Keluarga Besar Virus Oleh : Aprino Berhitu, Alumni S2 Resolusi Konflik UGM

by
Aprino Berhitu, MA, Alumni S2 Resolusi Konflik UGM. FOTO : DOK. PRIBADI

Memperhatikan perkembangan universalitas tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari: mulai dari kelahiran, kematian, pekerjaan, pengetahuan, napsu, sampai pada permainan, terutama dalam episode ‘corona’, senantiasa memperlihatkan jenis yang lebih kurang sama, yang dibilang Friedrich Nietzsche sebagai,—-“perasaan ketiadaan kuasa”.

Tentu tidak ada di antara kita, yang sampai titik ini, dapat memastikan secara akurat, waktu berakhirnya ‘corona’. Sebagaimana diketahui bersama, ada bermacam kebijakan yang telah diambil. Dari tingkat global (misalnya oleh, World Health Organization) sampai regional. Semua mengerucut pada upaya mencegah, bahkan memutuskan mata rantai penyebaran ‘corona’. Kebijakan itu kemudian ramai diperdebatkan dan dipertentangkan dengan berbagai sudut pandang yang berbeda dan bertolak belakang satu sama lain.

Akan tetapi, tampak sekali bila kebijakan tersebut sulit membendung lajunya angka kematian, proses penularan, dan aktivitas setiap orang. Karena memang, ‘corona’ sebagai yang tak terelakkan, tidak membawa nasib yang sama bagi semua orang (kecuali: “perasaan ketiadaan kuasa”). Ada banyak keuntungan, tapi juga ada banyak kerugian.

Terutama sekali kerugian bagi kelompok sosial yang mengalami proses marginalisasi berkepanjangan bahkan sejak sebelum episode ‘corona’. Dan, proses marginalisasi tidak dapat dipandang hanya dari sudut ekonomi, tapi juga dari penindasan yang bersifat sosial, budaya, dan politik.

Bagaimanapun juga, manusia perlu mengakui, bahwa ‘corona’ telah mengantarkan manusia menemukan dirinya berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional. Bagian-bagiannya menyentuh setiap aspek kehidupan mata pencaharian, kualitas lingkungan, hubungan sosial, budaya, kesehatan, ekonomi, teknologi, dan politik.

Krisis ini juga meliputi dimensi intelektual, moral, dan spiritual. Suatu krisis yang, sangat boleh jadi, belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia. Bagi seorang penulis, sekaligus ahli fisika,—Fritjof Capra dalam karyanya The Turning Point, menegaskan bahwa krisis semacam itu lebih baik digambarkan sebagai ‘ancaman kepunahan ras manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini’.

Bertolak dari pandangan di atas, secara garis besar apa yang hendak disampaikan dalam tulisan ini merupakan refleksi personal yang saya alami dan pelajari. Tepatnya, mencakup manusia adalah akar dari segala bencana; manusia adalah virus itu sendiri; atau, sebagai keluarga besar penghuni planet bumi, justru virus bagi kematian diri sendiri dan lingkungan—alam adalah manusia.

Sekurang-kurangnya, dalam lima puluh tahun terakhir, secara sangat fundamental, kehidupan telah diletakkan ke dalam suatu sistem (kapitalisme)—-produksi yang bertumpu pada kapital. Kapital melakukan ekspansi dengan cara menundukkan dan mendominasi wilayah dalam pengertian geografis, matra kehidupan dan tubuh manusia.

Dalam sifat dasarnya, sistem yang satu ini tetap berpusat pada produksi, distribusi dan konsumsi kekayaan. Itu berarti, sikap dan aktivitas yang dinilai tinggi dalam sistem ini meliputi perolehan materi, ekspansi terus-menerus, dan kompetisi tiada ujung. Uang sebagai medium pertukaran semakin tersingkir arti pentingnya dibanding uang sebagai kekayaan.

Lingkungan—alam sebagai yang hidup, yang memiliki perasaan, yang oleh Carolyn Merchant dalam The Death of Nature ‘dipandang pada abad pertengahan sebagai ibu susuan, telah disembelih, digali isi perutnya untuk mendapatkan emas’. Hak milik pribadi dan individualisme adalah produk yang sangat mahal dalam sistem ini, karena itu, telah melembagakan beberapa dosa yang dikenal dalam agama Kristen, misalnya, sebagai dosa mementingkan diri sendiri.

Hasilnya, upaya saling memberi dan menerima secara cuma-cuma; saling tolong-menolong; kepercayaan pada kesucian alam; mengambil dari alam apa yang perlu untuk memenuhi kebutuhan vital saja; larangan moral meminjamkan uang untuk memperoleh bunga; persyaratan bahwa sesuatu harus adil; keyakinan bahwa keuntungan dan penimbunan pribadi harus dihindari; bahwa kerja adalah untuk nilai dan kesejahteraan jiwa; bahwa perdagangan dibenarkan hanya untuk memperbaiki kecukupan kelompok; dan bahwa imbalan yang sejati adalah di alam akhirat, tidak bisa tidak, mengalami kemerosotan mendalam, terkikis habis, tergantikan oleh tindakan buta dari sistem tak berjiwa.

Dalam perkembangannya, manusia di seantero bumi, baik pada negara-negara maju, negara-negara Dunia Ketiga, Barat, Timur, Utara, Selatan dengan level-levelnya telah mendukung pengejaran tujuan yang berbahaya dari sistem tersebut, yaitu meningkatkan kesejahteraan materi secara otomatis bagi kehidupan bersama. Tujuan kelas kambing. Tapi peduli apa!

Kota-kota industri secara besar-besaran dihidupkan. Pabrik-pabrik berdiri tegak seperti badai listrik menyentakkan mendung dan cuaca buruk. Dalam pada itu, puluhan ribu senjata nuklir ditimbun, dan perlombaan memproduksikan senjata selalu berlanjut dengan kecepatan yang melaju. Produksi, distribusi, dan konsumsi seolah-olah adalah kebahagiaan yang tidak mensyaratkan pembenaran.

Lingkungan-alam kian dijadikan sasaran utama, satu-satunya sasaran yang, dalam tontonan gulat, disebut sebagai ‘hold’. Tambang keriangan, ngarai berharta, pohon bernyawa, kulit binatang, dan butir emas pada pulau terjauh, pada tempat tersembunyi dilumpuhkan secara tidak terbatas. Lingkungan-alam semacam disalib di siang bolong dan disaksikan semua orang. Tapi, sekali lagi, peduli apa!

Laki-laki dan perempuan sebagai pemilik tubuh ideal, membuat banyak korporasi, universitas, dan lembaga-lembaga non-pemerintah (civil society) tergoda untuk menggabungkan dua kekuatan besar: teknologi dan ekonomi. Bila meminjam cara pikir Malcolm Barnard dalam Fashion as Communication, maka tak syak lagi, kedua kekuatan itu diletakkan pada “gaya, model busana, kosmetik kecantikan, pewangi, dan lainnya: dengan lapisan plastik maupun tidak. Diproduksi dan mencapai titik mengesankan, sekaligus menggelisahkan”.

Jalan-jalan, juga televisi dihiasi dengan iklan yang menawarkan model terkini. “Shopping mall dan pusat pembelanjaan dipenuhi dengan display model mutakhir. Etalase toko, butik dan outlet dipajang busana luar-dalam”, kosmetik dan pengharum luar-dalam, alat-alat pembantu seks, dan segala perkakas “dengan corak dan warna yang sengaja dirancang untuk merangsang hasrat dan memikat perhatian segmen konsumen”.

Loading...

Rumah mewah, gedung bertingkat, mobil berlapis emas, pesawat dengan kakus dari berlian dihadirkan manusia di muka bola mata manusia. Apa yang dipakai, dimakan, diminum, dibuang oleh manusia tampak merupakan komunikasi seksualitasnya, komunikasi artifaktualnya, dan identitas yang narsisistik. Ini tentu adalah bagian dari eksplorasi diri manusia demi diakui dan dihargai, dan menjadi leitmotif dari kebudayaan manusia, baik di kota maupun desa.

Yang paling penting, hal ini turut didukung oleh narasi, serta kebijakan-kebijakan politik ala demokrasi liberal. Politik, teknologi, dan pasar seakan merupakan alat terbaik untuk memobilisasi naluri-naluri paling dasar manusia, seperti kerakusan, keserakahan, dan napsu akan kemakmuran dan kekuasaan.

Ipso facto, menjadi mudah mengetahui bahwa ternyata manusia dalam budaya, struktur sosial, ekonomi, dan politiknya lebih suka bersaing daripada kerja sama, lebih suka mengeksploitasi lingkungan-alam daripada melestarikannya, lebih suka perang, mencari musuh daripada berdamai dalam sunyi, lebih suka pada pengetahuan rasional daripada, melibatkan pula, kearifan intuitif.

Di balik itu, jumlah populasi manusia menjadi sangat kelebihan, tidak berbanding lurus lagi dengan sumber energi dan sumber alam yang menjadi gantungan eksistensinya. Kemajuan teknologi industri telah menjadi penyebab degradasi hebat pada lingkungan-alam. Asap-kabut, polusi udara bukan hanya mempengaruhi dan menjadi bahaya besar bagi kesehatan manusia, tapi juga melukai dan membunuh tumbuh-tumbuhan, dan mengubah secara radikal populasi binatang.

Selain itu, jauh-jauh hari, kesehatan manusia telah terancam oleh air yang diminum dan makanan yang dimakan, yang keduanya tercemar oleh berbagai macam bahan kimia beracun, yang berasal dari hasil produksi, distribusi, dan konsumsi manusia sendiri.

