Latih Warga Tanggap Bencana, Sinode GPM Gelar Simulasi Penyelamatan Bencana Tsunami dan...

Latih Warga Tanggap Bencana, Sinode GPM Gelar Simulasi Penyelamatan Bencana Tsunami dan Banjir

SHARE
Simulasi penyelamatan korban tsunami di Pantai Negeri Allang Kecamatan Leihitu Barat Pulau Ambon yang digelar Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) pada Sabtu (7/7/2018). FOTO : FRISKA BIRAHY (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON- Curah hujan tinggi, penebangan hutan serta letak geografis yang dikelilingi laut membuat Maluku rawan bencana. Aktifitas manusia seperti penebangan hutan lambat laun berbuah banjir longsor maupun rob. Bahkan kondisi alam laut yang tak stabil bisa berpotensi tsunami. Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir maupun gunung perlu kewaspadaan serta sikap tanggap akan bencana. Sebab tak jarang, kepanikan berakibat korban jiwa.

Seperti pada akhir tahun lalu, warga di Kota Ambon panik dan berhamburan tak keruan di jalan. Gempa kuat yang terjadi membangkitkan isu akan terjadi tsunami. Beberapa warga dikabarkan terluka lantaran lari ketakutan. Padahal pertolongan dini berawal dari diri. Tak sedikit yang belum paham tentang penyelamatan saat bencana.

Warga terlibat dalam simulasi dan mempelajari cara menangani korban patah akibat gempa bumi

Salah satu cara yakni menyiapkan warga siap menghadapi ancaman bencana melalui simulasi tanggap bencana tsunami dan banjir yang digelar di Negeri Allang Kecamatan Leihitu Barat Pulau Ambon,Sabtu (7/7/2018). Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) selaku penggagas kegiatan tersebut untuk membantu warga bila bencana tiba. Dalam simulasi ini, suara sirine membuat warga keluar rumah bingung dan panik.

Tsunami menyapu permukiman warga. Sebagian mati terbawa arus, hilang atau terluka sebagian lagi tersangkut di pohon. Sementara warga yang tinggal dekat perbukitan mengungsi ke hutan atau ke tempat yang lebih tinggi. Setelah kondisi reda, tim penyelamatan pun datang mencari korban jiwa. Tampak dari laut sebuah perahu karet milik Badan nasional pencarian dan pertolongan atau BASARNAS menepi.

Dua korban jiwa diturunkan dari dalam perahu. Satu korban selamat dan satu lagi meninggal. Dengan sigap dan hati-hati para relawan dibantu warga memindahkan korban ke pantai untuk dibawa ke tenda kesehatan. “Warga dan relawan diajarkan bagaimana memberi pertolongan pada korban tenggelam,” kata Fredy Piris, Instruktur SAR Maluku kepada Terasmaluku.com di sela-sela simulasi.

Sebelumnya Fredy dan tim telah membekali relawan dan warga tentang tata cara penyelamatan. Satu hal yang kerap dijumpai saat bencana yakni kurangnya kesiapan dan pengetahuan warga. Menurutnya mahir berenang saja tak cukup bagi warga atau tim penyelamat untuk menolong korban tenggelam atau yang terbawa air. Seorang penyelamat harus memahami kondisi korban terlebih dulu.

Dalam kondisi panik korban sulit tenang dan bertindak diluar kesadaran. Akan sangat mungkin bila orang yang hendak menolong malah tenggelam atau terseret. “Prinsipnya orang panik tenggelam itu bakal meraih apa saja untuk bantu kepalanya ada di permukaan. Bisa jadi yang penyelamat ini malah didorong ke bawah,” sebut pria yang telah mengabdi sebagai tim penyelamat BASARNAS selama 11 tahun itu.

Pastikan dulu kondisi korban kemudian menenangkannya setelah itu koban dibawa ke tepian atau ke perahu penyelamat. Baginya hal dasar seperti ini wajib dipahami oleh warga Maluku. Pasalnya sebagian besar wilayah dikelilingi laut. Banyak permukiman yang ada di pesisir atau berdekatan dengan laut. Bahkan tak sedikit wilayah yang jadi langganan bencana banjir atau teseret arus kali dan laut.

Max Takaria, Ketua Gerakan Penanggulangan Bencana Sinode GPM membenarkan hal itu. Pada simulasi itu diikuti oleh perwakilan 33 Klasis dan sebanyak 109 orang. Menurutnya beberapa perwakilan klasis berasal dari daerah yang rawan bencana. “Kegiatan ini sangat membantu mereka supaya lebih tanggap. Kalau tidak, saat bencana tidak ada yang siap atau tidak tahu harus berbuat apa,” jelasnya di sela sela jeda simulasi.

Kegiatan yang melibatkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB), Badan Nasional Pencarin dan Pertolongan (BASARNAS) Palang Merah Indonesia (PMI) sejumlah relawan dan warga Allang itu berlangsung sejak Rabu (3/7/2018). Awalnya mereka dibekali dengan tata cara penyelamatan yang telah disusun dalam skenario.

Mulai dari peran, seting lokasi hingga peralatan yang dipakai semua disesuaikan layaknya sedang dalam proses evakuasi sesungguhnya. “Nanti ada yang di atas pohon juga. Saya bertindak sebagai orang yang menenangkan warga,” jelasnya. Harapannya usai simulasi mereka membagikan ilmu kepada orang lain agar tidak bertindak ceroboh saat ada bencana.

Harapan yang sama juga terlontar dari Bobby Kaifuan. Peserta simulasi asal Desa Hulahaan Kecamatan Teluti Seram Selatan Kabupaten Maluku Tengah. Desanya termasuk lokasi yang paling rawan dan langganan banjir. Bahkan pada 1982 pemerintah merelokasi satu desa ke lokasi baru lantaran adanya bencana banjir yang cukup besar.

Menurut Bobby lokasi yang berhadapan dengan lautan lepas. Baginya simulasi semacam ini jadi bekal agar dapat bereaksi tepat saat bencana datang. “Katong memang suda tahu karena sering banjir. Tapi ikut simulasi biar tahu juga cara selamatkan orang lain bukan cuma diri sendiri,” akunya. (BIR)