saksi ahli guna memberikan pandangan berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis dan dinamika-dinamika manusia yang mana hal tersebut dapat berguna dalam pertimbangan putusan yang dijatuhkan oleh Hakim.

Terdapat beberapa tips yang dirasa dapat berguna bagi masyarakat demi menjaga keamanan serta keselamatan diri dari tindak pelecehan seksual adalah ditegur, dialihkan, dilaporkan, ditenangkan serta direkam. Tips tersebut dibagikan oleh seorang jurnalis dan presenter  ternama, yaitu Najwa Shihab.

Ia mengaku sempat beberapa kali hampir menjadi korban tindak pelecehan seksual, oleh karenanya ia membagikan tips tersebut yang ditunjukkan bagi masyarakat luas. Tips lainnya adalah hindari tempat sepi, tetap waspada terhadap apapun yang terjadi di lingkungan sekitar, membawa senjata guna pertahanan diri, tidak lupa untuk memberanikan diri berteriak atau melawan.

Penulis : Nabella Vira Winduantika, Mahasiswi Program studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia