Kota Tua Itu, Saparua Oleh : Maryo Lawalata, Pendeta GPM, Anak Negeri Lease

by
Pdt Maryo Lawalata. FOTO : ISTIMEWA

KOTA ini masih tetap sama 18 tahun yang lalu ketika beta meninggalkan kampung untuk “berguru” di kota provinsi. Belum ada sedikitpun perubahan-perubahan infrastruktur ekonomi, jalan, maupun transportasi yang layak sesuai zamannya. Padahal kota ini, mungkin lebih tua dari negara kita ini.

Saparua kota tua itu nampak kurang dilirik dalam skenario pengembangan dan pembangunan Kabupaten Maluku Tengah. Memang agak miris sekali, sebab kota ini masuk dalam deretan kota-kota bersejarah dalam jejak-jejak historis Indonesia, yang telah maju bahkan berkembang dengan sangat pesat bahkan berkembang menjadi kota-kota budaya dan ikon-ikon sejarah.

Saparua mungkin hanya sebuah kota kenangan masa lalu. Kebanggaan kami, hanya bertumpuh pada lirikan para penjajah masa lampau karena wewangian cengkeh dan pala, bahkan jauh sebelumnya para pedagang-pedagang Cina mendahului. Bahkan dari Kota ini, pengakuan kemerdekaan Indonesia turut mendapat pengakuan dunia.

Beberapa orang “jibu-jibu” berkata kepada beta bahwa “nyong e, beso-beso ni ada mau pesparawi ni, trus bulan Desember nanti ada mau resmi gareja Ulath, katanya dong mau bikin Ulath Panggel Pulang”. Dan betapun hanya mengangguk saja. Sembari berpikir akan ada ratusan bahkan ribuan orang berkunjung ke Saparua dari berbagai pelosok nusantara dan juga manca negara.

loading...

Siapkah Saparua menyambutnya? Untuk orang Saparua yang punya nilai “hospitality” atau menghargai tamu, beta tidak pernah meragukannya. Tetapi wajah Saparua bukan terletak pada keramahtamahan orang-orangnya semata, tetapi yang paling terpenting adalah infrastruktur jalan, pasar, tranportasi juga bangunan-bangunan yang terkonstruksi modern, dan juga lokasi-lokasi pariwisata dan situs-situs sejarah yang berhampuran di Saparua sebagai pusat kolonial Belanda pada waktu itu.

Saya melihat beberapa ruas jalan sudah dikerjakan dan ditutupi dengan pasir tebal di atasnya bahkan menimbulkan debu yang menyengat dan membuat sakit. Sangat mungkin lapisan aspalnya biasa, dan bukan hotmix yang baik.

Tapi sudahlah, beta tidak bisa banyak berbuat apa-apa, sebab bisa apa. Semoga perhelatan politik yang baru dilewatkan itu membawa kepedulian bagi Kota Tua ini.

Sebab dari “Kota Tua” ini telah melahirkan banyak laki-laki bermental “Kapitang” dan perempuan-perempuan “Kapista” yang juga kurang peduli dan hanya mengurus kampung-kampung merrka sendiri.

Salam Remuk Dalam dari Emperan

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *