KMP. Marsela Terbengkalai, Mesin Terendam Air Laut

by
Bagian belakang kapal feri KMP. Marsela terendam air dan kondisinya tak lagi terawat, (15/2). FOTO: Priska Birahy

 TERASMALUKU.COM,AMBON, – KMP. Marsela layaknya besi tua. Usai perbaikan pada 2017, kondisinya kini di DOK dan perkapalan Wayame nyaris tenggelam. Bagian belakang kapal berada di dalam air. Praktis, mesin yang ada di bagian itu ikut terendam.

Saat wartawan mengunjungi lokasi, penampakan dinding kapal begitu kusam. Ada karatan di beberapa bagian kapal. Jika tidak diperhatikan dengan seksama, KMP. Marsela seperti kapal tua yang tak bisa lagi difungsikan.

Bagian mesin KMP. Marsela yang terendam 100 persen di dalam air

Sementara dari keterangan pekerja yang ada di sekitar lokasi DOK kapal, feri tersebut masih berfungsi. Bagian mesin yang terendam kondisinya dapat diperbaiki.

Hanya, sejak absen melayari lautan Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), masyarakat merasa kesulitan. Memang ada moda transportasi tol laut. Hanya tidak maksimal mengangkut kendaraan bermotor atau barang dalam jumlah banyak.

Hal itu mengusik banyak kalangan. Salah satunya Ketua Mahasiswa Gerakan Pemuda Pemudi Maluku Barat Daya, Stevanus Termas. “Mesinnya tenggelam. Memang sekarang sudah ada Sabuk Nusantara atau tol laut. Tapi masyarakat tidak bisa maksimal angkut macam kendaraan motor dan lain-lain,” terang dia.

Dia menyebut kondisi saat ini ada kaitannya dengan kasus korupsi BUMD yang membawahi KMP. Marsela. Dia meminta agar pihak terkait dapat menuntaskan kasus ini agar kapal feri bisa berlayar kembali.

KMP. Marsela beroperasi sejak 2012 hingga 2015. Setelah itu kapal naik dok pada Desember 2016  untuk pemeliharaan. Hanya saja Stefanus menyebut, usai perbaikan pihak BUMD. Kalwedo  belum melunasi biaya doking yang ditaksir senilai Rp. 800 juta.

“Dari informasi 800 juta nanti kita pastikan di kepala dok lagi. BUMD PT. Kalwedo bangkrut dan belum membayar biaya docking.  Mantan direktur BUMD. PT Kalwedo harus bertanggungjawab. Sebagai masyarakat saya minta proses ini harus diselesaikan,” lanjut dia.

Dia menambahkan, KMP. Marsela mendapat subsidi dari dana pemerintah pusat senilai Rp 6 miliar pertahun sejak 2012-2017. Itu katanya, termasuk dengan pembelian bahan bakar, dana gaji ABK hingga pemeliharaan atau docking.

Stefanus menyebut dirinya tidak ada urusan dengan persoalan hukum hanya saja, keberadaan feri bagi masyarakat MBD sangat penting. Untuk itu dia mendesak Kejaksaan Tinggi Negeri Maluku dan BPKP Maluku untuk menlakukan penyelidikan persoalan BUMD. Kalwedo. (PRISKA BIRAHY)