Kantor Bahasa Maluku, Usul 4.000 Kosakata ke KBBI

by
Diseminasi Program Pengayaan Kosakata KBBI di LPMP Maluku, Wailela Ambon, Kamis (26/4). FOTO BIR : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Kantor Bahasa Provinsi Maluku tercatat sebagai pengusul kosakata terbanyak se Indonesia. Kantor Bahasa mengusulkan ribuan kosakata daerah Maluku sebagai pertimbangan untuk menambah kekayaan bahasa. Pada 2018 kosakata yang diusulkan Kantor Bahasa sebanyak 4.000 kosakata. Jumlah tersebut termasuk yang paling banyak dan alami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Kepala Kantor Bahasa Provinsi Maluku, Dr Asrif mengatakan jumlah itu adalah yang terbanyak dibanding provinsi lain. Bahkan sebagian dari jumlah itu merupakan usulan masyarakat. “Menariknya 1.500 itu adalah usulan masyarakat lho. Mereka juga berpartisipasi dalam pengusulan,” terangnya saat menjadi pembicara Diseminasi Program Pengayaan Kosakata KBBI di LPMP Maluku, Wailela Ambon, Kamis (26/4).

Menurutnya kosakata yang diusulkan bersumber dari berbagai hal yang ada. Dia mencontoh, dalam satu pasang busana atau atribut daerah bisa menghasilkan puluhan kosakata. Begitu pula pada alat musik. Tiap bagian memiliki bahasa daerahnya. Asrif mencontoh buah coklat di Negeri Sawai, Maluku Tengah memiliki sebutan atau nama berbeda pada tiap masa pertumbuhan. Mulai dari buah yang baru keluar, buah kecil hingga yang sudah matang, punya sebutan berbeda.

Hal itulah yang menambah kekayaan kosakata Indonesia yang diusulkan ke pusat. “Jumlah kosakata di KBBI hanya 91.000. Bila banyak usulan yang masuk bisa memperkaya kosakata,” lanjutnya.  Data yang diperoleh Kantor Bahasa, pada 2016 Kantor Bahasa mengusulkan 1324 usulan, 931 yang dikirim ke Badan Bahasa dan 776 yang diterima untuk dibahas kembali. Sementara ada 2017 usulan meningkat menjadi 2980 usulan lebih.

Nita Handayani Hasan, staf teknis Kantor Bahasa Maluku, koordinator program pengayaan kosakata KBBI menyebut kosakata daerah banyak dipengaruhi oleh bahasa asing. Bahkan tiap daerah memiliki koasakata sendiri. Hal itulah yang mendorong pihaknya kian gencar menjaring banyak kosakata baru di masyarakata. Sumber kosakata pun beragam. Mulai dari budaya, istilah maritim, agraris, makanan, konsep, serta ungkapan.“Kata yang diterima nantinya akan melalui proses editing lagi dan sidang redaksi untuk membahasnya,” lanjut Nita.

Dia menyebut, tiap kali turun ke daerah untuk mengumpul data pihaknya pasti menyosialisasi hal tersebut kepada warga. Tujuannya agar mereka juga ikut berpartisipasi mengusulkan kosakata. Tentu dengan syarat agar bisa diterima dalam KBBI. Yakni, harus bersifat unik, sesuai kaidah Bahasa Indonesia, eufonik atau sedap didengar, frekuensi penggunaan tinggi, serta berkonotasi positif.

Berdasar data yang dikumpulkan kantor bahasa, sebanyak tujuh kosakata yang masuk KBBI IV. Kosakata tersebut dihimpun dari sumber media cetak koran. “Sayangnya kami belum tahunpasti kata apa sebab diusulkan oleh staf kantor bahasa sebelumnya. Tapi akan kami data kata apa saja agar bisa dipunlikasikan,” jelasnya.

Faradika menunjukkan usulan kosakata di KBBI Daring

Namun di sisi lain Nita menyadari ada banyak hambatan dalam mengumpulkan kosakata. Rendahnya kontribusi masyarakat, kurangnya staf editorial, verifikasi yang memakan waktu serta kata yang diusulkan banyak dipahami oleh penutur jati.

Salah satu upaya untuk mempopulerkan kosakata yakni dengan sering mengulas atau memasukan kosakata daerah dalam tulisan. “Hal ini bisa digunakan oleh jurnalis. Jadi dalam tulisannya bisa dimasukan tuh kosakata daerah biar sering muncul dalam pencarian dan terbaca di Corpus,” saran Nita.

Dalam kegiatan diseminasi, puluhan peserta pun langsung diajarkan menginput kata pada KBBI Daring. Faradika Darman, seorang peserta yang pernah menginput kosakata. “Beta su usul 154 kosakata. Belum ada yang keterima tapi semua disertai penjelasan biar tahu,” sebut perempuan 26 tahun itu. Kosakata tersebut diperoleh dari daerah Kei, Sepa hingga Tamilou, Pulau Seram. Bila telah terdaftar dalam KBBI, tiap  yang diusulkan akan diberi penjelasan mengenak tahapan verifikasi oleh Badan Bahasa. (BIR)