Kerajinan Bambu dan Keripik Pisang, Bakal Jadi Usaha Mandiri Warga Siwang

by
Salah seorang pemuda di Siwang yang ikut membuat kerajinan berbahan bambu untuk dijadikan buah tangan, (1/10). FOTO: Priska Birahy

TERASMALUKU.COM,AMBON, –  Siwang paradise sejak dibuka awal 2020 telah menyedot ribuan pengunjung. Wisata yang dibangun swadaya oleh masyarakat setempat terus berinovasi. Salah satunya dengan membikin ragam kerajinan khas untuk dibawa pulang.

Berlokasi di puncak dan dikelilingi hutan, kawasan Siwang menyimpan potensi alam berupa pohon bambu. Nah, masyarakat sekitar lantas diajarkan untuk membuat kerajinan berbahan dasar bambu sebagai buah tangan.

Kalau biasanya pergi ke Siwang hanya untuk berswafoto, tracking atau sekadar melepas penat, sebentar lagi pengunjung pun sudah bisa membawa “Katong lihat Siwang ini punya potensi. Sudah ada tempat wisata Siwang Paradise. Apa lagi yang bisa warga bikin, nah ada potensi alamnya. Ini yang katong dorong biar masyarakat mandiri,” terang James Pakniany, inisiator sekaligus ketua tim pengabdian kepada masyarakat dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pariwisata Budaya dan Agama, IAKN Ambon, (1/9/2020).

James siang tadi berada di kampung Siwang. Bersama warga dosen juga beberapa mahasiswa mereka menemani para ibu membikin keripik pisang. Ada juga beberapa pemuda yang sementara merapikan kerajinan.

Bambu dari hutan di sekitar, diambil lalu diukir sesuai model yang diinginkan. Siang itu di salah satu rumah yang jadi workshop kerajinan sudah ada lampu, asbak, gelas serta asesoris.

Loading...

Kata James, lampu duduk adalah primadona. Didampingi fasilitator, anak muda Siwang diajarkan cara membuat lampu duduk unik dengan bahan dan alat seadanya. Memang jumlahnya belum banyak dan masal. Tapi perlahan mereka dilatih untuk berdaya dengan memanfaatkan sumber yang ada di sekitar.

“Katong ingin kalau orang pulang dari Siwang sini bisa bawa oleh-oleh khas dari warga setempat. Ini juga untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dan kemandirian warga,” lanjut pria yang juga menjadi salah satu pendiri lokasi wisata Siwang Paradise itu.

Pada tahap awal, kendala terbesar adalah soal keterampilan. Anak-anak masih perlu berlatih untuk memotong lalu mengukir bambu jadi benda yang mereka inginkan. Berthy Parera, fasilitator kerajinan menyatakan semua berangkat dari nol. Karena itu perlu dilatih perlahan. “Seperti untuk lampu pembuatnnya sekitar 3-4 jam. Karena semua dari nol jadi pelan-pelan dan modelnya pun seng rumit-rumit,” jelasnya kepada wartawan.

Selain kerjinan kini para ibu juga tengah bersiap dengan panganan khas Siwang berupa kue bahan tepung keladi, petatas dan pisang, serta keripik pisang aneka rasa. Lagi-lagi pisangnya mereka peroleh dari hutan sekitar. Siang itu di belakang Gereja Eirene Jemaat Sersing para ibu memotong menggoreng pisang.

Sementara para dosen dan mahasiswa menyiapkan plastik pembungkus yang telah diberi label. Harapannya pelatihan serta pendampingan ini menjadi rangsangan bagi warga untuk maju. Mereka bisa mandiri memajukan wilayah mereka dari wisata terpadu di Siwang. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *