Jangan Berhenti! Jangan Pasrah Oleh : Elifas Maspaitella, Sekum Sinode GPM

by
Pendeta Elifas Maspaitella, Sekum MPH Sinode GPM. FOTO : DOK. PRIBADI

Jumlah orang terinfeksi virus corona di Maluku masih menunjukkan trend kenaikan. Data tanggal 2 Juli 2020 di Provinsi Maluku, jumlah pasien mencapai 929 orang, dengan rincian ODP (114), PDP (53), Konfirmasi: Dirawat (438), Sembuh (307) dan Meninggal (17). Dari 11 Kabupaten/Kota di Maluku, hanya ada tiga Kabupaten yang nihil yaitu Maluku Tenggara, Kepulauan Tanimbar dan Kepulauan Aru. Ambon dengan angka tertinggi (702), dan Maluku Tengah (144).

Dari sebaran data itu, sebaran pada pulau-pulau dengan jangkauan transportasi terjauh seperti Maluku Barat Daya pun sudah ada. Hal ini mengindikasikan bahwa dinamika kepulauan akan menjadi tantangan tersendiri dalam penanggulangannya, sebab sebelum covid-19 kita sudah mengalami masalah dengan transportasi antarpulau, ketersediaan fasilitas kesehatan di pulau-pulau yang masih minim, serta tenaga medis (terlatih untuk menanggulangi pandemic) yang juga serba terbatas, jika mau dikatakan belum tersedia maksimal.

Tinggalkan data-data itu. Intinya, potensi kenaikan atau pertambahan masih akan terjadi, jika kita tidak meningkatkan disiplin dan ketaatan terhadap protokoler secara sungguh-sungguh. Tidak perlu lagi mendebatkan kebijakan antara Darurat Kesehatan, PSBR, PKM, PSBB, sebab kebijakan apa pun, transmisi lokal sudah terjadi di luar pengendalian kita sendiri. Apalagi perilaku masyarakat yang menolak rapid, swab, dan isolasi pun masih menggejala.

Sebab itu, dalam kondisi ini, kita perlu:

Pertama, berjuang bersama. Sebab para dokter dan tenaga medis tidak berhenti berjuang di tengah amukan kritik bahkan serangan. Jangan biarkan mereka berjuang sendiri. Kita juga harus berjuang. Mereka berjuang merawat, mengobati yang terpapar. Kita berjuang mengalahkan egoisme diri dengan jalan sadar masker, sadar cuci tangan, sadar jaga jarak, sadar berdiam di rumah saja.

Loading...

Kedua, jangan pasrah! Yang positif covid-19 bisa sembuh. Bagi saudara-saudara yang terpapar, jangan pasrah. Tumbuhkan semangat dan pengharapan, bahwa saat ini saudara-saudara sedang menjalani proses pemulihan. Akan ada waktunya, saudara-saudara pulih dan membagi cerita sukses kepada semua orang, kepada dunia, tentang bagaimana saudara-saudara menumbuhkan harapan untuk lepas dari pandemik. Kelak, saudara-saudara akan menjadi saksi bahwa pandemik ini tidak berbahaya. Kami harus mendengar dari saudara-saudara, daripada dari berbagai analisa dan pendapat yang kadang belum tentu berdasar pada pengalaman langsung.

Ketiga, Jangan berhenti! Jangan berhenti berusaha. Pemerintah harus terus berusaha. Semua elemen sosial harus terus berusaha. Sebab pandemik ini telah menimbulkan efek yang meluas di semua segmen kehidupan. Agama-agama juga tidak boleh berhenti berusaha menata diri dan memformulasi ulang orientasi beragama, untuk semakin cinta kepada kemanusiaan dan menjadikan kemanusiaan sebagai citra keagamaan tertinggi. Masyarakat pun jangan berhenti bekerja, berusaha, kembangkan kreatifitas ekonomi bukan karena kita terancam lapar, tetapi karena kita harus melakukan hal-hal positif di masa pandemik atau krisis apa pun.

Keempat, teruslah saling mendoakan! Apa pun keadaannya, doa menjadi kekuatan tersembunyi yang memompa denyut pengharapan kita semua. Jadi jangan berhenti berdoa dan mendoakan. Lakukanlah perjumpaan walau pun secara virtual, namun bila ada kesempatan mengalami perjumpaan fisik walau dengan pembatas dan masker yang lengkap, gunakan itu untuk saling mendoakan.

Kelima, selalu katakan “Kita Bisa”! Sebab kita bukan komunitas cengeng, padede. Kita adalah komunitas penyembuh yang tangguh. Kita pernah melewati krisis yang mengancam kehidupan. Jadi “kita bisa”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *