Kapolres Buru dan Dandim Dihadang Ratusan Penambang Ilegal Gunung Botak

by
Kapolres Pulau Buru AKBP Aditya B Satrio dan Dandim 1506/Namlea Letkol Kav Sindhu Hanggara berjalan kaki ketika dihadang ratusan penambang ilegal saat menuju lokasi tambang emas Gunung Botak Kabupaten Buru, Kamis (15/2). FOTO : DOK. KAPOLRES BURU

TERASMALUKU.COM,-NAMLEA-Kapolres Pulau Buru AKBP Aditya B Satrio dan Komandan Kodim (Dandim) 1506/Namlea Letkol Kav Sindhu Hanggara dihadang ratusan penambang ilegal dan sejumlah orang yang mengatasnamakan adat  di Jalur H Kawasan Wamsait, saat menuju lokasi tambang emas Gunung Botak Kabupaten Buru, Kamis (15/2).

Penambang ilegal memblokir ruas  jalan di kawasan itu  sehingga Kapolres dan Dandim bersama 144 personil gabungan TNI/Polri dan Satuan Polisi Pamong Praja Satpol PP Kabupaten Buru tidak bisa menuju Gunung Botak. Sebagian penambang menggunakan senjata tajam, dan penambang juga menggelar aksi protes kedatangan Kapolres, Dandim dan rombongan ke kawasan Gunung Botak.

Aparat keamanan sempat memukul mundur penambang hingga ke Pos Jalur H Wamsait  dekat kawasan Gunung Botak namun karena jumlah penambang ilegal  bertambah, Kapolres dan Dandim membatalkan rencana mereka ke Gunung Botak. Langkah ini juga dilakukan untuk  mencegah benturan dengan warga serta penambang.

Apalagi menurut  Kapolres hasil negosiasi pihaknya,  penambang bersedia turun dan membersihkan  kolam rendaman, lokasi pengolahan emas secara illegal di Gunung Botak paling lama satu pekan ini. Kapolres mengungkapkan,  apa yang dilakukan pihaknya adalah bentuk penegakan hukum terhadap  pelaku atau penguna atau   penambang emas tanpa izin yang menggunakan merkuri dan  sianida di kawasan Gunung Botak.

 

Aksi protes penambang

“Sampai pada satu titik di Pos Wamsait, kami benar-benar dihadang oleh sebagian besar penambang dan sejumlah orang yang mengatasnamakan orang adat. Kami  menyampaikan ke mereka, kami ke atas (Gunung Botak)  dalam upaya penegakan hukum terhadap pelaku atau penguna atau   penambang emas tanpa izin yang menggunakan merkuri dan  sianida di kawasan Gunung Botak,” kata Kapolres kepada wartawan di ruang kerja, Jumat (16/2).

Kapolres mengatakan, jika penambang tidak menggunakan merkuri dan sianida untuk mengelola emas secara illegal di  Gunung Botak dan sekitarnya, tentu penambang tidak menghadang aparat keamanan naik ke Gunung Botak.

Menurut Kapolres, hasil negosiasi  dengan penambang, pihaknya memberikan waktu satu pekan sejak Kamis (15/2) kepada penambang untuk membersihkan sendiri  rendaman, lokasi pengolahan emas illegal, merkuri dan sianida di  Gunung Botak.  “Kita kasih waktu kepada penambang satu minggu untuk bersihkan tenda, lokasi rendaman, merkuri dan sianida, setelah itu kita naik ke Gunung Botak untuk lakukan tindakan hukum bagi penambang liar yang masih beroperasi,” kata Kapolres.

Menurut Kapolres apa yang dilakukan pihaknya bersama aparat TNI serta Satpol PP Pemkab Buru  sebagai kepedulian atas pencemaran lingkungan serta maraknya penggunaan mercuri dan sianida untuk pengolahan emas secara illegal di Gunung Botak. Apalagi masalah Gunung Botak, merkuri dan sianida  menjadi perhatian serius Presiden Joko Widodo dan pimpinan Polri serta TNI.

Diduga para penambang ini dimanfatkan pihak – pihak tertentu yang selama ini memasok merkuri dan sianida untuk melanggengkan praktek pengolahan emas secara ilegal di Gunung Botak. Kapolres menegaskan, pihaknya tidak mau lagi melakukan penyisiran penambang ilegal karena itu sudah dilalukan berkali- kali.  Bahkan Gunung Botak sudah 25 kali ditutup Pemerintah Provinsi Maluku namun penambang kembali melakukan aktivitas penambangan secara ilegal lagi.

“Kita tidak mau sisir penambang lagi, yang kita lakukan langsung proses hukum bagi pelaku atau pengguna atau penambang tanpa izin yang menggunakan merkuri dan  sianida di Gunung Botak. Penambang liar akan dijerat dengan Undang – Penambang Minerba dan Undang-Undang Lingkungan Hidup,” kata Kapolres.

Kapolres  menyebutkan berdasarkan data pihaknya di Gunung Botak terdapat  sekitar 1.500  lokasi rendaman, tempat pengolahan emas ilegal yang menggunakan sianida dan merkuri, dengan jumlah penambang sekitar 7.500 orang. Namun menurut Kapolres, setelah pihaknya melakukan sosialiasi upaya penegakan hukum, sekitar 75 persen penambang liar  sudah  meninggalkan Gunung Botak. (ADI)