John Titaley, Pentingnya Transformasi Agama dan Kebangsaan di Indonesia (Dari Kuliah Online Perdana Pascasarjana UKIM)

by
Prof John Titaley, pengajar program Doktor Agama dan Kebangsaan UKIM Ambon. FOTO : DOK. PRIBADI

Memahami Indonesia membawa kita pada pandangan tentang karakter negara ini. Indonesia merupakan sebuah realitas negara majemuk dengan kepelbagaian yang ada dalam setiap elemen: suku, rasa, agama, dan bahasa. Masalah kerap muncul, karena identitas nasional menghendaki inklusisivitas, sementara identitas primordial berpotensi membuat seseorang, atau sekelompok masyarakat menjadi eksklusif. Ketegangan ini harus diurai, dan solusi yang ditawarkan setidaknya dua hal; dekonstruksi cara baca terhadap teks keagamaan dan memahami bahwa Indonesia juga merupakan bagian dari pekerjaan Tuhan (halaman.vi)

Deskripsi pengantar buku berjudul Berada Dari Ada Walau Tiada di atas dibacakan kembali sebagai bentuk penegasan oleh Prof Dr Thomas Pentury, Dirjen Bimas Kristen Kementriaan Agama RI saat memberi sambutan pada acara bedah buku karya Prof John Titaley (JT) sekaligus menandai kuliah perdana pascasarjana UKIM Ambon (10/9/2020). Menurutnya persoalan agama dan kebangsaan saat ini membutuhkan pemikiran-pemikiran yang cerdas dan memberi solusi. Ia mengapreasi acara ini dan mendorong lahirnya gagasan-gagasan baru dan buku-buku baru. “Acara seperti ini harus menjadi tradisi dalam dunia akademik. Ada buku baru yang ditulis dan ditelaah untuk kepentingan pengembangan ilmu maupun menjawab persoalan masyarakat” ungkap mantan Rektor Unpatti Ambon ini. Pikiran ini diamini oleh Rachel Iwamony, Ph.D Direktur pascasarjana UKIM saat memberikan arahan pembuka.

Prof John Titaley dalam presentasinya menegaskan bahwa Indonesia mesti dilihat sebagai konteks berteologi dan beragama. Indonesia sebagaimana yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 dengan UUD 1945 dan Pancasila sebagai pilar-pilar kehidupan berbangsa dan bernegara. Pertanyaan serius bagi kita adalah Indonesia macam apa yang sedang kita perjuangkan saat ini? Menurut Titaley, titik tolak kita adalah Indonesia sebagaimana dirumuskan pada pembukaan UUD 1945, yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan menjamin hak-hak tiap-tiap warga bangsa dan negara. Dalam kaitan ini, Prof John Titaley menekankan pentingnya sikap keterbukaan para ilmuan dan masyarakat untuk melakukan transformasi terhadap teks maupun konteks yang ada. “Saya lebih suka menggunakan kata transformasi ketimbang kata perubahan. Sebab kata transformasi mengandaikan adanya kesinambungan dan pengayaan” ungkap mantan Rektor UKSW Salatiga itu.

Loading...

Pdt Dr Etta Hendriks-Ririmasse dalam tanggapannya terhadap buku John Titaley terkait dengan posisi teks-teks Kitab Suci berpendapat bahwa teks-teks tersebut mesti ditafsir dan dikontekstualisasikan. “Misalnya teks-teks yang ditulis dalam budaya patriakhal perlu ditafsir dalam semangat inklusif dan egalitarian, ungkap Dr Etta yang juga merupakan salah satu staf pengajar S3 UKIM. Penanggap lain Pdt Dr John Ruhulessin mengkritisi pentingya mempertimbangkan suara-suara lokal dengan sungguh-sungguh dan tidak terpasung oleh ideologi nasioalitas yang berpotensi menghilangkan lokalitas itu demi memenuhi selera nasionalitas. “Pembukaan UUD 1945 dapat dimaknai pengakuan iman Indonesia” tulis Pdt Rico Rikumahu, salah seorang mahasiswa S2 UKIM yang berpartisipasi dalam acara ini.

Dua orang hadir sebagai pembedah buku masing-masing Pdr Dr Ronald Helweldery, dosen STT Fak-Fak dan Pdt Rudy Rahabeat, pendeta GPM. Acara ini diikuti oleh seratus peserta yang berasal dari Ambon dan luar Ambon, para mahasiswa, dosen, pendeta, aktivitas, termasuk mahasiswa pascasarjana UKIM angkatan 2020 S2 teologi berjumlah 12 orang dan S3 Agama dan Kebudayaan 10 orang yang berasal dari Ambon maupun luar Ambon. Acara ini dimoderatori oleh Syafiq Soulissa, dosen IAIN Ambon yang juga sedang melanjutkan studi S3 di Program Agama dan Kebangsaan UKIM. Buku yang terdiri atas dua belas bab dieditori oleh Dr Teddy Kholuludin, dan diterbitkan oleh Lembaga Studi Agama Sosial dan Agama (eLSA Press), Semarang, 2020 dan diberi kata Pengantar oleh Sumanto Alqurtuby, murid JT yang kini mengajar di Jabal Dhahran Jaziarah Arabia.

“Sebagai gagasan-gagasan kunci terkait tema agama dan kebangsaan dalam buku ini tentu dibutuhkan diskusi, kritik dan kajian lebih lanjut, khususnya dari para mahasiswa pascasarjana” pungkas Iwamony, Direktur Pascasarjana UKIM pada penutupan acara. Satu yang hampir dapat dipastikan, kuliah perdana ini telah memberi stumulasi awal dan kegelisahan intelektual untuk terus menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan membangun bangsa serta peradaban. (Rudy Rahabeat, Kontributor Terasmaluku.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *