Kunjungan Senator Bethlehem ke Ambon Bawa Oleh Oleh Damai Dari Palestina

Kunjungan Senator Bethlehem ke Ambon Bawa Oleh Oleh Damai Dari Palestina

SHARE
Maher N Canawati, Senator Kota Betlehem, Palestina saat diwawancarai jurnalis Terasmaluku.com Priska Birahy di lobby Hotel The Natsepa Resort and Conventions, Rabu (5/9/2018). FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Konflik dua Negara Palestina dan Israel menyisakan banyak fakta yang terlewati. Salah satunya harapan yang terus dikumandangkan oleh tiap warga negara tentang kebebasan dan kemerdekaan dalam damai. Maher N Canawati, Senator Kota Betlehem datang langsung dari Palestina ke Kota Ambon, Maluku membawa pesan damai dari tanah kelahirannya Betlehem.

Di tengah kesibukan kunjungannya ke Ambon, secara eksklusif jurnalis Terasmaluku.com Priska Birahy mewawancarai  Maher di lobby Hotel The Natsepa Resort and Conventions, Rabu (5/9/2018) pagi. Maher mengaku terpesona dengan alam dan keramahan di Maluku yang dirasa mirip degan Manado, kota yang dikunjungi Maher sebelumnya. “Kota yang ramah dimana mana orang tersenyum,” ungkapnya.

Maher N Canawati

Senyuman warga Kota Ambon dipandangnya mampu memberi rasa nyaman serta magnet besar untuk orang datang berkunjung. Hal yang sama pula di negara asalnya Palestina. Dalam kunjungan pertamanya di Ambon, Maher tidak datang untuk sekadar jalan jalan. Dia membawa pesan damai dan harapan yang ingin disampaikan kepada orang Maluku juga penduduk Indonesia.

Pada wawancara singkat itu, ketua asosiasi hubungan masyarakat Palestina itu menyampaikan harapan terbesarnya. “Kami hidup dalam toleransi. Yang terpenting cari persamaan bagaimana orang di Palestina hidup dalam keberagaman,” sebut Maher. Maher menegaskan konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel bukanlah konflik agama seperti yang ramai diberitakan.

BACA JUGA : Yang Tidak Kamu Tahu Dari Palestina

Berbagai negara dengan agama mayoritas seperti yang ada di Palestina ramai angkat suara dan memberi pernyataan sikap. Cuitan dan ribuan pemberitaan media hilir mudik memberitakan hal yang berkebalikan. Memang, negara di Timur Tengah itu tengah berkonflik. Namun tidak dengan penduduknya.

Di Betlehem, kota yang dijuluki kota suci  tiga agama itu masyarakatnya malah hidup berdampingan dalam perbedaan. Sebuah fakta yang acap kali luput dari pemberitaan dan sorotan mata penduduk dunia. Bahwa dari situlah dia membawa pesan besar tentang perdamaian yang dinanti warga negaranya. “Kami berharap damai, kami mau semua penduduk kembali ke rumah mereka. Itu adahal hal yang wajar. Tidak ada kata tidak bisa untuk itu,” jelas CEO Bethlehem Municipal Council.

Selama bertahun tahun hidup dikelilingi tembok konflik membuatnya dan warga Palestina lelah. Pria 42 tahun itu mengaku konflik dan ketidaknyamanan membuat mereka jengah. Ada ribuan orang Palestina yang setiap hari berdoa untuk sebuah harapan. Dan hal itu pula yang menjadi kesamaan warganya dan membuat mereka kuat.

Dari potret dan sudut pemberitaan di banyak media juga berbagai postingan mengekspos warga muslim Palestinalah yang paling menderita dan jadi sasaran korban. Namun mereka lupa, ada tiga agama besar hidup berdampaingan sejak dulu di sana. Di kotanya, Bethlehem ada sekitar 20 persen penduduk kristen dan 80 persen muslim. Mereka tidak memandang itu sebagai sesuatu yang perlu diistimewakan. Persamaan yang dilihat, mereka adalah orang Palestina.

Seperti dalam sebuah perayaan Natal 2011 yang dihadiri oleh penyanyi Ruth Sahanaya, Pendeta Gilbert Lumoindong yang ikut dalam konser Natal itu sempat melontarkan sebuah pertanyaan bagi warga kota yang datang. “Pendeta Gilbert bertanya berapa jumlah warga yang beragama muslim yang hadir. Dan ternyata sekitar 80 persen adalah saudara kita yang muslim,” cerita mantan Walikota Betlehem ini.

Di kota kelahiran Yesus itu warganya menjunjung tinggi sebuah kesamaan yang menjadikan mereka kuat. Maher yang pada momen itu jadi penerjemah bahasa menyebut, pertanyaan itu sejatinya cukup aneh dan tak lazim bagi warganya. Sebab di mata mereka haya ada satu, yaitu warga Betlehem, Palestina. Bukan warga Muslim, Kristen atau Yahudi. Harapan serupa juga terlontar darinya bagi Indonesia. Salah satu cara menjaga kedamaian adalah dengan mengubah cara pandang kita. “I don’t see Muslim Christian or Hindu. I see Indonesian. That’s all matter,” tegasnya. (PRISKA BIRAHY)

loading...