Kecil Itu Indah, Catatan dari Bossey Oleh : Ruth Saiya, Pendeta GPM

by
Pendeta Ruth Saiya di Bossey Swiss. FOTO. DOK. PRIBADI

Di awal awal bulan Desember ini saya dan teman-teman yang sedang belajar Oikumene di Ekumenical Institute Bossey Swiss diberi kesempatan mengungjungi jemaat-jemaat Reformed Church yang ada di Swiss. Dalam kunjungan itu saya bersama dengan seorang teman membantu melayani pesta para senior (elder party) di jemaat itu. Dan saat pesta itu akan berakhir, nyonya pesta mengundang semua orang yang telah membantu di pesta itu untuk hadir di ruang pesta. Saya melihat tuan rumah saya, Hans yang adalah seorang koki, bersama dengan dua rekan kerjanya di dapur berdiri dan memberi salam kepada semua yang hadir di pesta itu.

Para tamu dan undangan bertepuk tangan dan menyampaikan terima kasih kepada mereka bertiga. Kemudian saya melihat nyonya pesta meminta beberapa orang yang telah membantu mempersiapkan meja dan kursi serta ruangan serta membantu menyajikan makanan, untuk hadir di ruangan pesta itu dan menyampaikan terima kasih atas semua partisipasi mereka.

Loading…

Saya merasakan sungguh, peran orang-orang yang bekerja di “belakang layar” tidak diabaikan atau dilupakan. Peran dan partisipasi mereka dihitung sebagai bagian dari sejarah berlangsungnya pesta itu. Pengalaman singkat, kurang lebih 2 jam itu memberikan insight bagi saya. Bagaimana sejarah besar sebuah bangsa, komunitas beragama, kelompok, keluarga ditulis dan diceritakan? Apakah partisipasi orang-orang yang bekerja di belakang layar juga dianggap sebagai pelaku sejarah atau kah mereka akan diabaikan atau dihapus dalam kisah besar itu? Peran-peran seperti yang dilakukan oleh anak-anak, orang muda, perempuan, orang tua lanjut usia, dan juga kelompok orang-orang kecil banyak yang tidak tercatat, dan dilupakan. Sejarah hanya dicatat sebagai sejarah orang-orang besar dan hebat, yang punya kuasa.

Pada tanggal 21 Desember, GPM merayakan HUT Sekolah Minggu dan Tunas Pekabaran Injil. Perkembangan Sekolah Minggu adalah bagian dari sejarah GPM; semua anak sekolah minggu dan para pengasuh, para pengajar dan orang-orang yang memberi diri mendukung pelaksanaan SMTPI adalah bagian dari sejarah gereja ini. Dulu, waktu Yesus memberi makan 5000 orang, anak-anak dan perempuan tidak dihitung sebagai bagian dari sejarah itu. Entah mengapa mereka mengelompokkan anak dan perempuan dalam kelompok yang sama. kelompok yang tidak dihitung. sekecil apapun seorang anak dalam gereja ini, dan sekecil apapun perannya, dia adalah bagian utuh dari sejarah gereja ini.

Dan pada tanggal 22 Desember, bangsa kita merayakan sejarah perjuangan perempuan di bangsa ini. Artinya sejarah bangsa ini tak lepas dari sejarah perjuangan perempuan pada tanggl 22 Desember 1928. Tanggal 22 Desember itu janganlah direduksi menjadi hari yang sederhana saja. Tapi itu hari luar biasa, perempuan ke ‘luar rumah’ dan berbicara serta berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara, kepentingan banyak orang. Hari perempuan itu tidak terjebak pada peran seorang ibu di rumah saja bersama suami dan anak-anaknya tapi peran seluruh perempuan; baik yang masih muda maupun yang sudah tua, yang menikah ataupun yang tidak menikah. Perempuan punya cerita dan sejarah (her-story).

Pesta kecil itu telah memberi pencerahan bagi saya. Saya merenungkan berapa banyak orang yang telah diabaikan dalam sejarah hidup kita, sejarah hidup komunitas dan bangsa ini, hanya karena mereka bukan siapa-siapa dan buka apa-apa.

Mari kita menuliskan cerita bersama kita sebagai bangsa, sebagai perempuan dan laki-laki, sebagai orang-orang yang telah beruban dan anak-anak yang sedang bertumbuh, sebagai bos atau bawahan, orang besar atau orang kecil. Peran-peran itu telah menjadi jejak-jejak sejarah yang tak bisa dihapus karena telah memberikan jejak pada sejarah bersama kita, sekecil apapun (dalam pandangan kita) peran yang sudah dilakukannya.