Kisah Pilu Transportasi Darat Selama Wabah Covid-19 Oleh : Zulfikar Halim Lumintang, SST.

by
Zulfikar Halim Lumintang, SST. FOTO : DOK.PRIBADI

Secara kasat mata, sektor transportasi mungkin akan menjadi sektor lapangan usaha yang paling terdampak dari mewabahnya Covid-19. Ya, selain merupakan sektor yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Sektor transportasi memang memiliki tugas dan fungsi memindahkan orang dan barang dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satunya adalah transportasi darat. Transportasi darat jelas menjadi subsektor yang paling sibuk diantara subsektor transportasi yang lain. Mengingat daratan memang menjadi tempat tinggal manusia. Sehingga waktu terbanyak pun dihabiskan di daratan.

Oleh karena itu, banyak sekali macam dan jenis transportasi darat yang dimanfaatkan, khususnya di Indonesia. Mulai dari transportasi darat jarak dekat, jarak menengah, dan jarak jauh. Semuanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Untuk transportasi darat jarak dekat, biasanya cenderung lebih tradisional dan masih memanfaatkan tenaga manusia maupun hewan. Contohnya adalah becak, cikar dan dokar. Alat transportasi tersebut biasanya banyak kita jumpai di pedesaan. Tapi, ketiga alat transportasi tersebut sudah jarang kita jumpai pada saat sekarang ini. Karena memang, seiring dengan berkembangnya zaman, penggunaan teknologi juga tetap harus menjadi kewajiban, agar tidak ketinggalan.

Namun, tidak sedikit juga masyarakat kelas bawah yang masih bergantung dari becak untuk menghidupi keluarganya. Dan yang jelas, tingkah polahnya membuat kita seringkali merasa iba, saat melihat kang becak mengayuh becak tuanya tanpa penumpang.

Kemudian untuk transportasi darat jarak menengah, kita bisa ambil contoh ojek, angkot, transjakarta, taksi, bus kota, dan lain sebagainya. Sebagian dari alat transportasi tersebut pun mulai dimodernisasi oleh teknologi. Sebut saja Gojek dan Gocar.

Dan yang terakhir adalah transportasi darat jarak jauh. Tentu yang paling populer adalah bus malam. Bus tersebut bisa mengantar penumpang antar kota, antar provinsi, bahkan antar pulau. Faktanya, alat transportasi bus malam selalu jadi pilihan alternatif para perantau yang ingin kembali ke kampung halamannya. Karena memang tiketnya sangat terjangkau, meskipun waktu tempuh perjalanan yang lama.

Dari sekian banyak transportasi darat di Indonesia, rasa-rasanya tidak ada yang tidak terdampak pandemi Covid-19. Hal itu pun terbukti dengan dirumahkannya para sopir dan kondektur bus antar kota. Kemudian disusul dengan transportasi online yang sepi penumpang. Namun, sebenarnya separah apakah efek dari pandemi Covid-19 terhadap transportasi darat di Indonesia?

Kegiatan Usaha Terjun Bebas

Bank Indonesia pada triwulan I 2020 memaparkan hasil evaluasinya bahwa kegiatan usaha sektor transportasi mengalami kontraksi atau penurunan. Hal tersebut ditunjukkan oleh Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sektor transportasi yang menyentuh angka -0,57%. Angka tersebut lebih rendah dari triwulan IV 2019 yang terakselerasi dengan SBT 0,78%.

Loading...

Sejalan dengan kegiatan usaha yang menurun, realisasi penggunaan tenaga kerja sektor transportasi juga mengalami hal yang sama. Ditandai dengan SBT yang mengalami kontraksi, mencapai angka -0,06%. Realisasi tenaga kerja tersebut berbeda jauh dengan triwulan IV 2019, yang mengalami akselerasi di angka 0,13%.

Kemudian Badan Pusat Statistik secara lebih mendalam juga memaparkan bahwa, kontribusi subsektor angkutan darat terhadap PDB sebesar 2,53%. Angka tersebut naik dari triwulan IV 2019 yang mencapai 2,48%. Meskipun secara persentase mengalami kenaikan. Namun sejatinya secara nilai mengalami penurunan. Pada triwulan IV 2019 mencapai Rp 99.671,50 miliar, sedangkan pada triwulan I 2020 hanya mencapai Rp 99.235,20 miliar.

Dan pada akhirnya, hal itupun berimbas pada nilai PDB sektor transportasi dan pergudangan. Sektor tersebut mengalami penurunan nilai PDB pada triwulan I 2020, jika dibandingkan nilai PDB pada triwulan IV 2019. Dimana pada triwulan IV 2019 nilainya mencapai 226.174,20 miliar, sedangkan pada triwulan I 2020 nilainya hanya menyentuh angka 202.820,40 miliar.

Saran Kebijakan

Pandemi Covid-19 sukses membuat kita semua panik dan bingung. Dengan serangannya yang begitu cepat, tak banyak yang bisa kita perbuat. Sebelum munculnya wabah ini, seharusnya kita sudah menjaga diri dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Termasuk bagi kita para pengguna maupun pengusaha alat transportasi darat.

Pola hidup bersih dan sehat dalam kendaraan transportasi darat bisa dimulai dengan tetap memakai masker dan sarung tangan kemanapun kita pergi. Dari sisi pemerintah, sebagai penyedia transportasi massal seperti transjakarta, perlindungan kepada masyarakat bisa dimulai dengan membatasi jumlah penumpang dalam satu bus.

Kemudian pemerintah juga seharusnya mengatur jarak antrian penumpang yang membeli tiket. Menyediakan hand sanitizer j​uga mutlak wajib dipenuhi pemerintah pada setiap armada. Selanjutnya yang paling penting adalah menjaga armada agar tetap aman dari virus. Hal ini bisa dilakukan menyemprotkan desinfektan secara berkala pada setiap armada yang akan beroperasi.

Untuk transportasi darat milik perseorangan, semacam angkot, bisa dipastikan akan sepi penumpang. Karena susahnya melakukan ​physical distancing di dalam angkot. Ditambah lagi, ​image y​ ang cenderung tidak higienis membuat penumpang saat ini harus berpikir ulang menggunakan alat transportasi tersebut.

Pemerintah pun diminta tanggap akan kesulitan yang dialami para pengusaha angkot tersebut. Stimulus berupa keringanan pajak dan kredit, menjadi permintaan para pengusaha angkot. Ya, kredit merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dari para pengusaha menengah tersebut. Ketika usahanya tersendat, maka mereka pun jelas kebingungan dalam mengangsurnya.

Kebijakan ​swab test secara massal seharusnya juga dilakukan bagi para pengguna transportasi umum. Hal ini untuk pencegahan penularan di dalam suatu armada. Yang jelas, bagaimanapun juga manusia itu dinamis. Dan transportasi darat pun menjadi perantaranya. Ketika kita sudah menerapkan protokol kesehatan dengan benar, maka peluang kita tertular pun berkurang. Berdoa saja. Semoga wabah ini cepat berakhir.

Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *