Lanud Pattimura Gagalkan Penyelundupan Kayu Gaharu dan Tanduk Rusa, Pelakunya Anggota TNI AD

by
Danlanud Pattimura Kolonel Pnb Antariksa Anondo memperlihatkan barang bukti kayu gaharu dan tanduk rusa kepada wartawan, Jumat (23/2). Penyelundupan kayu gaharu dan tanduk rusa lewat Bandara Pattimura ini digagalkan aparat TNI AU Rabu (21/2). FOTO : (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Aparat TNI AU Pangkalan Udara (Lanud) Pattimura menggagalkan upaya penyelundukan kayu gaharu dan tanduk rusa dari Bandara Internasional Pattimura Ambon menuju Bandara Cingkareng Jakarta, Rabu (21/2). Kayu gaharu dengan berat  80 Kg yang diisi dalam lima koli karton dan tanduk rusa 15 Kg  yang diisi dalam satu koli karton itu sempat melewati alat pindai x-ray 1 pintu masuk Bandara Pattimura Ambon.

Komandan Lanud (Danlanud) Pattimura Kolonel Pnb Antariksa Anondo dalam keterangan kepada wartawan di Kantor PT. (Persero) Angkasa Pura I Cabang Ambon, Jumat (23/2) mengungkapkan,  kayu gaharu dan tanduk rusa  tersebut disisipkan dan dicek in kan melalui penumpang sebuah pesawat tujuan Cingkareng, Jakarta. Barang – barang dalam karton itu dipindahkan  ke storing bagasi.

Karena curiga, anggota Lanud Pattimura melaporkan barang tersebut ke Intel Lanud Pattimura. Dan setelah diperiksa ulang, ternyata lima koli karton berisi kayu gaharu, dan satu koli karton berisi tanduk rusa. Kayu gaharu dan tanduk rusa tersebut langsung diamankan aparat Lanud dan tidak diikutkan dalam penerbangan. Menurut Danlanud, setelah dilakukan penyelidikan diketahui ternyata kayu gaharu dan tanduk rusa itu dimasukan ke dalam bandara oleh seorang oknum TNI AD berpangkat Sertu. Diduga kayu gaharu akan diekspor, sedangkan tanduk rusa untuk obat.

“Anggota TNI AD yang diduga sebagai kurir kayu gaharu dan tanduk rusa itu langsung ditangkap di Café Harvest Bandara Pattimura,  kita amankan dan lakukan pemeriksaan di Lanud oleh POM AU,” kata Antariksa yang didampingi General Manager PT. Angkasa Pura I Bandara Pattimura, Amiruddin Florensius dan  Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Muktar Amin Ahmadi.

Antariksa mengatakan, hingga kini pihaknya masih terus melakukan penyelidikan dari oknum TNI tersebut untuk mengungkap otak penyelundukan kayu gaharu dan tanduk rusa itu. Berdasarkan hasil penyelidikan, barang – barang tersebut dibawa ke Bandara Pattimura dengan menggunakan taxsi yang sudah diketahui pengemudinya seorang warga sipil. “Hingga kini oknum TNI masih dilakukan pemeriksaan oleh POM Lanud, sedangkan warga sipil nanti kita amankan dan serahkan ke Polsek Bandara Pattimura,” katanya.

Menurut Antariksa, berdasarkan hasil pemeriksaan anggota TNI, ia mengakui pengiriman kayu gaharu dan tanduk rusa ini merupakan kali kedua. Saat pengiriman pertama kali, Selasa (20/2) lewat Bandara Pattimura ke Bandara Cingkareng Jakarta tidak lolos. “Kita masih kembangkan pemeriksaan, siapa yang menjadi otak penyelundupan ini. Penyelundupan pertama lolos yang kedua kita gagalkan. Kami bertekad mengungkap ini semua sampai ke akar-akarnya,” kata Antariksa. Meski tidak membahayakan penerbangan namun menurut Antariksa pengiriman kayu gaharu dan tanduk rusa ini tidak dilengkapi  dokumen dari pihak terkait.

Kepala BKSDA Maluku Muktar Amin Ahmadi mengungkapkan,  pelaku penyelundupan kayu gaharu  dijerat dengan Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan, Pemberantasan dan Pengrusakan Hutan. Pada Pasal 16 Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2013 menyebutkan, setiap orang yang mengangkut hasil hutan harus dilengkapi dengan surat keterangan sah hasil hutan sesuai aturan dari Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota dan provinsi. “Pidananya bagi yang tidak melengkapi dokumen sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013, pidana  kurungan  paling lama 15 tahun dan denda  Rp 5 miliar hingga  Rp 15 miliar,” kata Amin.

Sedangkan untuk tanduk rusa menurut Amin   merupakan satwa yang  dilindungi Undang-Undang. Pelaku pengiriman tanduk rusa atau bagian lainnya  dari satu tempat ke tempat lainnya dijerat dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, ancaman hukuman paling lama lima tahun penjara.

“Untuk tanduk rusa itu jelas merupakan satwa yang dilindungi, maka Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 diterapkan. Pasal 21 Ayat 2 ada huruf D itu jelas, perdagangan, perniagakan dan membawa bagian-bagian  binatang yang dilindungi itu merupakan tindak pidana dengan ancaman hukuman paling lama  lima tahun dan denda 100 juta rupiah ” kata Amin. (ADI)