Kelenturan Identitas Ambon-Maluku Oleh : Rudy Rahabeat, Pembelajar Antropologi

by

DALAM minggu ini melalui media sosial facebook, saya mewacana dua hal yang berkaitan dengan problem identitas. Pertama, fenomena seorang yang memiliki ikatan genealogis Ambon namun lahir, besar bahkan dimakamkan di luar Ambon. Fenomena ini secara aktual saya kaitkan dengan sosok “Jenderal penuh” George Toisutta yang wafat 12 Juni 2019. Kedua, pertanyaan saya di fesbuk tentang fenomena artis asal Ambon yang oleh alasan tertentu tidak menyertakan marga (famnya) seperti antara lain pada sosok almarhum aktor Robby Sugara Kaihena yang wafat dalam minggu ini pula, tepatnya 13 Juni 2019, sehari setelah kematian Jenderal George Toisutta. Dua contoh ini bermuara pada satu isu atau konsep yakni identitas, tepatnya problem identitas. Secara kikir saya menawarkan konsep “kelenturan identitas” untuk merangkum kedua fenomena tersebut.

JENDERAL PENUH

Dalam sejarah kemeliteran Indonesia, hanya George Toisuta yang mendapat empat bintang di pundaknya. Sebelumnya ada nama-nama putra Maluku seperti Joost Muskita, Leo Lopulissa, Herman Pieters, kemudian Suaedy Marasabessy, Ishak Latuconsina, Nono Sampono, dan masih banyak lagi. Namun hingga saat ini almarhum George Toisuta yang mencapai bintang penuh. Di tanah leluhurnya, saat ia menjadi KASAD dan pulang ke Ambon para raja atau Latupati di Maluku memberi gelar adat kepadanya “Kapitan Elake”, pemimpin besar.

Tapi mungkin tidak banyak orang yang tahun bahwa Jenderal George lahir di Makassar 1 Juni 1953 dan dimakamkan di pusara ibunya di bumi Anging Mamiri itu. Hal ini sekaligus membuka lembar sejarah migrasi orang Ambon di nusantara, dan dinamika identitas yang dihadapinya. Sudah sejak lama orang-orang Ambon karena alasan tertentu, sebagian besar karena dinas ketentaraan sebagan tentara kompeni, yang kemudian popular disebut KNIL, maka orang Ambon tersebar di seantero Nusantara dari Aceh sampai Papua. Demikian pula sebagai guru Jemaat dan Penginjil, orang Ambon pergi dan menetap di Toraja, Mamassa, Palu, Posso, hingga ke Sumba, Timor, Papua bahkan hingga Micronesia. Presiden Micronesia saat ini berdarah Ambon, dan tahun lalu ia mengunjungi tanah leluhurnya itu.

Walau cenderung yang migrasi itu orang Ambon Kristen, tetapi bukan berarti orang Ambon Muslim tidak ada sama sekali. Fakta adanya orang Ambon Muslim di Jawa dan pulau lain di Indonesia bahkan negeri Belanda menunjukan bahwa orang Ambon Muslim juga ada dalam arus dan narasi migrasi tersebut. Kapitan Jonker misalnya, adalah seorang Muslim Ambon yang sangat terkenal di Batavia kala itu. Saya tentu tidak sedang menjelaskan problem identitas agama dalam tulisan singkat ini.

FENOMENA AKTOR DAN ARTIS AMBON

Robby Sugara, Glenn Fredly, Jonas Rivanno, hanya beberapa nama yang tidak menyertakan marga atau fam di belakang nama mereka. Demikian pula Reza Rahadian sebetulnya bermarga Matulessy dan banyak artis penyanyi maupun bintang film, seperti Hamdan ATT, yang merupakan kependekan dari marga Attamimi dari Batu Merah dan Waihaong. Tentu ada berbagai pertimbangan yang membuat mereka tidak menyertakan marganya. Baik karena faktor teknis, seperti terlalu panjang, atau juga yang berkaitan denga logika pasar dan dunia enterteinmen. Yang pasti, mereka memiliki genealogis dengan Ambon atau Maluku.

Fenomena lainnya seperti Ruth Sahanaya, yang lahir dan besar di Jawa Timur. Ia mungkin sangat jarang ke Ambon, tetapi dari marganya orang mengaitkannya dengan orang Ambon. Tak heran jika saat Pemilu kemarin, suaminya Jefrey Waworuntu menjadi caleg PDID dari Dapil Maluku untuk menjadi anggota DPR RI. Sayangnya, ia tidak terpilih ke senayan. demikian pula Franky Sahilatua yang lahir besar di Surabaya, dan banyak artis nasional asal Maluku.

KELENTURAN IDENTITAS

Semua ini merupakan bukti bahwa orang Ambon sejak dulu merupakan para migran yang di lokasi yang baru juga mencatat prestasi yang baik. Karier yang baik di berbagai bidang, menunjukan daya adaptasi dan mobilitas sosial vertikal orang Ambon. Hal ini sekaligus memberi perspektif yang lebih fair terkait stigma yang mengaitkan orang Ambon dengan “preman” atau debt-collector. Bahwa hal itu tak dinafikan, tetapi perlu ditegaskan bahwa prestasi dan dinamika orang-orang Ambon di perantauan yang sangat variatif dan dinamis itu. Bahwa identitas seseorang atau sekelompok suku tidak bersifat tunggal dan beku, melainkan dinamis, cair (fluid) dan fungsional. Hal ini penting untuk menghindari penebalan sentimen kesukuan, atau ilusi keaslian. Sebab pada kenyataannya, umat manusia semakin berbaur, antara lain melalui kawin mawin, dan berbagai perjumpaan lintas etnis. Demikian pula dalam aspek agama. Tak mudah lagi untuk mengidentikan sekolompok etnik tertentu dengan agama tertentu, sebagai akibat dinamis dan lenturnya identitas dimaksud.

Dalam konteks Indonesia yang terus membangun bukan hanya infrasstruktur fisik, melainkan karakter bangsa (nation and character building), maka dinamika orang Ambon, termasuk dinamika migrasi orang Ambon di berbagai penjuru Nusantara serta prestasi dan kontribusi yang mereka sumbangkan bagi bangunan kebangsaan Indonesia, mesti diberi apresiasi yang layak. Bahwa kemudian saat ini ada suara-suara yang mempertanyakan representasi orang Ambon dan orang Maluku (Islam maupun Kristen) pada umumnya di panggung nasional, maka belajar dari sejarah, termasuk pada sosok-sosok pahlawan nasional asal Maluku, maka sebetulnya selalu ada peluang dan optimisme untuk terus maju dan meraih bintang. Asal saja terus berbenah, dan tanggap bahwa peta sosial budaya politik saat ini makin dinamis dan kompleks, dan olehnya butuh kelenturan, strategi dan daya gebrak yang optimal, sehingga orang-orang Ambon dan Maluku pada umumnya tidak tenggelam dalam arus sejarah masa kini dan masa depan. Toma maju ! (RR).

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *