Kisah Relawan Pengurus Jenazah Covid-19 di Ambon, Dikunci hingga Nyaris Ditikam

by
Proses pemakaman jenazah Covid-19 oleh tim relawan di TPU khusus Hunut Kota Ambon. FOTO : DOK RELAWAN PMI Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Menjalankan tugas kemanusiaan sebagai relawan covid-19 bukan perkara mudah. Apalagi tugasnya mengurus jenazah. Tidak semua orang berani ada di posisi ini. Namun bagi Herry Latuheru (40) petugas di bagian pemulasaran dan pemakaman jenazah covid-19, pekerjaan ini adalah panggilan jiwa.

Sudah 27 tahun Herry mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Ia bahkan terlibat langsung dalam penanganan pasca bencana. Diantaranya, Tsunami Aceh, Gempa Padang hingga Gempa Palu. Herry yang merupakan Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) ini ikut ambil bagian dalam pemulasaran dan pemakaman jenazah korban bencana alam.

Dari sekian banyak pengalaman sebagai seorang relawan kemanusiaan, suka duka menjadi relawan covid-19 punya tantangan tersendiri. Berbagai cibiran dan ancaman kerap ia terima dari keluarga pasien meninggal dunia sampai ditodong pisau saat masih gunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.

“Pernah suatu kali kami baru selesai membungkus jenazah covid-19 untuk siap-siap dimakamkan. Tiba-tiba keluarga pasien datang ke arah saya lalu todongkan pisau. Hampir saja ditikam karena mereka tidak terima keluarganya dinyatakan meninggal karena covid-19. Kami sempat dikunci dalam ruangan selama satu jam,” ungkap Herry saat ditemui Jumat (30/10/2020).

Berulang kali Sekretaris PMI Maluku ini diamuk keluarga pasien meninggal dunia. Kejadian besar yang menghebohkan tanah air saat perampasan jenazah covid-19 inisial HK di Kawasan Batu Merah Kota Ambon. Ratusan massa yang menghadang petugas di jalan raya, berhasil mengambil jenazah Covid-19  untuk dimakamkan sendiri.

Loading...

Menurutnya, pemulasaran jenazah sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang dikeluarkan WHO. Dimana semua jenazah covid-19 dimakamkan dengan pakaian yang menempel saat itu. Untuk yang muslim dikafani, tetap tahayum dalam kondisi terbungkus. Itu sesuai standar protokol Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kini di RSUD Haulussy Ambon, RS rujukan Covid-19, pihak keluarga dapat melihat proses pemulasaran jenazah melalui video streaming juga didoakan oleh pemuka agama.

“Untuk mengedukasi masyarakat. Memang harus seperti itu. Kemarin itu banyak yang menolak, karena mereka masih minim informasi. Tapi semenjak keluarga bisa melihat proses pemularasan jenazah tidak ada protes lagi,” ungkapnya.

Menjadi bagian dari pemulasaran jenazah tidak asal tunjuk. Hanya yang sudah mendapatkan sertifikasi saja. Di PMI ada 3 orang. Kemudian PMI memberikan pelatihan khusus kepada Tagana dan Tenaga Kesehatan (Nakes).

APD yang dipakai petugas pemulasaran dan pemakaman juga berbeda dengan Nakes yang menangani pasien.
“APD yang kami pakai level tiga. Itu dikirim dari PMI Pusat. Sekarang sudah ada tiga tim relawan yang mengurus jenazah, selain PMI ada Tagana Kota Ambon dan Tagana Provinsi,” terangnya

Dalam satu tim terdiri dari 12 orang, tugasnya dibagi, ada bagian semprot disinfektan, membungkus jenazah, masukkan jenazah dalam peti maupun di liang lahat.

Sampai detik ini, lelaki berkepala pelontos ini terus mensyukuri tugas dan tanggungjawabnya demi kemanusiaan. Selama menjadi relawan covid-19 ia jarang berkumpul dengan keluarga. Awal pandemi, bisa sebulan lebih tidak kembali ke rumah, demi melindungi keluarganya.

“Tapi sampai sekarang saya bersyukur. Saya dan tim belum ada yang terinfeksi covid-19. Sudah empat kali swab. Kami semua masih negatif. Ini karena protokol kesehatan menjadi bagian terpenting bagi kami,” ungkapnya.(RA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *