Isak Tangis Keluarga Pecah Saat Tersangka Korupsi DLHP Ambon Digiring ke Mobil Tahanan

by
Keluarga tersangka menangis sampai memeluk tersangka saat digiring ke mobil tahanan yang diparkir di halaman Kantor Kejari Ambon, Jumat (27/8/2021). Foto : Terasmaluku.com

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Isak tangis keluarga tersangka kasus tindak pidana korupsi (tipikor) anggaran BBM armada Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon pecah saat tersangka digiring menuju mobil tahanan Kejaksaan Negeri Ambon, Jumat (27/8/2021).

Penyidik Kejari Ambon Jumat sore tadi resmi menjebloskan tiga tersangka korupsi anggaran BBM armada DLHP Ambon Tahun 2019 ke balik jeruji besi untuk jalani masa penahanan selama penyidikan.

Mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) Kota Ambon, Lucia Izaak alias L.I (kenakan rompi tahanan dan memakai topi) saat digiring ke mobil tahanan. Foto : Terasmaluku.com

Tersangka Lucia Izaak atau L.I selaku KPA yang juga mantan Kepala DLHP Ambon ditahan di Lapas Perempuan Ambon. Sedangkan tersangka inisial M.Y.T selaku PPK dan R.M.S selaku pihak ketiga dari SPBU ditahan Rutan Klas IIA Ambon.

Pantauan terasmaluku.com di kantor Kejari Ambon kawasan Belakang Soya, Ambon, Jumat sore, penahanan tersangka diwarnai isak tangis keluarga MYT dan LI saat digiring menuju mobil tahanan bernomor polisi DE 8496 AM.

Tersangka keluar dengan menggenakan rompi tahanan berwarna oranye menuju mobil tahanan. Tepat pukul 17:43 WIT, mobil tahanan pun meninggalkan halaman Kantor Kejari Ambon.

Kajari Ambon, Dian Frits Nalle (tengah) saat berikan keterangan terkait penahanan tiga tersangka kasus tipikor anggaran BBM armada DLHP Kota Ambon Tahun 2019. Foto : terasmaluku.com

Kajari Ambon, Dian Frits Nalle mengatakan ketiga tersangka ini ditahan penyidik Kejari Ambon selama 20 hari kedepan.

“Hari ini Penyidik teah melakukan penahanan terhadap tiga orag tersangka, inisial L.I, R.M.S dan M.Y.T,”kata Nalle di Kejari Ambon, Jumat sore sesaat setelah ketiga tersangka dibawa menuju lokasi penahanan.

Ketiga tersangka ini ditahan penyidik setelah jalani pemeriksaan sejak pukul 10:00 WIT. “Saat diperiksa masing-masing tersangka itu kurang lebih ada 53 pertanyaan,”sambungnya.

Dalam kasus tipikor ini, kata Nalle, berdasarkan hasil audit BPKP Provinsi Maluku, nilai kerugian negara akibat perbuatan tiga tersangka ini mencapai Rp. 3,6 miliar dari total anggaran sebesar Rp. 5,6 miliar.

Pasal 2 Ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2021 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. “Penahanan bisa diperpanjang,”tandasnya. (Ruzady)