Kampung Pemulihan (3), Pola Hidup Baru Oleh : Pdt Elifas Maspaitella, Sekum Sinode GPM

by
Pdt Elifas Maspaitella. FOTO : DOK. PRIBADI

KITA akan memasuki masa yang dinamakan “new normal” atau pola hidup baru. Tatanan dunia, bergereja, sosial dan organisasi sosial pun harus mengembangkan “pola hidup baru” agar bisa menjadi signifikan dalam kehidupan dunia dan masyarakat manusia.

Setelah mendiskusikan “kepemimpinan lokal”, maka aspek penting dalam kepemimpinan itu adalah usaha membangun pola hidup baru. Sebab kampung pemulihan atau komunitas penyembuh itu adalah suatu lingkungan sosial di mana setiap orang mengalami pertumbuhan, perkembangan dan pemulihan secara psikhis dan rohaniah (spiritual). Dalam pola hidup baru, setiap orang harus memiliki kesadaran yang tinggi tentang kesehatan dirinya. Setiap keluarga mesti membangun perilaku hidup bersih dan sehat dalam rumahnya. Setiap kampung harus membangun infrastruktur yang menopang perwujudan pola hidup baru tersebut.

BACA JUGA OPINI : Kampung Pemulihan (3) : Kepemimpinan Lokal Oleh Pdt Elifas Maspaitella, Sekum Sinode GPM

Pandemik covid-19 telah berhasil “memaksa” dunia masuk ke tatanan hidup baru. Dan di sini kita harus mengakui bahwa tatanan hidup baru itu adalah tatanan hidup sehat dan sebagai tatanan maka kesadaran diri manusia menjadi faktor yang sangat penting. Sebab suatu tatanan bisa bertahan dalam satu era atau menjadi suatu orde, bila kesadaran diri manusia itu terbangun untuk benar-benar mengembangkan tatanan tersebut. Jadi di sini, pola hidup baru bukan sekedar untuk bertahan hidup (survive) melainkan kemampuan untuk mengembangkan kehidupan yang berkelanjutan. Beberapa pakar berpentapat bahwa memasuki “new normal” itu kita bukan menyerah terhadap covid-19 tetapi menyesuaikan diri di dalam covid-19. Proses menyesuaikan diri itulah yang menjadi alasan pentingnya membangun pola hidup baru.

Kembali ke KP. Pola Hidup Baru di sini antara lain: pertama, berdamai dengan diri sendiri. Sebab dalam masa pandemik terjadi perubahan psikologis. Beberapa istilah seperti cabin fever, neurosis mind, dll menggambarkan bahwa orang cenderung cepat marah karena ruang komunikasi dan interaksi sosialnya menjadi sempit ~padahal sebenarnya kita kembali ke ruang sosial utama yaitu keluarga. Ada yang cepat takut dan panik sampai-sampai tidak mau bertemu dengan siapa pun, tidak menerima tamu, cemas dengan berbagai berita (termasuk ”menelan mentah-mentah semua hoax”). Saat ini, kita sudah harus bisa berdamai dengan diri sendiri, bahwa kita bisa mengatasi penyebaran covid-19.

Loading...

Kedua, menerima saudara yang terpapar sebagai bagian dari diri dan lingkungan. Ini sudah dibahas dalam diskusi tentang menghilangkan stigma.

Ketiga, membangun pola hidup bersih dan sehat (PHBS) atau selalu cuci tangan pakai sabun (CTPS) di air mengalir. Ini adalah standar protokol kesehatan yang sebenarnya menjadi budaya masyarakat di dunia, tetapi sering diabaikan. Menganjurkan hal ini sebagai pola hidup baru sama dengan merevitalisasi nilai dan perilaku berbudaya yang harusnya dihidupkan semua orang di semua komunitas/bangsa.

Keempat, membangun infrastruktur dengan standard sadar covid-19 di lingkungan masing-masing, misalnya tempat cuci tangan umum di setiap Lorong/gang, di depan sarana-sarana publik termasuk kios milik keluarga dan di depan setiap rumah. Selama ini sarana tersebut hanya ada di ruang makan atau dapur, tetapi kini sudah harus menjadi salah satu sarana vital di depan rumah, karena mencuci tangan bukan hanya untuk makan tetapi untuk bersosialisasi (kelak).

Kelima, kondisi “new normal” itu baru akan berlangsung efektif bila telah ditemukan vaksin, dan para pakar memperkirakan pada tahun 2021. Dengan demikian saat ini kita sudah harus membiasakan diri melaksanakan pola hidup baru tersebut. Di dalam pelaksanaannya perlu ada pengawasan juga. Di beberapa lingkungan, orang membangun portal pada jalan masuk-keluar Lorong atau kampung.

Yang menarik adalah pada portal itu ada tulisan “wajib pakai masker, silahkan turun untuk cuci tangan”. Pada awal penerapannya tentu ada banyak masalah termasuk pertengkaran mulut, dan bentuk lainnya. Itulah sebabnya mengapa penting pengawasan. Di situlah maka pada bagian sebelumnya, peran pemimpin lokal menjadi penting. Tetapi saya yakin, kita sendiri harus menjadi pengawas bagi diri sendiri dalam kebijakan baru ini. Sebab itu saya pun percaya, saatnya portal-portal itu akan dibongkar, karena kesadaran diri kita semakin terbentuk, lalu kita akan menjadi sadar bahwa untuk saling menopang, setiap kita pergi ke lingkungan tertentu kita akan mematuhi semua protocol kesehatan dalam era “pola hidup baru” (new normal) ini.

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *