Jangan Bikin Nusa Ina Menangis Lagi Oleh : Rudy Rahabeat, Pemerhati Sosial-Budaya

by
Rudy Rahabeat

KABAR duka datang dari belantara Nusa Ina, tiga orang meninggal dunia karena kelaparan. Mana mungkin hal itu bisa terjadi. Lalu ada berita rencana pembangunan Pabrik Gula yang katanya demi kesejahteraan rakyat, padahal pangan lokal Sagu diterlantarkan.  Pekan ini bukan saja publik Maluku tapi dunia dikejutkan oleh kematian tiga orang warga Mausu di Negeri/desa Maneo Rendah Kecamatan Seram Utara Timur Kobi Kabupatan Maluku Tengah.

Bagaimana mungkin di pulau penghasil pangan terbesar di Maluku itu, ada warga yang meninggal karena kelaparan? apakah ini salah mereka sendiri atau ada soal yang lebih luas daripada itu? Pemerintah seperti panik menghadapi fakta ini, apalagi ketika media sosial memviralkan berita tragis tersebut. “Masyarakat tersebut akan direlokasi” kira-kira itu salah satu kebijakan yang mau diambil. Secepat dan sesederhana itukah?

PUTUSNYA MATARANTAI EKOLOGI

Tiga tahun lalu (2015) kawasan hutan di Seram Utara mengalami kebakaran hebat. Selain hutan hijau berubah jadi arang, tapi sekaligus mengancam keseimbangan ekosistem, termasuk masyarakat peramu-pemburu yang mendiami wilayah hutan tersebut. Entah mengapa, saat itu negara (pemerintah) tidak tuntas melihat duduk perkaranya. Seakan dengan padamnya api, maka padam pula masalahnya. Padahal, peristiwa kebakaran itu, memiliki implikasi jangka panjang, termasuk ancaman krisis pangan, yang memang terbukti hari ini.

Peristiwa kematian ini sekaligus menunjukan bahwa alam dan manusia memiliki korelasi yang tak terpisahkan. Manusia tidak bisa hidup ketika alam terancam rusak atau dirusakan. Hal ini makin terasa bagi komunitas masyarakat yang mendiami wilayah pegunungan yang menaruh harapan hidup pada berbagai hasil alam yang ada di lokasi tersebut. Ketika ekosistem terganggu, maka ancaman bencana bisa datang kapan saja. Lebih daripada itu, alam dan manusia telah merajut sebuah relasi kosmis yang tak terpisahkan. Hal ini sering menjadi problem ketika ideologi modernitas dan kapitalisme berusaha memisahkan relasi tersebut alih-alih mengeksploitasi alam untuk memenuhi nafsu tamak manusia.

Fakta-fakta miris yang terjadi dimana-mana, ketika hutan-hutan dijarah, eksploitasi sumber daya alam yang tak terkendali, pembangunan perkebunan seperti kelapa sawit dan tebu, sering menyisahkan masalah ekologis yang krusial, selain masalah sosial politik. Hal ini lagi-lagi merupakan bagian dari paradigma pembangungan yang bias tanpa memperhatikan matarantai kehidupan.

BUTUH SKEMA PENANGANAN HOLISTIK

loading...

Pramudya Ananta Toer mengatakan bahwa seringkali kita sudah tidak adil sejak dalam pikiran. Termasuk dalam kaitan ini, dalam pilihan istilah untuk menamakan suatu komunitas. Departemen sosial menggunakan istilah “masyarakat terasing”. Ada juga istilah Komunitas Adat Terpencil (KAT). Prof Koetjaraningrat mengusulkan istilah “masyarakat yang diupayakan berkembang”. Ada juga yang menyebutkan suku terasing, suku asli, bahkan suku primitif. Ditingkat negara-negara lain ragam istilah yang digunakan. Misalnya first peoples di kalangan para antropolog dan pembela, first nation di Amerika Serikat dan Kanada, indigenous cultural communities di Filipina, bangsa asal dan orang asli di Malaysia, sedangkan PBB menggunakan istilah indigenous people (Moniaga:2003). Aliansi Masyarakat Adat Nusantara menggunakan istilah “masyarakat adat”.

Kerancuan pilihan istilah sekaligus menandakan posisi ideologis dan cara pandang terhadap manusia dan lingkungannya. Orang Mausu tentu merupakan manusia yang sama dan setara dengan manusia lainnya. Mereka memiliki harkat dan martabat yang sama dengan manusia lainnya. Mereka bukan “makluk asing” yang dibaca dari kacamata orang modern dengan sejumlah streotipe dan pelabelan. Mereka memiliki “dunia” yang otonom dan otentik dan harus diakui dan dihargai.

Studi-studi antropologi dan etnografi sudah banyak tentang hal ini, termasuk bagaimana negara mesti bersikap terhadap komunitas ini. Relokasi dan kehendak untuk memperbaiki (will to improve) bahwa kehendak membuat mereka lebih maju dan modern, tentu tidak pernah relevan jika tidak benar-benar menyelami dunia dalam mereka. Olehnya, sebuah pendekatan yang empatik dan holistic perlu dipertimbangkan dengan serius. Sebab jika tidak demikian, bukan menolong mereka malah menimbulkan masalah baru yang lebih pelik.

NUSA INA KATONG SAMUA DARI SANA

Jangan sebut diri Maluku jika tidak peka dan peduli dengan masyarakat Nusa Ina. Mungkin ini suatu simplifikasi. Tapi ketika ada yang bersepaham dengan ungkapan yang dipindahkan dalam bentuk lagu “Nusa Ina Katong Samua Dari Sana”, maka jeritan dan kematian yang diamali oleh saudara-saudara kita di Maneo Rendah, dan Pulau Seram pada umumnya mesti menjadi perhatian bersama dan berkelanjutan. Aktivis kemanusiaan, Pdt Jacky Manuputty, menyatakan bahwa ungkapan rasa iba saja belum cukup.

Harus ada langkah dan tindakan bersama untuk menolong komunitas masyarakat tersebut. Jaringan kerjasama dan sinergisitas, termasuk dengan pemerintah daerah, perlu dioptimalkan. Demikian pula pemerintah mesti membuka ruang untuk berkolaborasi dengan elemen masyarakat sipil, termasuk perguruan tinggi untuk mengatasi masalah tersebut secara integral  dan komprehensif.

Dalam kaitan ini, rencana pembangunan pabrik Gula di Kabupaten Seram Bagian Barat pun mesti melibatkan masyarakat secara optimal. Sosiolog asal Maluku yang kini menjadi staf pengajar di Universitas Bosowa Makassar, Dr Faidah Azus, dalam laman fesbuknya malah menyarakankan pembangunan Pabrik Sagu ketimbang pabrik gula. Tentu ini merupakan bentuk kepedulian dan kontrol sosial, yang bersama-sama pemerintah daerah, bertujuan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Semoga tragedi di Nusa Ina tak terulang lagi. Nusa ini jangan menangis lagi. Mari bersama membangun Nusa Ina, negeri asal usul leluhur kita semua ! (RR)

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *