Lima Catatan Jelang Tutup Tahun 2019 Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat,

BERHUBUNG salah satu peran saya sebagai pelayan di gereja, maka jelang tutup tahun 2019 perkenankan saya membagi catatan kecil seputar dinamika hidup keagamaan dalam interlasi dengan pergumulan keumatan dan masyarakat. Harapannya, agama-agama dapat memberi kontribusi signifikan dalam kehidupan bersama menuju tatanan hidup damai dan sejahtera. Secara khusus tulisan ini berfokus pada dinamika Kekristenan, khususnya dalam laku menggereja. Berikut lima catatan kecil saya.

Pertama, Apakah Gereja mengalami kemajuan? Ada banyak indikator terkait kemajuan bergereja khususnya berjemaat. Salah satunya kehadiran umat dalam ibadah ritual di gereja. Kita bisa melakukan rekapitulasi terhadap presentasi kehadiran umat di setiap ibadah minggu sebanyak 52 minggu. Jika benar harus survei Direktorat Bimas Kristen Kementrian Agama RI tentang 50 persen kaum milenial jarang mengungjungi gereja, maka tentu ikhwal partsipasi umat dalam ibadah perlu menjadi perhatian bersama.

Tentu ini bukan sekedar memberi aksentuasi pada aspek jumlah (kuantitas semata) tapi keengganan bahkan absennya umat dalam ibadah dapat dilihat sebagai salah satu indikator maju mundurnya sebuah jemaat. Jika kondisi ini merupakan fakta yang problematik, maka semoga di tahun baru 2020 ada program dan kebijakan yang dapat ditempuh agar prosentasi kehadiran umat dalam ibadah dapat tertingkatkan.

Kedua, Sehatkah keuangan gereja/jemaat anda? Biasanya di akhir tahun ada proses verifikasi terhadap keuangan gereja/jemaat. Apakah rencana anggaran pendapatan dan belanja selama setahun berjalan dapat dicapai atau mengalami penurunan (defisit). Bersyukur jika terjadi surplus. Artinya keuangan gereja anda sehat. Dalam kaitan ini patut dicek sumber-sumber pendapatan jemaat. Apakah ini berkorelasi pula dengan perbaikan ekonomi umat, penciptaan lapangan kerja baru dan usaha-usaha ekonomi kreatif.

Dalam skala makro ekonomi hal ini tentu terkait pula dengan kondisi perekonomian global, fluktuasi finansial dan kebijakan rezim ekonomi negara. Oleh sebab itu, perlu melakukan analisis terhadap keuangan gereja dalam skala mikro, meso maupun makro. Tidak semua gereja atau jemaat memiliki basis ekonomi dan keuangan yang kuat. Oleh sebab itu, proses penataan manajeman keuangan, pengembangan ekonomi jemaat serta transparansi menjadi hal yang patut diperhatikan serius. Pembinaan kesadaran memberi untuk menopang pelayanan gereja perlu terus ditanamkan.

Ketiga, kepemimpinan yang merangkul. Apakah tahun ini anda sudah menjadi pemimpin yang merangkul semua keragaman dan potensi yang ada di dalam gereja atau jemaat. Apakah kehadiran anda di jemaat memberi inspirasi dan motivasi bagi jemaat untuk terus berbenah dan berkembang? Di sini perlu kritik diri (self critic) dan keterbukaan untuk terus belajar dan berkolaborasi. Gaya kepemimpian ototiter tentu bukan pilihan.

Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang terbuka, merangkul dan memberi ruang bagi pengembangan serbaneka potensi yang ada di dalam jemaat/gereja. Begitu pula kepekaan dan empati dengan umat yang bergulat dengan kemiskinan, krisis dan rupa-rupa kesulitan hidup. Seorang pemimpin mesti dapat memberi rasa nyaman dan dorongan kepada umat untuk tegar menghadapi masalah, solider dan saling membantu dalam mewujudkan tatanan hidup bersama yang sejahtera.

Keempat, relasi gereja dengan negara/pemerintah. Gereja ada di tengah-tengah dunia. Ia tidak hidup awan-awan atau menjadi lembaga yang sempurna. Ia perlu terus berelasi dan berkomunikasi secara kritis dan kreatif dengan pemerintah. Pada level jemaat relasi itu berlangsung dengan pemerintah desa/negeri termasuk pada level RT/RW. Apa saja bentuk-bentuk komunikasi dan kerjasama dengan pemerintah perlu terus dievaluasi dan apa dampaknya bagi percepatan kesejahteraan umat dan masyarakat. Sikap menutup diri bahkan menghindar untuk berelasi dengan pemerintah/negara tentu perlu dicermati dengan baik. Sebab visi gereja tentang pemerintah pun bersifat dialektis. Artinya, pemerintah adalah wakil Allah di dunia, tetap pada saat yang bersamaan pemerintah juga mesti adil dan menghadirkan kesejahteraan bagi semua. Pada konteks ini suara profetik gereja atau agama-agama tetap perlu dihadirkan.

Kelima, kolaborasi antar agama. Pada level makro kita sedang berhadapan dengan peta relasi antar agama yang acak. Ada kelompok yang mengulurkan tangan persahabatan dan persaudaraan tapi ada juga yang condong menjauh bahkan saling menutup diri. Ini kondisi yang perlu mendapat perhatian bersama. Idealnya agama-agama dapat hidup bersama dengan toleran dan damai. Tapi kita juga tidak menutup mata terhadap fakta kekerasan atas nama agama, konflik antar pemeluk agama serta politisasi agama.

Fakta-fakta ini membutuhkan penyikapan yang dewasa, agar tidak makin menjauh satu sama lain. Agama-agama pada dirinya adalah pembawa damai dan rahmat bagi semesta, tetapi karena orang beragama adalah juga manusia-manusia yang tidak sempurna, maka diperlukan saling menyapa, saling mengingatkan dan saling menopang satu sama lain. Tujuannya, agar ke depan agama-agama menjadi kekuatan pembaruan dan transformasi menuju kemaslahatan bersama dan kebaikan semesta.

Tahun 2019 akan berakhir dan kita akan memasuki tahun 2020 dengan segala dinamikanya. Ada seberkas harapan agar kita tidak kehilangan optimisme untuk melangkah bersama mewujudkan masa depan yang lebih baik. Tak ada laut yang tak bergelombang, tak ada langit yang selalu biru, begitu juga tak semua jalan sama ratanya. Tapi satu hal yang pasti dengan niat baik, tekad untuk terus belajar dan berbenah serta komitmen untuk bekerja dan bekerjasama, maka tak mustahil akan muncul pelangi sehabis hujan dan terbit tunas baru di pohon yang terbakar. Selamat tutup tahun 2019. Selamat membuka lembaran baru 2020. Teriring doa selalu ! (RR)