Keheningan Untuk Kebaikan Publik Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat

HARI ini Umat Kristiani merayakan Rabu Abu, besok Umat Hindu merayakan Nyepi. Kedua peristiwa iman itu menegaskan satu hal yang hampir sama, keheningan di hadapan sang Khalik. Bagi umat Kristiani, perayaan Rabu Abu adalah sebuah momen penyadaran diri bahwa manusia hanyalah debu. Sehebat-hebatnya dia, di hadapan Sang Khalik, ia hanyalah ciptaan. Tak bisa lebih.

Tapi kenyataan, seringkali manusia lupa pada posisi ini. Entah sadar atau tidak, ia bertindak nyaris seperti Sang Pencipta. Ia menjadi angkuh dan lupa diri. Ia merasa diri lebih hebat dari yang lain. Dan karena itu pula ia memperlakukan sesama dengan tidak hormat, melukai dengan kata-kata dan ujaran kebencian, mempersekusi bahkan mengambil nyawa sesama alias membunuh. Semuanya menjadi riuh dan gaduh.

Dalam kondisi kacau balau itulah, manusia butuh keheningan. Menarik diri dari rutinitas. Keluar dari jebakan kepongahan. Mencari saat teduh. Merenungkan siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Dengan berbuat begitu, moga-moga ia menemukan inspirasi baru, bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Tentu saja tindakan hening dan menyepi, bukan sebuah pelarian (eskapisme). Bukan pula mengasingkan diri dari lingkungan dan bahkan membenci hal-hal duniawi. Justru sebaliknya, ia harus masuk ke dalam dunia, menghadapi segala kerumitan dan kompleksitas hidup, dengan energi terbarukan. Buah dari tindakan menyepi, hening, meditasi, kontemplasi adalah mewujudkan kebaikan bersama.

KEBAIKAN PUBLIK

Dunia yang kita hidupi saat ini tak luput dari aneka masalah. Kekerasan, pelanggaran HAM, krisis lingkungan, perang, Narkoba, intoleransi dan persekusi, serta berbagi krisis kemanusiaan dan peradaban. Kita menghadapi sebuah dunia yang terus bergolak, dan tak habis-habisnya diperhadapkan dengan kemelut.

Pada lain sisi, kita juga mesti optimis, bahwa dunia ini merupakan anugerah Allah bagi seluruh ciptaan. Tak semuanya buruk dan jelek. Ada juga potensi-potensi kebaikan, yang membuat kita senang dan bahagia. Ada orang-orang baik yang sedia saling membantu, solider lintas suku dan agama, peduli dan mau berkorban untuk kebaikan bersama.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, saat ini energi kita sedang diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, antara lain melalui pemilu yang demokratis dan damai. Kita akan memilih Presiden dan Wakil Presiden serta wakil rakyat (anggota DPR, DPD, DPRD). Semua ini perlu dilihat sebagai mekanisme dan jembatan menuju kebaikan publik, kebaikan bersama. Presiden dan wakil Presiden juga wakil rakyat terpilih nantinya berjuang untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk diri sendiri atau kelompok sendiri. Dalam tujuan mulia itu, kita perlu ambil peran, terlibat aktif dan kritis dan tidak ikut-ikutan membuat gaduh.

Kebaikan publik menjadi tujuan bernegara, demikian Cicero pernah berkata. Bukanlah itu juga yang diamanatkan dalam konstitusi negara kita dan tujuan dari hidup berbangsa dan bernegara? Kebaikan bersama menjadi impian semua insan, apapun latar belakangnya. Kita pun sadar bahwa untuk mewujudkan kebaikan bersama itu bukan jalan bertabur bunga. Bukan perkara mudah dan murah. Ada harga yang harus dibayar. Pengorbanan, kesetiaan, ketulusan dan komitmen yang sungguh-sungguh. Tanpa itu semua, tujuan bersama hanya utopia.

KEKUATAN KEHENINGAN

Peristiwa Gua Hira, Peristiwa Getsemani, Peristiwa Bodhisattva, Samadhi, dan seterusnya, merupakan jejak-jejak keheningan untuk menemukan makna tertinggi. Bahwa di tengah kekalutan hidup, hingar bingar dan kebuntuan, masih ada ruang pembebasan. Tentu saja, ruang pembebasan itu memerlukan pengosongan diri, disiplin, ketekunan dan kepasrahan total kepada Sang Khalik, Sang Pencipta. Bahwa selalu tersedia kelapangan bagi manusia yang tidak terpenjara pada dirinya sendiri. Ada kekuatan di luar dirinya yang diyakini mampu memberi kekuatan dan pencerahan yang terbaik.

Seperti tujuan utama Hari Raya Nyepi yakni memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan buana alit (alam manusia, microcosmos), dan Bhuana Agung (alam semesta, macrocosmos) maka umat manusia, melalui keheningan dan kesunyian menengadah ke atas, memohon belas kasih Allah agar dunia yang dihidupi tetap bermakna dan mempesona.

Semoga melalui momen-momen iman dan keagamaan, umat manusia makin tersadarkan dan tercerahkan. Makin dibekali dan diperlengkapi untuk bersama-sama mengusahakan kebaikan publik. Mewujudkan tata dunia yang adil, damai dan sejahtera. Suatu tugas bersama yang tak pernah berakhir. Selamat hening, selamat berbagi kebaikan ! (RR)