Kebiasaan Orang Timur Yang Terlalu Bahagia Potensi Ada Gangguan Jiwa

Kebiasaan Orang Timur Yang Terlalu Bahagia Potensi Ada Gangguan Jiwa

SHARE
dr. David Santoso, Direktur Rumah Sakit Khusus Daerah Pemprov Maluku.

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kesehatan jasmani memang penting. Begitu pun dengan kesehatan jiwa, tak kalah pentingnya. Bertepatan dengan hari kesehatan jiwa nasional pada 10 Oktober, kita diingatkan kembali untuk merawat diri serta menjaga kewarasan. Banyak yang menyebut, hidup bahagia, senang, perbanyak tertawa dan jauhkan stres bisa bikin awet. Tapi tunggu dulu, orang yang terlalu bahagia, atau terbuka meluapkan kebahagiaan nyatanya berpotensi alami masalah kejiwaan.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Rumah Sakit Khusus Daerah Pemerintah Provinsi Maluku di Nania Ambon, dr David Santoso, SpKJ MARS. Menurutnya pola hidup dan budaya di suatu tempat memainkan peran besar dalam membangun kondisi mental seseorang. “Orang di wilayah Indonesia Timur ini cenderung happy. Mereka suka berjoged, pesta, minum, hura-hura atau balap. Itu luapan emosinya bisa berlebihan,” jelasnya kepada Terasmaluku.com di ruangannya Selasa (9/10/2018) siang.

Berdasar pengamatannya, kebiasaan tersebut berpeluang besar mendorong kondisi kejiwaan orang jadi buruk. David menjelaskan, emosi bahagia yang membuncah, terlalu terbuka, riang yang berlebihan bisa jadi indikasi ada kelainan kejiwaan. Hal itu butuh penanganan serius. Apalagi emosi anak muda masa kini sulit dikendalikan. Potensi gangguan bisa saja terbentuk sejak masih dini bila emosi mereka tidak dikelola dengan baik.

Lain halnya dengan di Daerah Istimewa Nagroe Aceh Darussalam (NAD). David yang pernah bertugas di sana mengatakan, tipikal masyarakat di Aceh tertutup. Mereka bukan tipe ekstrovert serta luwes mengskpresikan segala hal. Tema Hari Kesehatan Jiwa 2018 yakni Young People and Mental Health in A Changing World”. Pihaknya menaruh perhatian dan fokus besar bagi perkembangan mental generasi muda. “Kalau berlebihan itu bahaya. Apalagi mereka yang pemakai, rasa senang berlebihan ganggu kejiwaan mereka,” paparnya.

Memang sampai saat ini belum ada laporan terkait hal itu. Pasalnya, aktiftas hura-hura atau sesuatu yang menyenangkan masih dianggap hal baru dan wajar. Artinya, kebiasaan mereka yang mabuk-mabuk, ngebut hingga candu adrenalin dipandang hal baru yang mengasyikan. Padahal kebisaan itu dapat berujung buruk.

Tak hanya itu, David juga menyoroti soal kecanduan gawai. Di negara-negara maju atau di beberapa kota besar di Indonesia, sudah ada laporan serta pasien yang kecanduan gawai. “Anak muda atau remaja itu. Kalau tidak pegang hape rasanya cemas, dan memang tidak bisa jauh jauh. Yang suka selfie setiap hari juga bisa jadi tanda-tanda gangguan,” papar pria yang menjabat kepala RSKD sejak 2003 itu.

Di Ambon, memang belum ada laporan terkait itu. Masyarakat belum mengenalinya sebagai sebuah gangguan. Tapi, cepat atau lambat itu bisa saja terjadi. Penggunaan gawai berlebihan dapat memengaruhi kondisi mental kejiwaan kita. Pihaknya berharap, pada peringatan hari kesejatan jiwa, masyarakat di Ambon peka akan hal itu.Stres dan depresi nyatanya bukan lagi satu-satunya penyebab sesesorang alami ganguan jiwa. Namun kebiasaan sehari-hari tanpa sadari membentuk sebuah pola dan ciptakan gangguan dari dalam.(PRISKA BIRAHY)

loading...