Kekinian Suicide “Sebuah Potret Trend Bunuh Diri di Masa Covid 19” Fenomena Ambon Oleh : Dr Paulus Koritelu, Ketua PGIW Maluku

by
Dr Paulus Koritelu, Ketua PGIW Maluku. FOTO : DOK. PRIBADI

FENOMENA Suicide diri bukanlah hal yang asing dalam kancah kajian Ilmiah, setidaknya seorang Sosiolog Klasik kenamaan asal Prancis: Emile Durkhaim pernah meneliti di beberapa Negara. Durkhaim sendiri secara sederhana mendefenisikan Bunuh diri tersebut sebagai: Semua kasus kematian yang secara langsung ataupun tidak dilakukan oleh seseorang karena tindakan positif maupun negative dari sipelaku bunuh diri secara sadar (dia tahu) bahwa hasil dari tindakannya adalah kematian.

Durkhaim kemudian memberikan kesimpulan secara umum bahwa ada satu variable dasar dan bersifat universal yang menyebabkan Peristiwa Suicide tersebut pada manusia di jaman itu. Variabel dasar tersebut adalah: Persoalan INTEGRASI SOSIAL atau yang “mungkin” oleh sebagian orang juga termasuk Durkhaim senang menyebutnya sebagai SOLIDARITAS SOSIAL. Menarik karena secara Sosiologis variable umum tersebut menjadi satu titik penentu proses Suicide yang Durkhaim sendiri menjelaskan fenomena ini ke dalam 4 tipe utama yang berbeda satu dengan lainnya: Tipe (1). Altruistic Suicide Yakni: Bunuh diri terjadi karena sipelaku merasa telah menjadi beban masyarakat.

Bunuh diri terjadi karena Individu merasa kalau kepentingan masyarakat terlalu sangat penting disbanding kepentingan dirinya sendiri. Artinya tekanan yang demikian kuat dari kepentingan masyarakat “karena factor Integrasi social” teramat penting disbanding dengan kepentingan pribadi. Contoh seorang Jepang yang sangat kuat nasionalismenya akan memilih bunuh diri kalau gagal menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Pepatah kuno berkata: lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup menanggung Malu. Bahwa fakta moral yang ada dalam kepentingan masyarakat jauh lebih kuat dan demikian menekan dirinya. Karena itu dia cenderung tersingkir dari pentingnya Integrasi Sosial atau solidaritas social yang demikian kuat dalam masyarakat.

Tipe (2) Egoistic Suicide. Terbalik dengan tipe yang pertama dimana Individu merasa kepentingan diri pribadinya jauh lebih penting dari kepentingan masyarakat sebagai satu kesatuan sosialnya. Disini Individu seakan merasa asing dari komunitasnya karena, karena kepentingan dirinya tidak direpresentasi dalam komunitasnya. Karenanya stress dan depresi terjadi dan Individu yang demikian merasa kian asing dari komunitas sosialnya. Jadi bunuh diri tipe ini merupakan hasil dari kontruksi Individualisme yang berlebihan. Durkhaim dalam konteks ini menyatakan bahwa fenomena laki-laki yang belum menikah justru menunjukan fakta bunuh diri yang lebih tinggi ketimbang pada laki-laki yang sudah menikah. Disinilah letak masalahnya bahwa kualitas Intergrasi dan solidaritas social terasa jauh lebih dirasakan manfaatnya pada konteks laki-laki yang sudah menikah ketimbang yang belum menikah.

Tipe (3) Anomi Suicide. Bahwa situasi Yang tanpa Aturan (Situasi Anomi) akan membuat seseorang kehilangan orientasi dan tujuan hidupnya. Kekacauan dan ketidak-teraturan dirasakan tidak dapat menjamin kreatifitasnya untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan hidupnya. Situasi Anomic Suicide ini bisa juga terjadi karena pergolakan social atau pergolakan Ekonomi yang tidak menentu sehingga tekanan berlebihan tersebut mengakibat koneksitas individu dalam aspek integrasi dan soilidaritas social dengan komunitas masyarakatnya seakan terputus situasi chaos itu. Akibatnya dia kehilangan arah dan daya kreatifitas untuk mewujudkan sesuatu yang sebenarnya sangat berharga menurut pandangan dirinya. Kalau dalam fenomena sekarang justru Tekanan itu terasa sangat penting oleh karena kebebasan individu direnggut karena alasan kepentingan bersama.

Tipe (4). Fatalistic Suicide. Merupakan kebalikan dari Anomic Suicide, maka dalam tipe ini justru Individu merasa terlalu tertekan dalam situasi Interaksi sosialnya dengan Orang lain karena penerapan aturan yang sangat berlebihan. Penerapan aturan aturan itu justru hanya memperhitungkan dan atau mengutamakan kepentingan masyarakat yang lebih luas sehingga kebutuhan dan kepentingan individu terpaksa harus dimatikan demi kepentingan totalitas masyarakat yang diperkuat oleh penerapan aturan yang sangat dirasakan sebagai tekanan luar biasa terhadap Individu

Ke 4 tipe Bunuh diri ini mungkin secara sosiologis menemukan sebuah argumentasi kebenaran yang bisa terlihat dalam kekinian fenomena bunuh diri yang sedang terjadi, misalnya saja tipe bunuh diri ke 4. Kita tidak pernah tahu persis apa sesungguhnya yang menjadi subjek meaning (arti subjektif) dari tindakan bunuh diri tersebut, tetapi sesuatu yang bersifat universall memang tekanan yang berlebihan dalam berbagai aturan memangsa individu termasuk si pelaku bunuh diri untuk mesti mengorbankan selera dan kepentingan Individunya, demi kemaslahatan banyak orang. Karena itu secara sosiologis jelas karena variable integrasi dan solidaritas kebersamaan menjadi dominan dan secara universal bersifat demikian Coersiv (menekan) apapun selera dan kreatifitas individu yang berbeda dengan kepentingan totalitas masyarakat atas nama Integrasi social dan atau solidaritas social.

Variabel sosiologis ini bukanlah satu-satunya kebenaran, karena dalam variable kebenaran Theologis Saya menemukan bahwa para pendeta, gembala dan semua hamba-hamba Tuhan sudah secara serius mempersiapkan umat untuk siap menghadapi masa-masa sukar, karena akan datang satu masa aniaya dimana Keimanan Kita pada Tuhan Kita Yesus Kristus menjadi taruhan paling mahal. Sangat mungkin inilah bagian dari konstruksi masa aniaya itu. Pertanyaan yang patut dikritisi adalah: apakah mereka yang rela bunuh diri menjadi bagian dari orang-orang pilihan yang kemudian terdepak keluar dari satu bentuk kenyataan untuk mempertahankan Iman dan pengharapan mereka kepada Kristus dimasa-masa sukar INi? Tentu saja tidak semua orang akan setuju dengan itu dan mengatakan benar. Sebab ada begitu banyak keunikan dari kenyataan suicide yang sedang terjadi.

Loading...

Apakah Durkhaim benar bahwa ternyata tingkat bunuh diri di kalangan laki-laki yang belum menikah jauh lebih tinggi dari yang sudah menikah? Faktanya tidak selalu seperti itu, namun dari sisi tertentu ada kemiripan yang bisa dihubungkan dengan keterikatan moral dengan komunitas masyarakat dimana individu berada. Bahwa secara rasional Kekuatan ikatan Integrasi social dan atau solidaritas social dengan keluarga dan masyarakat akan jauh lebih kuat ada pada seorang laki-laki yang sudah menikah disbanding dengan yang belum menikah. Secara rasional Dapat saya jelaskan bahwa orang yang sudah menikah dan mempunyai keluarga tentu akan berfokus pada keluarganya sehingga tekanan sebesar apapun dalam masa sukar ini dia tetap tidak akan mengambil langkah Bunuh diri karena merasa bertanggung jawab atau saying pada keluarganya. Inilah bukti dari kekuatan Integrasi dan solidaritas social itu membebaskan laki-laki yang sudah menikah dari tindakan bunuh diri manakala dia menghadapi tekanan seberat apapun. Hal ini mungkin tidak bisa terjadi bagi laki-laki yang belum menikah. Artinya dia dapat saja melakukan apapun termasuk bunuh diri tanpa beban apapun. NAMUN SEKALI lagi jika demikian muncul pertanyaan yang patut direnungkan: Dimana kualitas dari sebuah proses Theologis yang telah dilalui dan dijalani oleh sang pelaku bunuh diri tersebut?

Saya cenderung berpendapat bahwa: proses bertheologi adalah satu proses dimana seseorang berusaha berjumpa dengan Tuhan yang dia Sembah. Perjumpaan tersebut tidaklah sama persis dengan fenomena face to face antar manusia. Tetapi fenomena perjumpaan dengan Tuhan yang kita sembah adalah sebuah proses yang benar-benar memberikan satu gambaran bahwa realitas setiap Individu mengalami Tuhan, artinya memiliki experience (pengalaman) bersama Tuhan dalam berbagai kenyataan hidup adalah sangat penting. Pengalaman tersebut bukan saja dikala kita alami berbagai keberhasilan, tetapi juga saat kita sedang hadapi berbagai kerumitan hidup yang seakan membuat hidup kita tidak menentu. Disitulah sesungguhnya sebuah kunci dari pengalaman bertheolgy yang sungguh berkualitas.

