Krisis Keuangan Panca Karya, Ratusan Penumpang Terancam Tak Dapat Santunan Jika Terjadi Kecelakaan

by
Karyawan PD Panca Karya Meminta Audit keuangan segera dilakukan. Karyawan Perusahaan berplat tak lagi digaji. Para karyawan memasang pamflet tuntutan mereka di Kantor PD Panca Karya, Kamis (12/7/2018). FOTO : FRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Persoalan keuangan yang membelit Perusahan Daerah (PD) Panca Karya makin tak kelihatan ujungnya. Ratusan karyawan sudah sebulan tak digaji, bahkan uang asuransi penumpang kapal tak lagi disetor ke pihak Jasa Raharja Provinsi Maluku. Hal itu diungkapkan Kepala Pengawas PD Panca Karya, Rury Moenandar saat ditemui di ruangannya Kamis (12/7/2018) siang.

Sejumlah anggota DPRD Maluku baru saja rapat di ruangan Rury terkait masalah kekuangan PD Panca Karya. Pihak BPKP Maluku pun tenga meninjau perusahaan untuk evaluasi kinerja. Para karyawan tak tinggal diam. Mereka menempel spanduk, pamflet di dinding depan bangunan yang berisi kekecewaan dan penolakan akan adanya evaluasi kinerja. Kepada para wartawan Rury menjelaskan perusahaan plat merah itu sudah sebulan ini tak lagi menggaji karyawan. “Mau gaji bagaimana uang tidak ada. Tak ada pemasukan sama sekali,” tegasnya.

Rury Moenandar menunjukkan surat pernyataan permohonan utang ke Bank Maluku

Perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelayaran itu telah merugi puluhan milyar sejak awal persoalan mencuat yakni pada 2015. Sejak itu seluruh tiket, retribusi hingga biaya perjalanan tak satupun disetor ke perusahaan. Sebagai pengawas dia menilai Direktur PD Panca Karya Afras Pattisahusiwa diduga terlibat hal itu. Kuat dugaan tindak korupsi tersistem, penipuan, hingga manipulasi terjadi di tubuh perusahaan itu.“Total kerugian yang dialami itu sekitar 20 milyar lebih. Itu dari enam kapal kita. Lima diantaranya kapal bersubsidi,” bebernya kesal.

Loading...

Rury merinci, terdapat enam buah kapal yang beroperasi dengan bendera naungan PD Panca Karya. Lima diantaranya merupakan kapal bersubsidi dengan rute antar pulau. Yakni Tanjung Kuako rute Liang – Waipirit, KM Badaleon rute Namlea – Sanan, KM Tanjung Sole rute Namlea – Waisala, KM Lelemuku rute Saumlaki – Tepa dan KM Tatihu rute Wahai – Raja Ampat – Sorong. Serta satu kapal nonsubsidi KM Teluk Ambon rute Waai – Kailolo.

Hingga kini lima kapal bersubsidi tak lagi beroperasi sejak awal 2018. Sementara KM Teluk Ambon masih aktif. Rury mengkhawatirkan keselamatan para penumpang jika kapal masih beroperasi. “Uang tiket penumpang itu diambil sendiri dan tidak disetor sama sekali ke Jasa Raharja dan ke kantor. Banyak pihak yang terlibat di sini,” tegasnya.

Rentetan kecelakaan laut seperti di Danau Toba, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan teranyar di perairan Pulau  Buru,  makin meresahkan pihaknya. Apalagi kondisi laut dan cuaca di Maluku sedang tidak baik. Bila terjadi kemungkinan terburuk berupa kecelakaan, para korban dipastikan tidak akan menerima santunan.  Untuk itu pihaknya berharap agar ijin berlayar KM Teluk Ambon tidak dikeluarkan oleh Petugas Kesyahbandaran. “Kalau tidak bahaya. Semua akan kena,” imbuhnya.

Tak hanya persoalan penumpang kapal, nasib 170 karyawan PD Panca Karya juga makin tak jelas. Sudah sebulan mereka tak digaji. Iuran BPJS dan jaringan wifi diputus lantaran tak dibayar. Dua tahun uang jasa produksi tidak dibayar bahkan listrik kantor terancam diputuskan. Kerugian besar yang dialami Panca Karya jelas membikin resah.

Untuk diketahui, kapasitas angkut KM Teluk Ambon yakni 350 penumpang. Itupun belum ditambah kuantitas angkut penumpang lima kapal bersubsidi beserta muatan muatan lain. Seperti hasil bumi, ratusan ternak sapi, tomat cili dan lain sebagainya. Sayangnya tak satupan pemasukan yang diterima perusahaan dari situ. Tak heran jika hingga kini jumlah pemasukan Rp 0.

“Kami sudah tidak digaji. Sebentar lagi mungkin listrik dicabut. Sebenarnya ada apa dibalik ini,” keluh Sekretaris PD Panca Karya E Hehanusa. Dia menilai perusahaan justru perlu mendapat audit keuangan bukannya evaluasi kinerja. Pasalnya kejadian ini berlangsung lama dan belum mendapat respon yang memuaskan. (BIR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *