Kadinkes Aru : Kalau Bukan Kita Yang Memutus Mata Rantai Covid, Siapa Lagi

by
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Aru, dr. Yunita O. Uniplaitta. Foto: Istimewa

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Aru, Nita Uniplaitta menegaskan Tenaga Kesehatan menjadi garda terdepan dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Olehnya itu penerapan protokol kesehatan oleh Tenaga Kesehatan baik itu di Rumah Sakit maupun Puskesmas adalah satu hal yang wajib terutama dalam hal pemakaian masker.

Loading...

Bahkan, jika ada pegawai yang tidak bermasker saat masuk kantor, kata dia tidak diizinkan masuk. Begitu juga dengan masyarakat, jika ingin datangi Rumah Sakit ataupun Puskesmas, wajib pakai masker.

“Untuk memutus mata rantai memang harus seperti itu, kalau tidak kita yang memutus maka siapa lagi. Karena orang kesehatan adalah gugus terdepan yang berhadapan dengan pasien. Bahkan kalau di RS kalau tidak bermasker tidak bisa , harus pakai masker, begitu juga (pegawai) mau masuk kantor harus bermasker, kalau tidak disuruh pulang,”katanya saat dihubungi Terasmaluku.com via seluler, Selasa (24/11/2020).

Terkait sosialisasi Prokes khususnya penerapan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak kepada masyarakat di Aru, dia mengakui sampai kini masih terus dilakukan, baik itu melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Dinas Kesehatan, Puskesmas hingga melibatkan tokoh-tokoh agama.

Apalagi mengubah perilaku masyarakat itu bukanlah perkara mudah, tetapi mereka tidak bersemangat dan tidak menyerah. “Sosilisasinya masih tetap diserukan kepada masyarakat untuk pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak dan hindari kerumunan. Secara teoritis kita merubah perilaku masyarakat itu kan tidak gampang, sehingga yang sekarang ini kita sosialisasi juga melalui masjid, gereja dengan melibatkan tokoh-tokoh agama, himpunan-himpunan untuk serukan dan beri himbauans sehingga didengar oleh masyarakat,”sambungnya.

Berdasarkan analis Dinkes Kepulauan Aru sendiri, diakuinya sejauh ini ada perubahan perilaku masyarakat di Aru dalam hal penerapan prokes.

“Ada perubahan, kalau awal-awal itu memang susah tapi dengan sendirinya mulai ada perubahan meski ada satu dua yang masih abai, terapkan prokes belum sesuai tata cara yang benar seperti maskernya hanya diletakkan di bawah dagu, padahal harus dari batang hidung sampai bawah dagu. Sering ada yang begitu mungkin kebosanan atau rasa panas dan merasa biasa-biasa, padahal kita yang lain sangat ketakutan. Tapi sosialisasi terus kita lakukan,”tandasnya. (Ruzady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *