Kelenturan Relasi Antar Etnis Dalam Ruang Pluralitas Oleh : Rudolf Rahabeath, Pebelajar Antropologi

by
Rudolf Rahabeath, Pebelajar Antropologi. Foto : Dok. Pribadi

Etnisitas dan relasi antar-etnis merupakan salah satu tema penting dalam studi antropologi. Hal ini berkaitan dengan pemahaman dan praktek budaya masyarakat yang berpotensi memperkuat kohesi dan solidaritas sosial namun pada sisi lain, rentan terjadi benturan bahkan konflik. Fenomena konflik antar etnis ini dalam skala luas terjadi di berbagai wilayah di Indonesia bahkan di dunia. Olehnya, studi tentang etnisitas dan relasi antar etnis tetap relevan dan penting dalam konteks perubahan kebudayaan dan masyarakat yang semakin kompleks. Sebagai contoh, konflik Ambon/Maluku 1999, selain dipicu faktor agama dan problem sosial ekonomi politik, maka faktor etnisitas turut berkontribusi dalam konflik tersebut.

Tulisan ini mengkaji interaksi dan relasi antara etnik Bugis dan etnis Ambon di Maluku. Kedua etnis ini memiliki streotipe dan tipikal yang khas. Etnis Bugis dikenal sebagai etnis perantau dan pengusaha, yang memiliki kemampuan adaptasi di wilayah-wilayah yang ditempati (Pelras: 2006). Di sisi lain, etnis Bugis kerap diidentikan dengan “badik” yang dipersepsi oleh sebagian orang sebagai kecederungan menggunakan kekerasan dalam mengatasi masalah.

Selanjutnya, etnis Ambon dipersepsi (streotipe) sebagai kelompok yang mudah terbawa amarah dan suka berkelahi (Warnaen:2002). Stereotipe ini berpotensi menimbulkan ketegangan bahkan konflik. Studi ini memandang etnisitas secara lebih kritis. Seperti disebutkan Yasmine Shahab, masalah diversitas etnis bukanlah cuma masalah dalam arti kuantitatif seperti masalah frekuensi dan distribusi kelompok-kelompok etnis, tetapi masalah diversitas etnis justru lebih merupakan masalah kualitatif seperti masalah batasan kelompok etnis, interpretasi etnis, fungsi etnis, manipulasi etnis, dinamika etnis, rekayasa etnis dan seterusnya (Shahab:2006).

Masalah etnisitas tidak dapat dipersepsi dan disikapi secara teknis instrumental semata, melainkan membutuhkan kajian yang mendalam dan komprehensif, serta pendekatan lintas ilmu. Salah satunya adalah kontribusi sejarah dalam studi antropologi. Seperti disebutkan Rudyansjah, studi sejarah dapat memperkaya studi antropologi. Suatu penelitian historis akan memberikan kedalaman historis terhadap gejala yang ingin dipelajari.

Hal ini tentu akan sulit apabila hanya mengandalkan penelitian lapangan (Rudyansjah: 2009:281). Dalam kesadaran itu dalam penulisan ini saya menggali sejarah masyarakat Bugis dan Ambon dalam lintasan sejarahnya. Pendekatan sejarah etnis Bugis saya gunakan dengan menggali kosmologis masyarakat seperti antara lain pada naskah La Galigo, budaya Sirri, Telu cappa (tiga ujung) dan sejarah migrasi (Passompe).

Studi ini bertolak dari premis bahwa ruang dan etnis bukanlah sesuatu yang alamiah dan beku. Ruang dan etnis senantiasa berubah, dan dinamis (Erdentug & Colombijn, 2002). Dalam studi ini saya juga meminjam teori Lefebvre (1974) tentang ruang yang dimaknai sebagai produk sosial bahkan politis. Olehnya, ruang tidak sekedar soal fisik-geografis, melainkan sebuah proses konstruksi dan kontestasi secara terus menerus. Selanjutnya, dalam studi ini konsep etnis didekati dalam tiga pendekatan sebagaimana dikedepankan oleh Erdentug & Colombijn (2002) yakni; pendekatan primordial, instrumental dan kontruktifis.

Menurut Geertz (1973) identitas etnis ditandai dengan keterikatan pada kesamaan asal usul, bahasa, logat, agama, dan tempat tinggal. Ikatan-ikatan ini bersifat eksklusif. Berbeda dengan pendekatan primordial yang terkesan statis ini, pendekatan intrumental lebih berfokus pada pertanyaan mengapa dan dalam kondisi bagaimana identitas etnis dapat dijadikan sebagai cara mencapai tujuan. Di sini etnisitas menjadi pintu masuk untuk menegosiasikan kepentingan tertentu, seperti alokasi pekerjaan dan perumahan, berapa perwakilan di legislatif, dan lain-lain – yang semuanya berbasis afiliasi etnis. Dengan demikian, formasi identitas etnis sangat tergantung dari hasil persaingan elite. Sedangkan pendekatan konstruktivis melihat etnisitas sebagai sesuatu yang cair, dinamis dan transformatif.

Mencermati diskursus dan problematika relasi antar-etnis dalam konteks pluralitas masyarakat maka yang menjadi pertanyaan penelitian dalam studi ini adalah: (1). Bagaimana relasi antar etnis tercipta dan terbangun serta terdistrosi dalam realitas masyarakat plural-segregatif di bidang ekonomi, keagamaan, pendidikan dan sosial politk? Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi relasi tersebut? (2) Bagaimana ruang pluralitas membentuk corak relasi antaretnis dalam bentuk kelenturan relasi sosial?

Pertanyaan ini bertolak dari realitas masyarakat Ambon yang plural dari segi etnis maupun agama. (3) Mengapa relasi antar etnis dalam ruang pluralitas berpotensi menumbuhkan rasa keterhubungan antaretnis sebagaimana nampak dalam kualitas relasi etnis Bugis dan etnis Ambon di Maluku? Selanjutnya, Penelitian ini bertujuan: (1) Memahami dan menjelaskan proses interaksi antar etnis yang ditelusuri melalui relasi antaretnis dalam praktik-praktik ekonomi, perdagangan, keagamaan, pendidikan dan politik sebagaimana terwujud dalam praktik kehidupan sehari-hari. (2) Menjelaskan peran para aktor dalam ruang (space) sosial yang berpotensi memperkuat atau melemahkan relasi antar etnis dalam konteks masyarakat plural. (3) Menemukan konsep teoretik terkait relasi etnis dalam masyarakat plural dan korelasi praktisnya dalam mewujudkan tatanan sosial yang adil dan berkeadaban.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian dan mencapai tujuan penelitian di atas maka untuk memperoleh data dan informasi yang valid terkait subjek penelitian ini maka observasi partisipatif, wawancara mendalam serta life history digunakan sebagai metode pengumpulan data. Riset dilakukan di pulau Ambon ditambah penelitian singkat di Bone dan Makasar yang bertujuan mengkonfirmasi data-data dan temuan riset di Ambon. Adapun subjek penelitian mencakup aktor negara, tokoh adat dan agama, pelaku ekonomi, pendidik serta masyarakat awam. Selain itu, riset ini diperkaya pula dengan telaah pustaka, khususnya sumber-sumber sejarah dan historitas etnis Bugis dan Ambon.

Berdasarkan analisis terhadap data dan informasi yang ada, maka studi ini menemukan adanya diversitas kekayaan tiap-tiap etnis dalam interaksi dan relasinya pada ruang sosial. Etnis Bugis maupun masyarakat setempat (etnis Ambon) memiliki kemampuan artikulasi dan adaptasi serta strategi untuk menjadikan perjumpaan itu saling menguntungkan, walau bukan berarti tanpa ketegangan dan konflik sama sekali. Penelitian ini juga menemukan fenomena melemahnya pranata budaya lokal seperti Pela, peran negara yang ambigu serta kontribusi masyarakat sipil dalam transformasi sosial.

Pada tataran masyarakat bawah (grassroots) terdapat dinamika kreatif yang berperan mentransformasi relasi antar etnis sehingga turut memperkuat kohesi sosial dan rasa keterhubungan antar etnis. Selain itu, studi ini berkontribusi teoretik terhadap konsep kelenturan relasi antar etnis dan menguatnya rasa keterhubungan di ruang pluralitas. Kelenturan relasi berarti kemampuan dan kapabilitas untuk membangun relasi antar etnis. Bukan sikap kaku dan mekanistik. Kelenturan mengandung makna keterbukaan untuk menerima perbedaan dan mengakui kelebihan orang lain sambil terus menerus saling bekerjasama untuk kepentingan bersama. Kelenturan juga memberi akses untuk saling berinteraksi melalui berbagai medium dan membangun solidaritas yang menumbuhkan rasa keterhubungan antar individu dan antar etnis. Dengan begitu berpotensi pula untuk memperkuat kohesi dan integrasi sosial.

Secara praksis studi ini memberi beberapa saran untuk praksis kebijakan publik dan manajemen relasi antar etnis. Pertama, pentingnya penyadaran ulang tentang realitas keragaman etnis dan agama di Indonesia, yang perlu terus dikelola secara tepat. Sikap menyepelehkan keragaman ini, dan keterjebakan dalam paradigma pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi akan menimbulkan benturan-benturan yang serius di masa depan. Bukankah konflik di Ambon 1999 dipicu oleh sesuatu yang kelihatan “sepele” itu? Dalam konteks ini, negara perlu berperan secara proporsional. Pengalaman penanganan mengelola isu etnisitas di masa lalu mestinya memberi pelajaran berharga bahwa negara tidak bisa menyeragamkan kebijakan yang cenderung didominasi etnis tertentu. Demikian pula negara perlu bijak berhadapan dengan fenomena kebangkitan etnis dan budaya lokal yang berpotensi menimbulkan masalah serius bagi integrasi nasional.

Kedua, Peran masyarakat menjadi penting untuk merajut relasi antar-etnis di tingkat bawah (grass roots) dan dalam interaksi sehari-hari yang saling komplementer. Jebakan streotip etnis, prasangka dan diskriminasi dapat diperkecil dengan membukan ruang komunikasi dan perjumpaan lintas etnis dan agama. Interaksi di ruang-ruang publik seperti di pasar dan pusat-pusat ekonomi perlu dibingkai tidak sekedar berorientasi mencari untung dan akumulasi kapitalis, namun perlu diwarnai nilai-nilai solidaritas kemanusiaan, Ketiga, peran tokoh agama yang dialogis dan inklusif. Ketika agama berkelindan dengan etnisitas, maka tokoh agama perlu terbuka dan moderat.

Fenomena purifikasi agama-agama samawi yang cenderung menolak budaya dan tradisi perlu dikaji kembali, mengingat dalam tradisi dan adat terhadap kearifan-kearifan yang tidak selalu mesti dilihat berlawanan dengan agama normatif. Keempat, peran kelompok akademisi dan pendidik. Potensi adanya transformasi budaya yang bersifaf inklusif, seperti Pela pendidikan, dan Pela inklusif perlu terus dirawat dan ditumbuhkan oleh para akademisi dan guru sebagai kelompok sosial strategis. Di tengah realitas sosial yang cenderung konservatif, maka peran akademisi dan guru menjadi penting untuk terus melakukan penyadaran dan pencerahan baik di sekolah maupun di kampus-kampus.

Kelima, interaksi dan komunikasi di media sosial yang cerdas dan bijak. Di era digital dan revolusi industri 4.0 tak dapat dihindari lalu lintas interaksi di media sosial. Ibarat pedang bermata dua, maka media sosial dapat memperkuat rasa keterhubungan antar-etnis tetapi sebaliknya, dapat memperkeruh relasi dan melemahkan ikatan sosial. Olehnya literasi media yang peka terhadap keragaman etnisitas menjadi sangat penting dan urgen. Akhirnya semua ikatan itu akan makin kuat apabila berakar pada falsafah budaya Ambon-Bugis. Orang Ambon bilang: “Ale Rasa Beta Rasa, potong di kuku rasa di daging” (Saya turut merasakan apa yang kamu rasakan). Orang Bugis katakana, “Taro ada taro gau” (katakan apa yang dilakukan, lakukan apa yang dikatakan). Sekian dan Terima kasih.