Saya juga sangat percaya bahwa secara Rohani seseorang yang masih muda usia senantiasa tidak dapat dianggap reme dengan pengalaman bertemu dan mengalami Tuhan dalam hidupnya, karena itu menjadi sangat penting bagi setiap kita tanpa kecuali untuk mengukur proses bertheology kita sendiri disaat ini terutama yang saya maksudkan adalah dimasa-masa sukar ini, dimana setiap waktu kita memiliki demikian banyak “WAKTU-WAKTU BERKUALITAS” untuk selalu dapat meneduhkan diri kita, menenangkan jiwa-serta memusatkan hati kepada-Nya sambil merasakan betapa berharganya TUhan hadir dalam hidup kita, bersedia mendengar kita berbicara kepadanya melalui doa kita… namun apakah benar kita juga berkontemplasi sambil berusaha mendengar Tuhan Berbicara dalam maksud-maksud yang sangat dalam juga berbaharga bagi kita?

Ada sesuatu yang sangat penting yang saya hendak kemukakan bagi kita semua terkait dengan fenomena bunuh diri yang terjadi beberapa hari belakangan ini: bahwa sesungguhnya para Pendeta, gembala dan hamba-hamba Tuhan dan semua tokoh agama Lintas agama yang berbeda yang mungkin  sudah dengan maksimal melaksanakan berbagai tugas pelayanan namun demikian di hadapan Tuhan semua orang bertanggung jawab dengan keadaan rohani dan dirinya sendiri. Pada tingkat ini tentu pelayanan para hamba tuhan akan senantiasa mendorong setiap individu untuk terus mebangun keterikatan moralnya dengan keluarganya apakah dengan Suami, istri, juga anak-anak secara timbal balik. Artinya kekuatan moral yang diharapkan tersebut dimaksudkan agar setiap individu merasakan kalau dirinya di dalam keluarga dan masyarakat adalah sangat penting juga berharga, namun demikian dalam faktanya “mungkin” tidak selalu demikian. Karena ada asa dan harapan Individu tertentu yang sangat mungkin tidak selalu sejalan dengan moralitas kolektif yang ada di sekitarnya.

Asa dan harapan itu dirasakan berbada dengan kemauan keluarga dan lingkungan masyarakat itu. Inilah sesungguhnya yang menyebabkan sebuah perasaan alienasi yang sangat dalam bagi seseorang pribadi sekalipun dia sedang ada di tengah perhatian keluarga dan orang lain. Sekalipun dia berada bersama orang lain namun dia sedang merasa terasing dan seakan-akan ada dalam kesendiriannya. Inilah satu titik yang menurut saya patut diperhitungkan baik secara sosiologis maupun secara theologis. Satu contoh praktis yang sungguh nyata: Dalam situasi seperti sekarang semua orang dituntut untuk selalu berdisiplin dalam berbagai hal dan tentu saja harus hidup dalam kekudusan. Padahal seorang pribadi tertentu sedang dalam sebuah masa-masa dimana gejolak jiwanya mendorongnya untuk harus menyalurkan keinginannya yang justru bertentangan dengan situasi tersebut.

Kalau perangkat sistim social di sekitar yang bersangkutan sangat ketat dan kuat maka sesungguhnya sangat besar kemungkinan dimana yang bersangkutan sangat merasa tertekan dan terasing dengan situasi yang ada di sekitarnya. Apa yang kemudian menjadi solusi atas gejolak jiwa tak terahankan ini dengan perangkat integrasi dan solidaritas social yang demikian coersiv memaksanya untuk berdisiplin dan menjaga kekudusan hidupnya? Boleh jadi disaat itu terjadi dia juga menjadi pribadi yang rapuh yang akan memilih jalan suicide untuk mengakhiri tekanan dari dalam berupa gejolak jiwa tak tertahankan serta tekanan dari luar berupa tuntutan dan standar moral yang sungguh sangat berbeda dengan asa dan harapan kemanusiaannya.

Para Anak Muda di kota Ambon ketahuilah Engkau sangat berharga dimata Tuhan, pusatkan konsentrasimu untuk berjumpa dengan Tuhan dalam setting waktu-waktu yang berkualitas. Jangan biarkan kemudaanmu diremehkan oleh yang lain termasuk para Invisible Enemies tersebut. Karena Di dalam DIA yang memberi kuasa kepadamu, engkau dapat mengalahkannya.  Dan Secara umum bagi kita semua dalam fakta Theologis memang kita sedang menghadapi masa-masa sukar dalam wujud berbagai musuh yang tidak kelihatan (Invisible Enemies)… karena itu Logika kemanusiaan akan tumpul bahkan boleh jadi kita akan senantiasa dijadikan tumbal dari para musuh yang tidak kelihatan tersebut, namun ketika kita sadar kalau Roh Kudus yang Yesus anugerahkan kepada kita sungguh ada dan kita merasakannya, maka setiap musuh yang tidak kelihatan akan dikalahkan apapun dan siapapun dia Dalam Nama Tuhan kita sembah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *