Kepemimpinan Perempuan dan Gereja Oleh: Pdt Evie Lewaherila dan Pdt Rudy Rahabeat

by

Salah satu ciri kepemimpinan feminis adalah pengkaderan. Jika saat ini GMIT (Gereja Injili Masehi di Timor) sudah memberikan kesempatan yang sama untuk perempuan dan laki-laki menjadi pemimpin gereja di berbagai lingkup, momentum ini harus dijaga dengan baik.

Kita semua sudah mesti menyiapkan dan dengan sadar mendorong perempuan untuk menyiapkan diri menerima estafet kepemimpinan bersama saudara kita kaum pria, untuk memimpin di lingkup jemaat, klasis, dan sinode. Dengan sebuah tekad, bahwa ketika perempuan melayani harus ada perubahan kualitas penataan diri dan misi gereja yang lebih baik.

Perempuan tidak boleh sekedar hadir utk memenuhi kuota, tetapi ada kualitas diri dan kepemimpinan yang disumbangkan untuk penataan diri dan penataan misi gereja yang lebih bermutu. Demikian cuplikan pandangan Pdt Dr Merry Kolimon, Ketua Sinode GMIT ketika memberi sambutan pada pembukaan Webinar bertemakan kepemimpinan perempuan yang diselenggarakan oleh Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi (Peruati) Timor Kepulauan dan Majelis Sinode GMIT.

Pendeta perempuan pertama yang menjadi ketua Sinode di GMIT itu mengapresiasi berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh perempuan dalam kepemimpinan di gereja maupun masyarakat, namun pada saat yang sama ia mengingatkan agar jangan cepat berpuas diri.

“Kita harus terus berefleksi secara kritis, apa saja capaian, apa plus minus dari perjuangan kesetaraan dan keadilan jender dan capaiannya” ungkap penerima penghargaan Sylvia Michel Prize dari WCRC dan Persekutuan Gereja-gereja Protestan di Swiss tahun 2017.

Pdt Irene Lolo, kandidat doktor dari STT Jakarta yang juga Ketua STT Gereja Kristen Sumba sebagai sebagai salah satu narasumber mengkritisi berbagai kekerasan yang dialami oleh perempuan bagi struktural maupun kultural.

Contoh teraktual adalah praktik kawin tangkap yang memosisikan perempuan sangat rentan untuk diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi. Ia berharap agar praktik-praktik budaya yang tidak adil gender dapat ditransformasi demi harkat manusia yang makin tercerahkan.

Loading...

Selain itu, merespons pentingnya peran keluarga, seperti disampaikan salah satu peserta webinar, ia menegaskan bahwa keluarga memegang peranan penting dalam menyemai nilai-nilai adil gender dan kesetaraan.

Selain perempuan, webinar ini juga memberi ruang kepada suara laki-laki. Pdt Leo Natu Taku Bessi turut memberi perspektifnya. Berdasarkan pengalaman pelayanannya bersama perempuan pendeta maupun presbiter perempuan, ia melihat ada hal-hal positif yang muncul dalam pelayanan tersebut. Perempuan ternyata dapat melayani dengan optimal dan hal ini menepis keraguan seakan-akan perempuan tidak bisa memimpin atau sekedar pelengkap laki-laki.

Webinar ini selain diikuti oleh perempuan tetapi juga laki-laki. Selain dari GMIT dan GKS webinar ini juga dihadiri peserta dari Ambon, Medan, Kalimantan, Jakarta dan Manado. Pdt Ruth Wangkay, mantan Ketua Umum Peruati Pusat dan Pdt Oberlina Yohanes, Sekum Pengurus Peruati Nasional saat ini, turut hadir pula. Moderator webinar Pdt Ria N Bathun dan host Pdt Evie Lewaherila dari GMIT. Narasumber lainnya adalah Pdt Ivone Peka.

Webinar ini menjadi penanda tentang geliat kepemimpinan perempuan di gereja maupun ruang publik. Bahwa perempuan memiliki nilai-nilai, karakter dan citra diri yang dapat berkontribusi positif dalam pembangunan gereja maupun masyarakat. Olehnya stigma dan streotipe negatif terhadap perempuan harusnya dihilangkan.

Sebaliknya, dalam semangat kemitraan setara dengan laki-laki, perempuan dan kepemimpinan perempuan dapat mentranformasi tatanan kehidupan bersama menuju arah yang lebih baik dan mencerahkan. Jalan masih panjang, namun hanya mereka yang berjalan saja yang tiba sampai tujuan. Apalagi jika berjalan bersama-sama dalam semangat kesetaraan dan saling melengkapi. Maju terus (kepemimpinan) perempuan di gereja dan masyarakat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *