Konsistensi GPM Atasi Pandemi COVID 19

by

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Sejak Maret 2020 Gereja Protestan Maluku (GPM) telah mengambil dua sikap utama terkait pandemi yakni, edukasi bagi umat dan menangani dampak pandemi covid 19.

Demikian penegasan Ketua Sinode GPM, Pdt Elifas Tomix Maspaitella pada Zoominar yang digelar oleh Klasis GPM Pulau Ambon Timur, bertajuk “Bincang Orang Muda” (BOM) yang dimoderatori Pdt Rido Maelissa, staf Media Center GPM (20/7/2021).

Acara yang diikuti hampir seratusan orang ini menghadirkan tiga narasumber yakni; Pendeta Izaak Lattu, Ph.D, dosen Fakultas Teologi UKSW Salatiga yang adalah seorang penyintas covid 19, dr Chyntia Pentury dan Yohana Behuku, seorang perawat forensik.

Pdt Izaak Lattu menceritakan pergulatannya dengan virus covid 19 pada awal tahun 2020. Dalam perjalanan pulang dari Amerika ternyata ia terpapar virus ini. Ia sempat menggunakan ventilator di rumah sakit dokter Karyadi Semarang.

“Hanya oleh pertolongan Tuhan, dukungan keluarga dan pelayanan yang prima dari para medis saya bias terselamatkan” ungkap ayah tiga anak yang beristrikan seorang dokter ini. Ia mengingatkan agar kita selalu waspada, jangan lengah dan bersama-sama mengatasi pandemi ini.

Sementara itu, dokter Chintya Pentury dalam sesi ini menceritakan bahwa ia juga pernah terkena covid 19. “Saya terkena covid di rumah, bukan di tempat kerja. Jadi cluster rumah juga perlu diwaspadai,” ungkap alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini.

Ia menjelaskan ada 3 jenis sakit akibat covid, yakni ringan, sedang dan berat. Menurut dokter yang sehari-hari bekerja di rumah sakit dokter Haulussy ini diperlukan kerjasama semua pihak untuk mengatasi pandemi ini. Ia mengapresiasi peran Gereja Protestan Maluku (GPM) yang terus mengedukasi umat, termasuk melalui acara Zoom ini.

Di sisi lain, Yohana Behuku, yang bekerja di rumah sakit yang sama (dokter Haulussy) menyatakan bahwa masyarakat tidak usah takut datang ke rumah sakit untuk memeriksa diri. Ia sehari hari bekerja menangani pemulasaran jenazah covid 19 terus melayani dengan sepenuh hati.

“Saya tetap melayani pasien covid karena ini merupakan tugas yang mulia” ungkapnya.

Acara ini banyak respons dari peserta. Salah satunya dari Ricky Paliyama, seorang ayah yang merawat empat orang anggota keluarganya yang terserang virus covid. Ia menegaskan bahwa covid itu benar-benar ada. Ia mendampingi proses isolasi mandiri keluarganya di rumah.

Palyama menyampaikan pentingnya penanganan orang yang punya gejala covid. “Bagaimana cara menangani pasien yang sudah ada gejala covid 19 tapi belum mendapat hasil test PCR sebab harus menunggu beberapa hari? Kadang fase ini pasien bergumul sendiri. Dan pasien harus mencari jalan untuk isolasi mandiri. Perlu penanganan pertama bagi orang dengan gejala covid” ungkap Palyama. Ia mengharapkan pemerintah jeli dan proaktif untuk menangani masalah ini.

Diskusi yang berlangsung dua jam ini memberi edukasi dan pencerahan bagi umat dan masyarakat.

“Ini merupakan salah satu cara GPM melakukan edukasi kepada masyarakat” ungkap Pdt Vebbiola Songupnuan-Latuheru, Sekretaris Klasis GPM Pulau Ambon Timur. Acara Zoominar akan dilakukan secara berseri dengan menghadirkan berbagai narasumber yang bervariasi. (Rudy Rahabeat, Kontributor TERASMALUKU.COM).