Tergoda akan ekspansi dan keuntungan besar, manusia yang satu (produsen) mendorong manusia yang lain (konsumen) berkompetitif untuk saling membeli, menggunakan, dan membuang semakin banyak produk dengan manfaat marginal. Produk-produk itu, menurut Capra, “sebagian besar adalah serat sintetis, plastik, obat-obatan dan pestisida, makanan yang bercampur, yang padanya sangat tergantung bahan kimia yang kompleks”.

Dengan begitu, maka ada sejumlah sampah kimia yang sangat berbahaya yang merupakan akibat nyata dari, seperti telah disinggung, gabungan pertumbuhan teknologi dan ekonomi. Dan, ketika produksi dan konsumsi meningkat, maka semakin meningkatlah sampah kimia tersebut, juga penyakit, yang merupakan efek yang tak dapat dihindari dari aktivitas (korporasi) manusia.

Sampai di situ, ada dua hal yang dapat dijadikan pegangan. Pertama, berpegang pada cerita yang disampaikan oleh BlueDot tentang awal mula ditemukannya ‘corona’, serta ebola, MERS dan SARS yang muncul lebih dulu, dipastikan, telah terjadi akumulasi yang sedemikian angker pada jaringan penyakit yang diidap selama ini oleh lingkungan-alam, dan sedemikian angker pula memberi dampak kepada yang hidup daripadanya.

Pada titik itu, dalam A Study of History, sebuah studi tentang pola kebangkitan dan keruntuhan peradaban, karya Arnold Toynbee, mengungkapkan tentang adanya disintegrasi yang dimunculkan terutama oleh lingkungan-alam, kemudian oleh bermacam-macam indikator sosial, antaranya: tersebarnya dan meningkatnya penyakit secara tidak wajar dan kematian yang disebabkan olehnya, meningkatnya perang dan kejahatan tindak kekerasan, meningkatnya angka bunuh diri dan kecelakaan di kalangan anak-anak muda, meningkatnya alkoholisme dan penyalahgunaan obat, bertambahnya jumlah anak-anak yang menderita cacat fisik dan mental, dan penyakit kejiwaan.

Semua itu adalah krisis yang tengah dihadapi manusia saat ini. Bagi Toynbee, krisis tersebut, tidak bisa tidak, menuntut terjadinya suatu transisi secara spontan dari kondisi statis ke aktivitas dinamis. Karena itu, akan timbul suatu pola interaksi yang disebutnya sebagai ‘tantangan dan tanggapan’. Tantangan dari lingkungan-alam dan sosial memancing tanggapan dalam suatu masyarakat, yang mendorong masyarakat itu memasuki proses peradaban baru.

Kedua, berbarengan dengan munculnya berbagai anomali ekonomi, politik, teknologi, kebudayaan, serta berbagai patologi sosial dan lingkungan-alam, dimungkinkan, terbangkitnya suatu kelompok kreatif. Dengan kreatifitas yang dimiliki dan telah disiapkan, kelompok tersebut, sekali lagi, dimungkinkan, sengaja mengubah secara radikal tatanan hidup dengan cara menciptakan dan melepaskan ‘corona’. Kelompok kreatif semacam ini, pada prinsipnya, hendak pula membawa masyarakat manusia keluar dari kondisi equilibrium memasuki suatu keseimbangan berlebihan yang tampil sebagai tantangan baru. Dengan cara ini, tanggapan kreatif telah disiapkan oleh kelompok tersebut. Bagaimana bentuknya?

Apapun alasan yang pantas dikemukakan, yang pasti, semua itu harus membangkitkan kesadaran manusia, bahwa lingkungan-alam masih tetap disalib. Robot pengadaan jasa seks, komunikasi dan angkut barang telah tercipta. Ruang kedap udara berisikan teknologi paling mutakhir, barangaki, telah tersedia. Individualisme, sekali lagi, adalah produk yang paling mahal. Sebuah produk yang bergandeng-tangan dengan hilangnya keistimewaan ontologis manusia.

Bersamaan dengan itu, perlawanan, pemberontakan, dan perang akan menjadi pilihan yang logis dan hampir pasti tetap ada dalam seluruh proses kehidupan. Tokoh Winston Smith dan Bung Besar, yang dilukiskan George Orwell dalam Nineteen Eighty-Four, terus bermunculan. ‘Perasaan ketiadaan kuasa’ dan ‘kehendak akan kuasa’ yang digambarkan Nietzsche dalam karya akbar yang ganjil, Thus Spoke Zarathustra, selalu tinggal dalam diri manusia.

‘Corona’ tengah mencoba menulis ulang sejarah. Hari ini manusia saling merebut bahan bakar fosil. Esok hari mereka akan merebut air dan makanan. Hari ini manusia gunakan masker. Esok hari, pada punggung-punggung mereka tergantung tabung oksigen. Banyak hal dalam kehidupan adalah virus, namun tak ada yang lebih menjadi virus ketimbang manusia.

Aprino Berhitu, MA, Alumni S2 Resolusi Konflik UGM

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *