Kisah Tujuh Warga Tual Terdampar di Pulau Tak Bertuan Dan Berhasil Dievakuasi

by
Tujuh korban warga Pulau UT Kecamatan Dullah Selatan Kota Tual yang terdampar berhasil dievakuasi dengan selamat ke Pelabuhan Kota Tual, Sabtu (17/3), mereka berfoto bersama Kapolres Malra, Kepala Kantor Syahbandar Tual.

TERASMALUKU.COM,-TUAL- Setelah bertahap hidup selama tiga hari di laut,tujuh warga Pulau UT Kecamatan Dullah Selatan Kota Tual yang terdampar berhasil dievakuasi dengan selamat ke Pelabuhan Kota Tual, Sabtu (17/3). Ketujuh warga tersebut terdampar di Pulau Bui, yang tak berpenghuni sejak Rabu, (14/3) dan baru bisa berkomunikasi dengan keluarga mereka pada Jumat (16/3).

Para korban saat itu melakukan pelayaran dari Pulau Teor Kecamatan Seram Bagian Timur menuju Kota Tual dengan speed boot bermesin 15 PK. Ketujuh warga tersebut adalah  Moksen Rumagiar, Abdulatif Rumagiar, Juan Salindeho, Ny.Masaad Rumagiar, Paskalis Rumagiar, Silvester Rumagiar dan  Ongen Rumagiar.

Speedbot yang ditumpangi tujuh warga ini mengalami kerusakan mesin setelah  dihantam gelombang tinggi. Korban terombang ambing di laut dengan speedboat selama tiga hari dan terdampar di Pulau Bui. Mereka juga  tidak memiliki perbekalan makan dan minuman.

Untung saja para korban bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga mereka di Kota Tual, sehingga dilakukan upaya penyelamatan oleh petugas. Mereka berhasil dievakuasi ke Pelabuhan Tual dengan menggunakan Kapal Patroli KPLP Salawaku KNP. 213 milik Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PPLP) Kelas II Tual.

Setibanya di Pelabuhan Tual, para korban disambut Kapolres Maluku Tenggara AKBP Indra Fadila Siregar, Kepala Kantor Syahbandar dan UPP Kelas II Tual, A. Rifai dan Plh Kepala Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Tual,John Untayana . “Seluruh korban yang berjumlah tujuh orang berhasil dievakuasi dan tiba di Tual dengan selamat pada Sabtu 17 Maret dan selanjutnya ditangani tim medis untuk pemeriksaan kesehatan mereka,” kata Rifai.

Rifai juga  menghimbau kepada masyarakat di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual agar tidak melakukan pelayaran selama beberapa hari kedepan dengan  menggunakan angkutan laut, mengingat cuaca ekstrim dan kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini.

Lalu bagaimana para penumpang speedboat bisa bertahan hidup di laut. Salah satu korban, Moksen Rumagiar mengungkapkan, speedboat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin akibat di hantam gelombang tinggi. Speedboat tersebut terombang ambil di laut dan akhirnya terdampar di Pulau Bui.

Menurut Moksen, untuk bertahan hidup, ia dan korban lainnya memanfaatkan hasil alam di pulau tak bertuan tersebut untuk dimakan. “Kami terdampar selama tiga hari empat malam, selama itu kami hanya makan pisang dan meminum air hujan dan air kelapa untuk bertahan hidup. Nanti setelah hari ke tiga baru dapat jaringan untuk menghubungi keluarga melalui telepon seluler,”tutur Moksen. (AS)