Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita, Catatan Reflektif Pendeta Dr John Ruhulessin

by
Pdt John Ruhulessin

BEBERAPA waktu lalu, Kepala BNPB RI, Letjen TNI Doni Monardo melakukan kunjungan kerja ke kota Ambon, ibukota Provinsi Maluku. Selain berjumpa para pimpinan daerah dan stakeholders terkait, ia juga membawakan ceramah di Universitas Pattimura Ambon. Salah satu gagasan yang mengemuka  adalah frasa “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita”. Berikut ini sedikit catatan reflektif terkait hal tersebut.

Dalam kosmologi atau cara pandang masyarakat Nusantara terdapat pandangan yang ramah dan empatik terhadap alam dan lingkungan hidup. Orang Papua misalnya menyebut alam atau tanah sebagai Mama/Ibu. Demikian pula orang Maluku, khususnya di pulau Seram, menyebutkan Nusa Ina atau pulau Ibu sebagai ungkapan kedekatan dan kelekatan manusia dengan alam. Dapat disimpulkan bahwa kosmologi masyarakat Nusantara melihat relasi yang intim dan akrab antara manusia dan alam sebagai suatu keutuhan (monodualis). Keduanya dapat dibedakan tapi tak dapat dipisahkan.

Jika pandangan kosmologis melihat relasi yang begitu akrab antara manusia dan alam, maka konsekuensinya manusia bertanggungjawab menjaga dan merawat alam agar tetap lestari. Sebaliknya, alam pun akan menjadi ramah dengan manusia dan tercipta suatu hubungan mutualis, saling ketergantungan dan saling melengkapi. Fenomena ini meringkas apa yang diungkapkan oleh Kepala BNPB RI, Letjen Doni Monardo dengan frasa “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita”.

Bagi saya, frasa “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita” memiliki dua makna yang substansial. Pertama, adanya sebuah pengetahuan dan kesadaran epistemik tentang relasi antara alam dan manusia. Manusia tidak boleh mengeksploitasi alam dengan semena-menanya. Sebab ibarat satu tubuh banyak anggota, maka ketika ada anggota tertentu terluka atau sakit, maka akan mempengaruhi tubuh secara keseluruhan. Kedua, sebuah imperatif etik. Panggilan menjaga dan merawat alam bukan sebuah keterpaksaan, tetapi sebuah tanggungjawab etik manusia terhadap keutuhan ciptaan Tuhan (integrity of creation).

KRISIS LINGKUNGAN DAN TANGGGUNGJAWAB AGAMA-AGAMA

Di antara berbagai lembaga atau institusi yang bertanggungjawab menanamkan kesadaran dan komitmen menjaga dan merawat alam, maka agama-agama memilih tanggungjawab yang utama. Hal ini bukan saja, karena Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamais, tetapi lebih daripada itu, pada tiap-tiap agama memberi aksentuasi dan perhatian yang besar terhadap pentingnya merawat bumi dalam suatu keutuhan. Dalam agama Islam lazim dikenal ungkapan “rahmatan lil alamin” yang menegaskan kesadaran dan komitmen untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Demikian pula dalam agama Kristen, manusia ditugaskan untuk menjaga dan merawat bumi/alam sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Saya yakini kesadaran ekologis ini ada pula pada agama-agama lainnya termasuk pada aliran Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada lain pihak, berbagai krisis dan bencana alam yang terjadi saat ini seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, angina putting beliung hingga tsunami, membutuhkan respons agama-agama dalam sinergitas dengan negara dan lembaga lainnya untuk melakukan dua hal. Pertama, melakukan program preventif-antisipatif. Dalam konteks ini, agama-agama perlu terus membangun kesadaran umat beragama dan masyarakat pada umumnya untuk menjaga dan menghindari perilaku yang berpotensi menimbulkan krisis lingkungan dan bencana alam. Kedua, bersama-sama pemerintah dan stakeholerds lainnya, melakukan tindakan-tindakan pertolongan dan mitigasi bencana yang menolong para korban bencana alam, serta pemulihan (recovery) pasca konflik, khususnya yang berkaitan dengan aspek mental-spiritual.

Poin yang hendak saya tekankan di sini adalah bahwa agama-agama mesti menjadi mitra yang aktif bahkan proaktif saling bersinergi dan berkolaborasi dengan pemerintah, antara lain BNPB di pusat maupun daerah-daerah untuk menciptakan kultur dan perilaku yang ramah terhadap  alam dan bertanggungjawab untuk menjaga keseimbangan seluruh ciptaan.

Dengan demikian, frasa “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita” mendapat pijakan yang kuat dalam khazanah agama-agama dan kearifan lokal masyarakat Nusantara. Frasa ini kemudian dapat menjadi “semboyan” yang memotivasi dan menggerakan semua pihak untuk bersama-sama ambil peran dalam menjaga dan merawat bumi/alam sebagai “rumah bersama” yang aman dan ramah bagi semua ciptaan.

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *