Indonesia Menuju Ekonomi Hijau? Oleh : IIK Ikhwan Puadin

by
ilustrasi. pxhere.com

AKHIR tahun 2019 dunia dikejutkan dengan munculnya virus COVID-19 yang berhasil membuat terguncangnya perekonomian dunia. Hampir semua sektor perekonomian terhempas, bahkan sampai saat ini pemulihan ekonomi masih sangat lamban. Di Indonesia sendiri dampak langsung pandemi sangat jelas terasa. Perekonomian yang diperkirakan akan mengalami peningkatan malah turun drastis. Dengan kondisi saat ini, Indonesia butuh yang lebih dari sekadar pemulihan semata, melainkan apa yang mampu membawa Indonesia tetap tumbuh dalam jangka panjang.

Tahun berlalu dan bumi masih belum pulih. Kedamaian yang diharapkan malah menyeret kita pada kenyataaan bahwa bencana akan terus menerus datang. Euforia tahun baru masih terasa namun Indonesia sudah diberi cobaan dengan begitu luar biasa. Lalu siapa yang dapat kita salahkan?

Loading…

Tidak hanya di masa yang akan datang, saat ini atau malah sudah sejak lama kejadian-kejadian seperti cuaca ekstrim, kegagalan aksi iklim, bencana alam, hilangnya keanekaragaman hayati dan bencana lingkungan yang disebabkan oleh ulah manusia terus menghantam kita. Hal ini sudah diprediksi banyak orang, namun seperti tidak ada yang mampu mencegahnya terjadi. Pembangunan infrastruktur dan eksploitasi sumber daya alam terus dilakukan sementara penghuni liar kehilangan rumahnya. Hal ini seperti membuka lebar pintu pertemuan antara manusia dengan satwa liar, yang kerap kali dijadikan ancaman oleh manusia. Jelas, salah satunya adalah pandemi yang kita alami saat ini.

Dengan virus yang belum mereda dan semakin parah, ditambah lagi serangan alam yang bisa datang setiap saat tanpa diduga, akan memukul kesadaran manusia jika masih saja melakukan kegiatan ekonomi yang merusak bumi. Bencana datang bertubi-tubi, seharusnya menjadikan kita sadar bahwa Tuhan sedang marah karena milikNya dirusak. Sudah saatnya kita butuh kerendahan hati untuk memperbaiki diri. Dan sekarang adalah momentum yang tepat. Kita butuh ekonomi dan politik yang lebih ramah terhadap alam.

Berbicara tentang alam, Indonesia seharusnya mampu menorehkan prestasi dan menjadi barisan depan dalam memperbaiki bumi. Dengan hutan dan lautan yang Indonesia punya, mahakarya yang Tuhan beri secara langsung dan tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Janji Indonesia untuk mencoba mengurangi emisi gas rumah kaca belakangan belum terasa. Tidak kunjung mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan, Indonesia malah semakin menghabiskan sumber daya alam yang tak dapat tergantikan.

Berangkat dari hal tersebut, perlu adanya satu pergerakan dari pemerintah untuk bangkit dan menatap masa depan yang masih panjang, mendorong kita untuk memikirkan suatu konsep kebijakan pertumbuhan yang mampu mensinergikan pertumbuhan ekonomi dengan keterbatasan sumber daya alam serta upaya perlindungan lingkungan. Dan konsep yang dirasa tepat untuk saat ini adalah mulai membawa bangsa ini menuju ekonomi hijau. Apa itu ekonomi hijau?

Dalam ungkapan yang paling sederhana ekonomi hijau dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang rendah karbon, efisien dalam sumberdaya dan inklusif secara sosial. Model ekonomi hijau berkelanjutan dapat dimulai dengan hal-hal yang bersifat kreatif, mendorong inovasi kemandirian, dan tidak sekedar bertumpu pada ekstraktif sumber daya alam. Kerusakan lingkungan yang semakin parah akan mendorong menculnya kepedulian atas lingkungan. Hal yang paling dekat dengan manusia, murah dan paling mudah untuk dilakukan secara bersama-sama oleh orang banyak adalah pengelolaan sampah yang lebih baik agar mampu mengurangi beban lingkungan atas sampah dan dapat memberikan manfaat secara perekonomian.

Sudah saatnya Indonesia menggalakkan zero waste untuk menyelamatkan bumi. Kehidupan manusia tanpa sampah. Tapi apakah itu mungkin? Manusia dan sampah adalah dua hal yang bertumbuh secara beriringan. Semakin banyak manusia melakukan aktifitas, maka sampah yang dihasilkan pun akan terus bertambah. Lalu bagaimana kita bisa menerapkan zero waste sedangkan sampah adalah apa yang kita hasilkan setiap harinya. Ditambah lagi kurangnya kesadaran masyarakat akan hal tersebut yang seolah-olah tidak mau peduli dan menjadikan hal ini hanya jadi urusan pemerintah. Maka dari itu perlu adanya pemikiran yang mampu menyadarkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan terkait sampah, yang mana hidup berdampingan dengan manusia setiap saat. Pengetahuan tentang sampah perlu ditanamkan kepada semua lapisan masyarakat. Kesadaran terhadap bahaya membuang sampah sembarangan perlu disosialisasikan. Adakan event-event menarik yang mampu memikat masyarakat untuk mulai tertarik pada penanggulangan sampah yang ramah lingkungan, seperti yang pernah dilakukan oleh Kota Bandung dalam Zero Waste Event.

Namun, sering terjadi miskonsepsi terhadap zero waste. Zero waste sendiri adalah gaya hidup positif yang meminimalkan penggunaan bahan yang mencemari lingkungan dan menolak pemakaian bahan sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan akhirnya adalah tanpa sampah sama sekali. Salah satu contoh adalah menjauhi single use plastic atau plastik yang hanya digunakan sekali agar sampah tidak dikirim ke landfill. Jadi zero waste itu tidak hanya mengenai recycle atau mendaur ulang. Zero waste itu dimulai dari Refuse, Reduce, and Reuse. Saat benar-benar sudah tidak memungkinkan untuk 3 hal tadi, baru dilakukan Recycle dan Rot. Refuse (Menolak), kita bisa menolak kantung plastik  nonbiodegradable saat berbelanja. Tentu kita pun harus mempersiapkan kantung belanja sendiri dari rumah. Reduce (Mengurangi), kita dapat menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar.

Selain itu, kita bisa menggunakan produk yang dapat diisi ulang. Reuse (Menggunakan kembali), kita dapat menggunakan kembali wadah/kemasan dengan fungsi yang sama secara berulang-ulang. Contohnya menggunakan baterai recharge, menggunakan plastik bekas minyak goreng sebagai pengganti polybag. Recycle (Mendaur ulang), kita dapat menggunakan produk dan kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai. Selain itu, kita juga dapat melakukan penanganan sampah organik menjadi pupuk kompos. Serta melakukan penanganan sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat. Rot (Membusukkan), kita dapat membusukkan sampah organik menjadi pupuk kompos. Salah satunya dapat dilakukan dengan cara membuat lubang biopori. Hal ini tentu saja dapat mengurangi beban TPA secara signifikan. Hal ini menjadi pegangan untuk mengarah kepada gaya hidup tanpa limbah dan menggunakan sumber daya alam secara bijaksana.

Dampak positif dari keberhasilan kampanye gerakan zero waste melahirkan konten edukasi gaya hidup minim sampah di rumah, sekolah hingga kantor. Tak sampai disitu, beragam toko baik online maupun offline yang menyediakan perkakas ramah lingkungan, pakaian secondhand dan refill center semakin mendukung tumbuh suburnya gaya hidup zero waste. Jika kita terpaksa harus menggunakan produk sekali pakai, sebisa mungkin kita manfaatkan barang tersebut agar tidak menjadi sampah dan berakhir di TPA, insenerator atau bahkan sungai dan laut. Kita tentu tidak ingin jika di masa depan akan ada lebih banyak plastik di laut dibanding dengan ikan. Kita tidak mengharapkan hal semacam itu terjadi dan berdampak lebih buruk lagi untuk generasi mendatang.

Menerapkan gaya hidup zero waste akan membuat tubuh menjadi lebih sehat. Mengurangi konsumsi makanan instant dalam kemasan dan beralih ke makanan non kemasan seperti sayuran dan buah dan lebih memprioritaskan makanan yang dikonsumsi dan tidak membeli jajanan makanan ringan dalam kemasan yang tidak perlu. Karena tidak lagi mengonsumsi makanan instant dalam kemasan yang menghasilkan sampah plastik, maka masyarakat akan beralih ke belanja sayuran dan buah di pasar. Gaya belanja akan lebih banyak perhitungan karena sebisa mungkin akan membeli makanan tanpa kemasan, yang lebih banyak didapatkan di pasar tradisional dengan harga yang murah.

Memulai gaya hidup Zero Waste tentu harus dimulai dari diri sendiri. Mempraktikkan gaya hidup nol sampah merupakan bentuk dukungan dan apresiasi kita kepada alam yang telah memberikan banyak kebaikan. Dari gaya hidup individu, gerakan komunal hingga mendorong perubahan kebijakan. Kita harus yakin dengan masa depan generasi muda mendatang yang ramah lingkungan, bebas limbah dan tidak adanya eksploitasi alam dengan cara destruktif.

Gaya hidup  zero waste  membantu kita untuk mengevaluasi gaya hidup dan melihat bagaimana sesuatu yang kita konsumsi bisa berdampak terhadap lingkungan. Bumi, tempat satu-satunya manusia tinggal, saat ini sedang dalam kondisi kritis. Karena zero waste adalah gaya hidup, tentunya butuh proses untuk menjalaninya. Lakukan perlahan, tapi pasti dan konsisten. Apa yang kurang di negeri ini adalah kita terlalu banyak berpolitik ria, korupsi, dan tidak fokus pada apa yang sebenarnya kita mampu lakukan.

Penulis Adalah Mahasiswa Pascasarjana Prodi. Manajemen Hutan Universitas Pattimura Ambon