JUMAT AGUNG DAN KORONA Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

SALIB-salib kecil, sedang dan besar berjejer di ruas kiri kanan jalan. Pada malam hari cahayanya berpendar warna warni. Suasana hening dan sunyi. Tak banyak orang lalu lalang. Mereka memilih tinggal di rumah, stay at home. Di rumah juga ada salib yang menyala, termasuk di hati orang percaya. Pesan di balik salib itu adalah pengorbanan. Ada seorang pribadi yang rela tergantung di salib itu, di bukit Golgota. Ia mati dalam perih. Ia taat dalam totalitas kepada Sang Bapanya. Dialah Yesus, yang pada suatu malam mengedarkan roti dan anggur kepada para muridNya sembari berkata “inilah tubuhKu dan darahKu, yang dikorbankan untuk keselamatan umat manusia dan dunia”.

Untuk mengenang malam sakral itu, gereja di sepanjang masa melayankan Perjamuan Kudus pada sebuah hari Jumat yang agung. Hanya saja, virus korona bikin cerita berwarna. Sebut saja Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) menunda pelaksanaan Perjamuan Kudus di Jumat Agung, menunggu sampai badai korona reda. Beberapa gereja lainnya tetap melaksanakan via media online. Gereja Protestan Maluku (GPM) memilih melayankannya pada masing-masing keluarga (perjamuan rumah). Berikut lima catatan sederhana saya.

Pertama, merayakan keragaman pilihan. Setiap gereja menentukan pilihan sesuai konteks dan pertimbangan masing-masing. Tak usah saling menyalahkan. Saling belajar itu lebih baik. Setiap putusan punya plus minusnya. Memang salah satu faktor penentu, jika tidak hendak dikatakan satu-satunya faktor adalah pandemik korona. Gereja menghindari perjumpaan orang dalam jumlah banyak demi memutuskan mata rantai penyebaran virus korona. Olehnya masing-masing gereja punya cara untuk meresponi itu.

Kedua, spirit melayani para pelayan. Selain pendeta, penatua dan diaken adalah garda terdepan pelayanan perjamuan kudus rumah. Mereka akan melawat umat dari rumah ke rumah, mengantar roti dan anggur. Mereka perlu diperlengkapi dengan alat pengaman kesehatan; masker, sarung tangan, hand sanitizer, dan seterusnya. Mereka harus waspada tapi jangan sampai panik. Mereka diperkuat secara spiritual, mata iman mereka tertuju pada salib Kristus, pada kuasa dan kasih Kristus. Itu membuat pelayanan mereka menjadi pelayanan sukacita dan kegembiraan iman. Sebab tak semua hal bisa dijelaskan oleh akal manusia.

Loading...

Ketiga, partisipasi umat dalam kesadaran medik. Keluarga-keluarga yang merayakan perjamuan kudus di rumah mesti tetap memperhatikan protokoler kesehatan medis. Jangan sampai lalai apalagi abai. Anak-anak juga ikut ibadah Jumat Agung. Mereka melihat akta berbagi roti dan anggur, mereka pasti belajar dari papa dan mamanya. Kelak mereka juga dapat menikmati hidangan kasih di meja perjamuan itu dalam sebuah perjamuan keluarga.

Keempat, mencatat pengalaman bersama. Berhubung ini perjamuan perdana di rumah keluarga atau secara online, maka penting mencatat hal-hal penting yang ditemui, termasuk kendala-kendala yang dihadapi. Misalnya, apakah makna perjamuan di rumah dan di gereja punya nuansa berbeda? Apakah secara teknis ada banyak kesulitan yang dihadapi, baik oleh pelayan maupun umat. Apa saja yang perlu diperhatikan ke depan. Catatan-catatan ini penting untuk menentukan arah baru ketika badai korona reda dan pelayanan yang normal kembali. Apakah saja pelajaran dan pola baru yang bisa digunakan untuk pengembangan dan transformasi pelayanan.

Kelima, solidaritas dan akta kasih. Inti perjamuan kudus adalah pengorbanan berlandaskan kasih demi kebaikan seluruh ciptaan. Ia bukan sebuah ritual periodik semata. Ia mengantar umat pada penghayatan dan pengenalan terdalam akan Kristus. Ini menjadi momen pembaruan diri, peneguhan iman serta momen untuk terus berbagi solidaritas dalam kata dan perbuatan. Yesus tidak lari dari dunia ini. IA datang untuk membarui dan menyelamatkan dunia ini. Olehnya, sebagai pengikut Kristus, kita mesti mengalami pengalaman mistik sekaligus tindakan praktis untuk saling berbagi harapan, berani berkorban dan terus menyalakan kasih di sepanjang dalam kehidupan. Dunia penuh tantangan, termasuk badai korona yang datang. Tapi dalam iman kita percaya, badai itu akan berlalu.

Di samping salib-salib itu, pada setiap taman Paskah, ada sebongkah batu yang terguling. Tiga hari setelah Jumat Agung itu, kubur terbuka. Yesus sudah bangkit. Itulah berita gembira. Berita yang membebaskan. Terbit sebuah doa dan harapan; korona segera reda. Selamat Jumat Agung. Selamat merayakan solidaritas tiga sisi dalam korona (lingkaran, mahkota) kasih; Allah dan manusia, manusia dan manusia serta semesta ciptaan. (RR).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *