Lima Catatan Menjelang Jumat Agung Dan Paskah Oleh : Bobby Parinussa (Pendeta GPM)

by
Pendeta Bobby Parinussa, M.Si. FOTO : DOK. PRIBADI

Pertama, sebentar lagi kita akan merayakan Jumat Agung yang ditandai dengan kematian Yesus Kristus dan diikuti dengan perayaan paskah yang ditandai dengan kebangkitan. Perayaan jumat agung maupun paskah kali ini terasa berbeda karena tidak bisa dirayakan dalam sebuah komunitas bersekutu dalam bentuk ibadah-ibadah ritual di gereja. Sebagai orang percaya, kita sudah dihimbau oleh pemerintah, maupun PGI dan Sinode di tiap-tiap wilayah agar dapat merayakan Paskah dari rumah masing-masing. Hal itu diakibatkan karena kita sedang menghadapi wabah covid-19 yang sedang jadi ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia. Tentu ada pro dan kontra dengan himbauan-himbauan tersebut. Hal ini lalu jadi perdebatan kusir di media sosial soal kurang sakralnya sebuah ibadah jika dipindahkan ke rumah masing-masing.

Perdebatan ini berlanjut sampai pada klaim-klaim beriman dan tidak beriman karena takut beribadah di gedung gereja. Klaim- klaim beriman semacam ini seakan tanpa mau tahu dengan keselamatan orang lain. Padahal, jika kita melihat pada awal-awal kemunculan kekristenan mulai bertumbuh dari perkumpulan-perkumpulan yang kecil hingga kemudian terbentuklah persekutuan yang disebut gereja. Bahkan ketika Kaisar Nero melakukan propaganda dalam membakar kota Roma dan menuduh orang-orang Kristen sebagai pelakunya, yang akhirnya membuat ibadah-ibadah tidak bisa berlangsung dalam sebuah perkumpulan yang besar, tapi mereka harus beribadah sembunyi-sembunyi dalam bentuk keluarga-keluarga yang kecil.

Hal ini mau mengingatkan kita bahwa ibadah di manapun tidak akan mengurangi esensi dari sebuah ibadah itu. Karena pada awal pertumbuhan kekristenan yang disebut gereja itu bukan gedungnya tapi orangnya, persekutuannya, itulah gereja yang sesungguhnya. Kata “gereja” atau “jemaat” dalam bahasa Yunani adalah ekklesia; dari kata kaleo, artinya “aku memanggil/memerintahkan”. Secara umum ekklesia diartikan sebagai perkumpulan orang-orang. Tetapi kemudian dalam konteks Perjanjian Baru kata ini mengandung arti khusus, yaitu pertemuan orang-orang Kristen sebagai jemaat untuk menyembah kepada Yesus Kristus.

Baru dikemudian hari gedung-gedung gereja-gereja dalam bentuk fisik dikultuskan dan disakralkan oleh manusia sendiri sehingga orang beranggapan bangunan fisik yang menjulang itu sebagai gereja. Hal ini bisa dimengerti karena kita menganut paham bahwa Allah itu hanya berdiam di bait suci sehingga kita tidak mampu mengimaninya di tempat lain. Ibadah-ibadah di rumah seharusnya dipakai sebagai kesempatan untuk memupuk kembali kehangatan keluarga. Sebab selama ini mungkin kita terlalu sibuk dengan aktivitas masing-masing sehingga membuat kehangatan keluarga menjadi berkurang. Percayalah di mana 2 atau 3 orang berkumpuk dalam keluarga disitu Tuhan ada.

Kedua, dalam menghadapi pandemi covid-19 ini masyarakat kecil lah yang paling merasakan dampaknya. Ada himbauan supaya tetap di rumah. Maslahnya tenang di rumah itu tak mungkin bagi pekerja harian seperti tukang ojek, pengayuh becak, penjual makanan. Sebuah himbauan yang terdengar dilematis di telinga mereka. Sebab mereka tidak menerima penghasilan rutin setiap bulannya seperti ASN. Dilematis juga jualan pakai batas waktu, tidak jualan kantong sudah pasti lesuh. Apalagi di musim wabah ini pembeli semakin sepi. Mereka sudah pasti tahu himbauan yang telah diberlakukan oleh pemerintah supaya tetap di rumah. Mereka tahu ancaman virus corona, tapi tidak mungkin mereka membiarkan anak-anak mereka kelaparan. Sekiranya himbauan untuk tetap di rumah tidak merugikan mereka. Kiranya himbauan tetap di rumah diikuti dengan kebijakan yang memanusiakan manusia, yaitu ada bantuan bahan pokok yang dapat meringankan beban yang mereka rasakan.

Loading...

Ketiga, dalam merayakan jumat Agung dan Paskah, gereja perlu hadir untuk setidaknya meringankan beban mereka di tengah wabah ini. Gereja tidak boleh berdiam diri dan menganggap seolah-olah masalah tidak ada. Jika gereja hanya berdiam diri dan mencari posisi aman perlu dipertanyakan apakah gereja tersebut sedang mengabarkan kabar baik yang di ajarkan Yesus atau tidak. Sebab kematian Yesus lewat jumat agung bukan memberi kita iman yang pasif apalagi mengalami duka yang berlarut-larut, tapi memberi harapan baru tentang kebangkitan yang kita rayakan melalui paskah.

Jumat agung dan paskah mesti ditandai dengan spirit pembebasan bagi mereka yang yang menjadi korban di tengah virus covid 19. Itulah spirit yang ditunjukan Yesus semasa pelayanannya. Yesus memilih jalan kesengsaraan bersama mereka yang tertindas. Jalan yang dipilih Yesus memang tidak populer, tapi ia mampu membuka jalan-jalan pembebasan bagi mereka yang miskin dan tertindas. Gereja di harapkan mampu menjadi teman seperjalanan kepada mereka yang hilang harapan di tengah pandemik covid-19 ini. Sama seperti Yesus yang memberi harapan kepada dua orang yang sudah putus asah dan memilih berjalan ke emaus.

Keempat, Tak dapat dipungkiri, selama berabad-abad lamanya ajaran dalam kehiduapan kekristenan lebih sering menempatkan narasi penyaliban Yesus semata sebagai inspirasi hidup religius dan kesalehan rohani perorangan dan keluarganya saja. Padahal narasi kematian dan kebangkitan Yesus juga memiliki dimensi sosial yang tidak dapat direduksi ke dalam praktik-praktik kesalehan pribadi yang eksklusif. Untuk itu, perayaan jumat agung dan paskah tahun ini hendaknya dirayakan dengan penuh solidaritas satu dengan yang lain. Keluarga-keluarga yang mempunyai kekuatan finansial yang kuat dapat membantu keluarga-keluarga yang lemah.

Sebab apalah arti ibadah-ibadah ritual-ritual kita yang mengharu biru itu, jika kita menutup mata ketika melihat ada tetangga di samping rumah sedang mengalami kesusahan. Sebab ibadah yang sejati itu juga terjadi ketika kita mempunyai rasa sepenanggungan terhadap sesama. Sambil saling membantu Ingatlah ajaran Yesus dalam Yesaya 61:1 “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara. Hal ini mau mengingatkan kita bahwa selaku orang percaya, kita dipercayakan juga untuk melakukan misi pembebasan bagi mereka yang lemah.

Kelima, Ikut memutus mata rantai penyebaran virus corona adalah salah satu wujud tindakan beriman kepada Allah yang memberi akal budi, oleh sebab itu tetap patuhi himbauan yang telah dikelurkan oleh pemerintah maupun gereja-gereja setempat. Sebab Tuhan juga memakai mereka sebagai alat untuk mengingatkan kita untuk tetap mengkuti protokol kesehatan covid-19. Akhirnya, selamat menghidupi jumat agung dan paskah dalam rasa sepenanggungan bersama yang lain. Pendeta Bobby Parinussa, M.Si

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *