Jangan Menyerah di Era Corona Oleh : Dr John Ruhulessin, Ketua Palang Merah Indonesia Daerah Maluku

by
Dr John Ruhulessin. FOTO : ISTIMEWA

Kita perlu senantiasa siaga dan merawat optimisme di era pandemi covid 19 ini. Jangan karena sudah cukup lama pandemi ini berlangsung kita menjadi putus asa dan menyerah. Saya rasa kita perlu terus membangun ketangguhan total menghadapi tantangan dan kesulitan apapun, termasuk covid 19 ini. Terkait dinamika perkembangan masyarakat menyikapi pandemi saat ini, saya hendak menyampaikan empat catatan kecil.

Pertama, tetap perhatikan protokoler medis dan protokoler iman. Mestinya budaya memakai masker tidak perlu diingatkan lagi. Sebab sejak kovid merebak kita sudah diberi edukasi bahwa budaya pake masker merupakan salah satu cara efektif untuk meredam penyebaran virus, selain cuci tangan dan jaga jarak. Demikian pula saya rasa kita perlu terus menegaskan tentang pentingnya protokoler iman, selain medis. Maksud saya dengan protokoler iman yakni saling mendoakan dan saling peduli. Kita tidak bisa hadapi pandemi ini dengan kekuatan manusiawi kita saja, kita butuh campur tangan Allah dapat perjuangan mengatasi berbagai masalah yang muncul akibat masih adanya covid 19.

Kedua, hindari sikap fatalis dan apatis. Hingga saat ini ada orang yang meragukan benarkah kovid ada. Bahkan ada seorang anggota DPRD Kota Ambon belum lama ini melalui media Carang Tv Ambon berbicara dengan emosional yang meragukan bahwa kematian yang terjadi selama ini bukan karena kovid tetapi karena penyakit bawaan. Ini pernyataan anggota dewan yang beresiko. Apakah yang bersangkutan sudah memiliki data yang valid soal ini, atau hanya sebuah pernyataan politik yang bisa memicu polemik di kalangan masyarakat. Kita mestinya lebih arif dan bijak menggulirkan sebuah wacana, apalagi kita kita memegang jabatan publik.

Jumlah kematian dokter yang lebih dari seratus orang itu mestinya membuat kita semakin waspada terkait penyebaran dan ancaman virus ini. Masyarakat juga jangan pasrah pada keadaan apalagi mengabaikan protokoler yang ada. Kita perlu saling mengingatkan untuk bersama-sama menjaga dan merawat kehidupa ini. Apa yang kita lakukan bukan saja berpengaruh pada diri sendiri tetapi juga berpengaruh kepada keselamatan orang lain. Ini problem kemanusiaan, bukan soal individu semata.

Loading...

Ketiga, perlunya teologi kematian. Spesies manusia saat ini sedang mengalami ancaman yang serius akibat serangan virus kovid ini. Kematian akibat covid sungguh meninggalkan duka yang mendalam. Berita tentang keluarga pasien yang wafat karena kovid memiliki keterbatasan akses kepada jenazah. Demikian pula ada tindakan mengambil jenazah korban kovid dari pihak keluarga. Ini bukan saja fenomena sosiologis melainkan juga fenomena teologis. Apa pandangan teologi tentang kematian dan bagaimana menyikapi kematian akibat covid 19 ini.

Pandangan-pandangan teologi tentang kematian perlu terus dikembangkan, sehingga orang memiliki suatu wawasan yang memadai ketika menghadapi realitas kematian yang diakibatkan oleh covid 19. Dalam kaitan ini, pemerintah perlu juga memperhatikan dengan cermat bagaimana protokoler yang tepat ketika seorang meninggal dan dimakamkan ketika divonis karena kovid 19. Masyarakat beragama juga perlu membangun sikap iman yang tepat ketika menghadapi kematian itu.

Keempat. Perkuat solidaritas sosial dan transparansi. Berbagai polemik muncul antar lain soal penggunaan dana penanganan kovid 19. Sebenarnya hal ini tidak akan muncul jika proses komunikasi dan transparansi penggunaan dana publik untuk mengatasi kovid dapat diakses dengan baik oleh masyarakat. Kita harus berpikir positif dan tidak mudah berprasangka buruk. Demikian pula kepercayaan publik kepada mereka yang diberi mandat untuk mengatasi kovid termasuk soal pendanaan perlu bijak dalam menjalankan fungsi dan tanggungjawabnya.

Pada sisi lain, kita perlu terus memperkuat solidaritas sosial. Akibat covid ini banyak orang mengalami kesulitan hidup. Maka adalah baik jika kita saling berbagi kepedulian. Kita tidak hanya mencari keselamatan sendiri. Kita mesti mengembangkan spiritualitas dan solidaritas kemanusiaan yang inklusif. Apapun agama, suku, budaya dan latar belakang seseorang, kita tetap harus saling peduli dan saling mengasihi. Saya yakin jika solidaritas sosial kita makin kuat dan moralitas etik kita makin baik, maka pandemi kovid ini dapat kita atasi dan lalui. Marilah kita terus merajut silaturahmi dan persekutuan untuk kemaslahatan dan kebaikan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *