Jenazah Pahlawan Kemerdekaan Alexander Jacob Patty Dipindah ke Ambon

by
Pahlawan kemerdekaan Alexander Jacob Patty (MTVN/Roni)

BANDUNG_Kerangka jenazah pejuang Kemerdekaan Indonesia asal Maluku, Alexander Jacob Patty, dipindahkan. Pemindahan dilakukan dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pandu Bandung ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kapahaha, Ambon, Maluku oleh Pemerintah Provinsi Maluku Rabu, 22 Maret 2017.

Proses pemindahan kerangka almarhum Patty dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, Sartono Pinning serta keluarga serta ahli waris. Menurut Sartono, proses pemindahan Patty sebagai upaya untuk menghormati segala jasanya dengan cara mendekatkan ke kampung halaman. Hal itu pun dilakukan agar masyarakat Maluku bisa berziarah dan mendoakan secara langsung di depan makam Patty.

“Ini keinginan masyarakat Maluku agar makam beliau dipindahkan ke sana. Untuk menghormati dan mendekatkan ke beliau ke tempat tinggalnya dulu,” kata Sartono di TPU Pandu, Jalan Pandu, Kota Bandung, Rabu, 22 Maret 2017.

Patty merupakan salah satu pejuang Republik Indonesia yang turut serta dalam meraih kemerdekan saat dijajah oleh Belanda. Patty merupakan pejuang asli asal Maluku yang lahir pada 15 Agustus 1901 di Desa Nooth, Ambon dan meninggal pada 15 Juli 1947 di Bandung.

Sartono mengatakan, kerangka Patty akan langsung dibawa ke Ambon menggunakan jalur udara pada Rabu malam dan tiba di Ambon pada Kamis pagi. Pemprov Maluku sudah menyiapkan tempat dan langsung akan dilakukan proses pemakaman saat tiba.”Ini untuk mendekatkan juga kepada masyarakat di Ambon,” ujar Sartono.

Proses pembongkaran makam dan pemindahan kerangka Patty berlangsung lancar. Sebanyak tiga penggali kubur pun bergantian untuk mencangkul tanah hingga diangkatnya kerangka Patty. Patty dilahirkan di Desa Noloth pada 15 Agustus 1901. Ada pula yang menyebutnya Patty lahir 30 September 1890 di Pulau Banda. Ia merupakan pendiri Sarekat Ambon yang didirikan pada 9 Mei 1920 di Semarang.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya pada Saparoeasche School di Kota Saparua, melanjutkan studi ke Surabaya, kemudian memasuki sekolah kedokteran Nederlandsche Indische Aartsens School (NIAS). Ia tidak senang dengan pemerintahan Belanda karena politik diskriminasi terhadap militer asal Ambon yang tergabung dalam KNIL.

Patty dituduh berbahaya oleh pemerintah Belanda, padahal rakyat simpatik pada Sarekat Ambon. Karena dituduh melanggar hukum (adat) dan menghasut rakyat, ia ditangkap dan ditahan oleh Asisten Residen. Kemudian dibawa ke Makassar dan diadili oleh Raad van Justitie.

Setelah dihukum, ia diringkus ke Bengkulu, selanjutnya diasingkan ke Boven Digul, Papua hingga pecah Perang Dunia II. Pada masa Jepang, dia dapat meloloskan diri ke Australia dan saat revolusi kemerdekaan, berjuang bersama Bung Karno dalam mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Negara Kesatuan RI. Sejumlah referensi menyebut Patty meninggal di Bandung pada 15 Juli 1947, namun ada juga yang menyebutkan ia meninggal pada 1957. (Metrotvnews.com)