Inovasi Pengering Pala dan Dorongan Regulasi Harga Rempah Maluku

by
Solar dryer, Inovasi pengering hasil rempah cengkeh pala bantuan USAID-APIK yang digunakan petani Negeri Allang untuk meningkatkan kualitas hasil hutan (23/8). FOTO: Istimewa

TERASMALUKU.COM,AMBON, –Perubahan iklim di Maluku begitu terasa bagi Masyarakat Negeri Allang kabupaten Maluku Tengah. Sebagai salah satu penghasil cengkeh pala, cuaca yang tak menentu dan musim panas yang tak tertaur berpengaruh pada hasil panen.

Inovasi solar dryer atau alat pengering pala dan cengkeh jadi salahs atu solusi yang difasilitasi oleh United States Agency for International Development (USAID) – Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (APIK).

Saat kunjungan ke Negeri Allang pada Rabu (21/8/2019), perwakilan USAID-APIK bertemu dengan sejumlah masyarakat. Mereka dianataranya mengeluhkan harga jual pala cengkeh, meski telah menggunakan solar dryer sebagai pengering.

Selama ini masyarakat menjemur rempah itu di atas aspal. Namun hal itu nyatan berimplikasi pada kualitas dan berat. “Kalau pakai solar dryer itu palanya lebih berat. Kalau di aspal dia ringan. Tapi kalau mau jual juga di pasar harganya sama seng ada beda,” keluh Buce Huwae, salah seorang warga kepada wartawan.

Buce juga warga lain membeberkan jika sistem pengeringan di atas aspal membuat hasil lekas kering. Namun jauh lebih ringan bila dibandingkan menggunakan solar dryer.

USAID pun memberikan bantuan delapan unit solar dryer pada September 2018 bagi delapan Soa di Allang.

Berdasar hasil penelitian, penggunaan plastik UV sebagai penghantar energi panas baik untuk mengeringkan hasil hutan. Kadar air pun dapat diatur sedemikian rupa tanpa mengurangi kualitas biji pala.

Kepala Sub Direktorat Identifikasi dan Analisis Kerentanan, KLHK RI, arif Wibowo

Saat kunjungan itu dijelaskan, kadar air dalam pala yang dijemur menggunakan solar dryer lebih baik bila dibandingkan di atas aspal. Hal itu berpengaruh pada berat komoditas serta pekembangan jamur aflatoksin dalam biji pala.

Harapannya petani dapat menerima penghasilan lebih besar dari itu. Sayangnya regulasi harga di pasar berkata lain. Harga jual rempah dengan atau tanpa solar dryer sama.

“Sekarang ini harga Rp 60.000 satu kilogram. Sedangkan kalau katong mau kasih sekolah anak jua seng cukup. Padahal itu su pake solar dryer yang hasilnya bagus,” imbuh Buce. Dalam pertemuan bersama USAID, hadir pula perwakilan Kementrian Lingkungan Hidup (KLHK) RI.

Kepala Sub Direktorat Identifikasi dan Analisis Kerentanan, KLHK, Arif Wibowo, menjelaskan pihaknya bakal menyampaikan keluhan-keluhan dan kendala di masyarakat terkait hal itu. Tterutama dorongan untuk regulasi harga pasar.

“Harusnya memang daerah bisa mengatur. Tapi kami akan upayakan itu berkoordinasi biar petani juga sejahtera,” jelasnya usai pertemuan di Allang.

Dia memastikan inovasi solar dryer hasil kerjasama dengan USAID itu tidak akan maksimal jika pemerintah kurang memperhatikan alur penjualan.

Pasalnya selama ini harga jual repah ditentukan di Surabaya. Sedangkan rempah yang mereka jual berasal dari Maluku. Hal ini yang bakal dibawa kepihak kementrian dan dibahas bersama pemerintah daerah demi kesejahteraan petani rempah. (PRISKA BIRAHY)