Kenaikan Yesus, Turunnya Orde Baru dan Hidup yang Dinamis Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

KAMIS, 21 Mei 2020 Umat Kristiani merayakan hari Kenaikan Yesus ke Surga. Sebagai warga Indonesia kita juga mengenang tumbangnya Orde Baru seiring mundurnya Soeharto dari kursi Presiden, setelah berkuasa tiga puluh tahun lebih. Pada kesempatan ini, saya hendak menorehkan beberapa catatan reflektif terkait dua peristiwa tersebut dan direfleksikan dengan kondisi kovid 19 saat ini.

Pertama, perayaan Hari Kenaikan Yesus ke Surga dapat menjadi momentum perenungan bagi umat Kristiani untuk terus mengembangkan iman dan spiritualitasnya agar makin tangguh menghadapi berbagai tantangan dan kemelut termasuk pandemik covid 19 saat ini. Ketangguhan spiritual ini bersumber dari Kitab Suci yang memberi penguatan kepada umat di saat krisis. Yesus sebelum naik ke Sorga menyampaikan jaminan penyertaan Kuasa Roh Kudus kepada umat sehingga mereka tidak sendiri di dunia ini. Ada kuasa dan kasih Allah yang selalu menyertai mereka sembari terus berkarya untuk menghadirkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan. Gereja Protestan Maluku (GPM) membingkai tema perayaan ini “Kristus yang Naik ke Sorga Memberi Kuasa Menjadi Saksi”. Tema ini sekaligus memberi tanggungjawab dan agenda etik bagi para pelayan dan umat untuk bersaksi dan melayani, khususnya di masa sukar sulit saat ini. kesaksian dan pelayanan itu bermuara untuk kebaikan seluruh ciptaan.

 

Kedua, perayaan umat Kristiani berdekatan dengan perayaan Idul Fitri yang merupakan peristiwa imaniah bagi umat Islam. Secara simbolik hal ini mengirimkan pesan persaudaraan dan kebersamaan yang perlu terus dijaga dan dirawat demi kemaslahatan bersama. Agama-agama sebagai energi spiritual dan pembebas dapat saling sinergi untuk sama-sama menghadapi pandemi covid 19 yang melanda umat manusia sekarang ini. Agama-agama memberi inspirasi dan motivasi, harapan serta ketangguhan kepada umat agar tetap tegar, optimis dan saling bekerjasama untuk mengatasi krisis saat ini. Agama-agama menjadi oase dan penyejuk bagi penderitaan dunia serta memberi jalan keluar ketika banyak orang mengalami jalan buntu.

Loading...

 

Ketiga, momen perayaan ini bersamaan juga dengan ingatan terhadap tumbangnya Orde Baru sebagai salah satu bagian dari perjalanan sejarah bangsa ini. sebuah era baru yang dikenal sebagai era reformasi itu, semestinya makin membawa kemaslahatan bagi warga bangsa Indonesia. Tapi keadaan saat ini mungkin tidak seindah yang dibayangkan 22 tahun yang silam. Indonesia masih bergumul dengan program reformasi bahkan revolusi mental yang tak kunjung selesai. Demikian pula masalah kemiskinan, pelanggaran HAM, krisis lingkungan dan sebagainya masih terjadi saat ini. Pada lain, pihak kita juga patut mensyukuri berbagai capaian pasca-reformasi 1998 itu. Momen ini menjadi kesempatan untuk sebagai warga beragama dan warga bangsa kita bersama-sama bersinergi membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera bagi semua.

Keempat. Hidup akan terus berlanjut. Kita tak perlu menyesali masa lalu dan berkhayal tentang masa depan. Yang perlu dilakukan saat ini adalah membuat hidup terus dinamis, tidak statis apalagi kontraproduktif. Hidup merupakan anugerah sekaligus kesempatan bagi umat manusia untuk menabur kebaikan kepada siapa saja. Di era pandemic saat ini, umat manusia dipanggil untuk terus membangun solidaritas sosial, saling berbagi harapan dan semangat serta rela berkorban untuk kepentingan bersama.

Tidak ada saatnya lagi untuk saling berbantah-bantahan dan saling menyalahkan. Inilah saatnya bersinergi dan berkolaborasi untuk bersama-sama meghadapi ancaman virus Covid 19 serta berbagai persoalan yang datang silih berganti. Dengan begitu, agama-agama akan menyumbang makna kehidupan dan tetap relevan sepanjang masa. Jika tidak, mungkin saja agama-agama akan ditinggalkan. Yesus telah naik ke Surga tapi ia tetap menyertai umatNya melalui Roh Kudus. Suharto dan Orde Baru telah lama tumbang, tetapi kerja untuk mengisi reformasi bangsa masih terus berlanjut hingga terwujud cita-cita para pendiri bangsa ini, yakni masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *