Kakatua Statusnya Terancam Punah Dari Hutan Maluku

by
Populasi Kakatua kian kritis akibat marak perburuan dan penjualan liar. Burung endemik Maluku itu perlu dijaga dan dikembalikan ke habitatnya. FOTO: Dok. BKSDA Maluku

TERASMALUKU.COM,AMBON– Burung endemik Maluku diambang kepunahan. Perburuan liar, pasar gelap serta pembabatan hutan membuka lebar pintu bagi orang Maluku kehilangan salah satu ciri khas dan kebanggaannya. Kakatua dan nuri, jenis burung paruh bengkok keberadaannya kian kritis.

Di Indonesia terdapat 25 jenis satwa liar yang terancam punah (endangered species). Berdasar data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) red list ada 25 jenis burung atau aves, tiga diantaranya masuk kategori terancam punah.

Yakni burung Gosong Maluku Eulipoa wallacei yang berkerabat dengan Maleo. Populasinya kini tersisa 136 ekor. Burung Kakatua Seram Salmon-crested cockatoo dengan populasi tersisa 4.414 ekor serta kasturi Tengkuk Ungu atau Nuri Kepala Hitam Lorius lory populasinya 3.725 ekor. Ada juga tiga Jenis burung lain yang hanya bisa kalian jumpai di Maluku. Yakni Kakatua Tanimbar, Kakatua Jambul Oranye dan Kasturi Ternate. Burung-burung khas Maluku itu mendiami sebagaian besar hutan dan taman nasional. Itu menjadi rumah besar bagi mereka hidup dan berkembang biak.

Modus penyelundupan kakatua dimasukan ke dalam pipa paralon atau ke botol

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Maluku (BKSDA) Provinsi Maluku Mukhtar Amin Ahmadi menyebut praktik penangkapan dan penjualan satwa liar dari Maluku kian marak. Itu berpengaruh besar pada populasi serta keanekaragaman satwa khas. “Memang betul terancam punah. Kasus yang paling banyak itu burung kakatua dan nuri, ya jenis paruh bengkok,” sebutnya kepada Terasmaluku.com di ruangnnya, Kamis (31/1/2019).

Tahun lalu, BKSDA berhasil menyelamatkan 1.177 ekor jenis burung dari 80 kasus peredaran tumbuhan satwa liar (TSL). Dari jumlah itu paling banyak merupakan jenis kakatua dan nuri. Menurut Amin, pasar gelap dalam dan luar negeri lebih menyenangi jenis burung paruh bengkok lantaran mudah diajari.

Burung-burung khas Maluku itu memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Jenis makanannya pun mudah, seperti aneka buah topis. Faktor itu jelas membikin harga jual mereka di pasar tinggi. Ada pula masyarakat yang dengan sukarela membawa burung-burung itu untuk dilepas liarkan di alam.

Status hampir punah yang dikeluarkan itu sebagai salah satu alat untuk melindungi mereka di habitat asli. Namun di lain sisi Amin menyadari status tersebut malah membuat harga jual mereka di pasar melambung. “Ya kalau makin langka orang makin cari dan harganya tinggi. Karena itu kita gencar penjagaan di berbagai pintu,” terang mantan Kepala seksi Penyidik PNS dan Polhut Ditjen KSDAE pusat.

Sejumlah petugas lapangan di berbagai wilayah terus disiagakan dan rutin berpatroli. Tak terkecuali pada titik-titik rawan seperti di Taman Nasional Manusela dan Sawai. Hamparan hutan luas dan lebat di sana merupakan habitat para burung endemik Maluku. Masyarakat kerap melakukan perburuan liar meski sekarang mulai berkuruang. Titik lain yang rawan yakni 45 pelabuhan dan 24 bandara se-Maluku dan Maluku Utara.

Masyarakat hulu atau yang tinggal sekitar habitat satwa liar pun diperkuat dengan berbagai keterampilan. Mereka yang tadinya pemburu kini beralih jadi pemantau satwa di tempat rehabilitasi. Seperti saat wartawan ke lokasi rehabilitasi di Desa Masihulan Seram Utara.

Seorang petugas di canopy pemantau satwa dulunya adalah pemburu. Dia menjual burung-burung kepada penadah yang kemudian dikirim ke Pulau Jawa. “Kita kasih pengertian, latih keterampilan yang bisa datangkan penghasilan. Mereka itu yang membantu tugas kami di lapangan,” ujar Amin.

Penjagaan satwa liar ini bakal terus digencarkan. Mereka harus dikembalikan ke habitat asli demi menjaga kelangsungan populasi dan keanekaragaman fauna di Maluku. Dia menyebut orang dari luar negeri bahkan rela datang ke Maluku demi hanya melihat satwa-satwa cantik itu berada di habitatnya.

Semenatar masyarakat kita sibuk berburu dan menjual. Dia berharap orang di Maluku dapat merubah pola perilaku, dan berhenti menjual satwa liar. Kakatua dan Nuri hanya sebagian kecil dari jenis-jenis satwa liar khas di alam. Itu merupakan kebanggaan serta identitas yang wajib dijaga. (PRISKA BIRAHY)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *