Lewat Kuasa Hukumnya, Assagaff Sampaikan Klarifikasi Dan Pernyataan Keprihatinan Kepada AJI Ambon

by
Fahri Bachmid

TERASMALUKU.COM,AMBON-Calon Gubernur Maluku Said Assagaff menyampaikan klarifikasi dan pernyataan keprihatinan mendalam kepada Ketua dan Pengurus AJI Ambon atas peristiwa yang terjadi di Rumah Kopi Lela Jalan Sam Ratulangi Kota Ambon, Kamis 29 Maret 2018. Surat klarifikasi dan pernyataan keprihatinan mendalam tersebut disampakan Assagaff melalui kuasa hukumnya, Fahri Bachmid yang dikirim pada Sabtu (31/3). Fahri sendiri mendapat Surat Kuasa Khusus dari Assagaff dengan nomor A.08-Adm/SKK/FB dan A/III/2018, bertanggal 30 Maret 2018.

“Dengan ini kehadapan saudara Ketua/Pengurus Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Kota Ambon untuk menyampaikan klarifikasi dan  pernyataan keprihatinan yang mendalam, sehubungan peristiwa yang terjadi dan tidak kita inginkan bersama pada Kamis tanggal 29 Maret 2018 sekitar pukul 16.30 WIT, yang bertempat di Warung Kopi Lela Jl. Sam Ratulangi Kota Ambon,”demikian isi surat yang juga diperoleh diterima Terasmaluku.com, Sabtu (31/3) malam.

Menurut Fahri, penyampaian klarifikasi dan  pernyataan keprihatinan  yang mendalam ini didasarkan pada suatu pemahaman yang utuh serta bulat akan arti pentingnya prinsip persamaan, kesederajatan antara pihaknya dengan segenap kapasitas dan kedudukannya sebagai Calon Gubernur Maluku dan rekan-rekan insan Pers.

Fahri mengungkapkan, terkait  peristiwa yang terjadi di Rumah Kopi Lela adalah bersifat “By Accident” kebetulan dan muaranya adalah sesuatu yang tidak dikehendaki secara bersama oleh kita semua. Assagaff menurut Fahri sangat prihatin dan menyayangkan atas insiden tersebut.

Karena hal tersebut menurut Fahri berlangsung secara spontan dan reflektif yang didasarkan atas kesalahpahaman belaka. Dalam peristiwa di Rumah Kopi Lela itu dua jurnalis Harian Rakyat Maluku yakni Abdul Karim Angkotasan, yang juga Ketua AJI Ambon dan Sam Usman Hatuina menjadi korban intimidasi dan kekerasan.

BACA JUGA : Dua Jurnalis Ambon Laporkan Assagaff ke Polda Maluku

“Bahwa peristiwa tersebut  secara pribadi maupun sikap  adalah  diluar kendali serta kehendak Calon Gubernur Maluku Bapak  Said Assagaff yang secara  kebutulan sedang beristirahat sambil menikmati minum kopi ditempat itu, beliau juga secara pribadi maupun sebagai calon Gubernur Maluku sangat menyayangkan serta menyampaikan rasa keperihatinan yang sangat mendalam atas peristiwa tersebut,” kata Fahri.

Menurut Fahri, Assagaff dalam kedudukannya baik secara individu maupun sebagai Calon Gubernur Maluku adalah sosok yang paling menghargai profesi jurnalisme, karena menurutnya Pers adalah mitra penting dan strategis dalam  pembangunan daerah di Provinsi Maluku dan  selama ini hubungan kemitraan antara Pers dengan Pemprov.

“Maluku  dibawah  kepemimpinan Pak Gubernur Maluku Said Assagaff berlangsung dalam iklim yang kondusif dan konstruktif, karena kami menyadari sungguh peran dan eksistensi Pers serta konstribusi aktifnya dalam mengakselarasi program-program strategis pemerintah,” kata Fahri.

Fahri juga menegaskan, komitmen Assagaff adalah sangat pro terhadap kebebasan Pers sebagaimana diatur dalam Peraturan Dewan Pers No. 5/Peraturan- DP/IV/2008 tentang Standar Perlindungan Profesi Wartawan, yang menegaskan bahwa Kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat dihilangkan dan harus dihormati.

Kemerdekaan  Pers menurut Fahri  adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat dan bagian penting dari kemerdekaan menyatakan  pikiran  dan  pendapat.  Wartawan  adalah  pilar  utama  kemerdekaan Pers. Oleh karena itu dalam menjalankan tugas profesinya wartawan mutlak mendapat perlindungan hukum dari Negara, masyarakat, dan perusahaan pers.

“Bahwa kami sangat memahami hakikat dan filosofi dibalik lahirnya UU RI Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers yang menegaskan bahwa pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang professional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari pihak manapun,” kata Fahri.

Fahri menjelaskan atas kesalahpahaman yang terjadi di Rumah Kopi Lela itu, maka saat ini pihaknya secara pribadi dengan kesadaran penuh telah secara intens melakukan komunikasi yang baik dan berimbang dengan dua korban guna kepentingan penyelesaian persoalan tersebut secara terhormat serta bermartabat, dengan senantiasa mengedepankan prinsip  Hak  Asasi  Manusia,  serta  sesama  orang  bersaudara.

“Kami  sadari  benar hakikat penghormatan atas pribadi maupun institusi Pers dan berharap agar persoalan tersebut didudukan secara kontekstual, objektif dan bebas dari anasir- anasir politis yang dapat menyebabkan persoalan menjadi bias. Karena Maluku saat ini sedang memasuki momentum politik Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, sehingga dapat dieliminir agar pihak lain tidak berpeluang memboncengi masalah ini sesuai kepentingan kelompok,” kata Fahri.

Mengenai   langkah   pelaporan   yang   dilakukan   oleh   korban   kepihak kepolisian menurut Fahri  adalah bagian dari hak konstitusional yang dapat dimaklumi serta dihargai, karena  pada prinsipnya semua warga negara sama dimata hukum (Equality Before The Law). Surat Assagaff lewat kuasa hukumnya juga  dengan tembusan kepada  Dewan Pers RI di Jakarta,  Kapolri di Jakarta dan Kapolda Maluku di Ambon. (ADI)