Lima Catatan Reflektif Jelang Kongres AMGPM 2020 Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM. FOTO : DOK. TERASMALUKU.COM

“AMGPM mesti mengalami evolusi kesadaran sebagai anak kandung gereja dan anak kandung publik” ini sebuah tesis pada forum kajian tema dan sub tema Kongres AMGPM yang dilontarkan Dr John Ruhulessin, mantan ketua Umum Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) sebagaimana dikutip oleh Elifas Tomix Maspaitella, yang juga mantan Ketua Umum AM GPM. Bertolak dari tesis yang bermakna ganda ini saya mencoba memberi lima catatan reflektif menyongsong Kongres Angkatan Muda GPM yang akan dihelat 25 Oktober 2020.

Pertama, AMGPM merupakan salah satu organisasi kepemudaan terbesar di kepulauan Maluku. Para kadernya berada di dua provinsi yakni Maluku dan Maluku Utara. Ia memiliki struktur organisasi yang rapi mulai dari pusat hingga ke kampung-kampung. Kader-kadernya melimpah ruah. Ini sebuah fakta sosiologis organisatoris yang patut diapresiasi. Namun, perlu dipikirkan bahwa apakah kebanggaan itu hanya pada tatatan jumlah (kuantitas) semata, atau perlu menakar pula sejauhmana jumlah itu identik dengan kualitas yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Kualitas yang dimaksudkan di sini bukan semata pengetahuan dan skill berorganisasi apalagi ritual semata, melainkan kualitas yang utuh dan padu. Kualitas yang mampu menjawab dinamika zaman yang terus berubah dari waktu ke waktu. Saya tentu tidak berpretensi memberi jawaban sepihak, namun menurut saya aspek ini perlu ditelaah dengan serius dan mendasar.

Kedua, sebagai bagian dari organ gereja, AMGPM sudah akrab disebut sebagai anak kandung gereja GPM. Analogi anak kandung ini memiliki asosiasi makna pada relasi-relasi yang akrab dan tanggungjawab yang menyatu dalam sebuah keluarga. Seperti dalam sebuah keluarga ada orang tua dan anak-anak, maka AMGPM merupakan anak dengan posisi yang istimewa. Ia diakui sebagai anak kandung, bukan anak lainya. Secara antropologis maka anak kandung juga berhak mendapatkan warisan dari orang tuanya. Selanjutnya, anak mesti menghormati ayah dan ibu agar lanjut umurnya.

Pertanyaannya apakah relasi simbiosis mutualis ini sudah benar-benar optimal dan menghasilkan manfaat yang positif bagi perkembangan dan kemajuan keluarga? Ini pula pertanyaan reflektif yang patut ditelaah oleh para kader AMGPM dan menemukan solusi jika kemudian ditemukan fakta bahwa relasi itu mengalami stagnasi dalam berbagai level dan aspeknya. Elifas Maspaitella mencoba memberi catatan bahwa salah satu hal yang bisa dikonfirmasi adalah sejauhmana produk-produk AMGPM selaras dengan produk-produk GPM. Sebagai contoh, isu-isu utama dalam dokumen-dokuen utama semisal Pola Induk Pelayanan dan Rencana Induk Pengembangan Pelayanan (PIP-RIPP) GPM diakomodir dalam agenda-agenda AMGPM.

Loading...

Ketiga, kontribusi AMGPM di ruang publik. Seperti ungkapan Dr John Ruhulessin AMGPM bukan saja anak kandung GPM, tetapi juga anak kandung publik. Seperti yang demikian, maka AMGPM perlu terus mengartikulasikan makna relevansi kehadirannya di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara. Peran dan kontribusi organisasi ini pada tiap arasnya diharapkan dapat menyehatkan ruang publik yang ditandai dengan penghargaan terhadap keragaman, kesetaraan, demokrasi, non-violence dan inklusitas. Para kader bukan saja cakap dalam diksi-diksi teologis, tetapi juga dalam diksi-diksi publik. Keterlibatan dalam kerja-kerja advokasi lingkungan, pembelaan terhadap HAM, kritisisme terhadap prakti korupsi dan fundementalisme agama, mesti makin dinamis dan progresif demi tatanan hidup bersama yang damai dan sejahtera.

Keempat, kritisme terhadap kekuasaan. Kekuasan itu berpotensi menindas tetapi juga membebaskan. Dalam iklim budaya otokratik, penguasa berpotensi menyalahgunakan kuasa untuk mempertahankan status quo. Penguasa dapat menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuannya seperti ungkapan the end justified the means, tujuan menghalalkan segala cara. Di lain sisi, seturut konsepsi Michael Foucault, kekuasaan itu tersebar dan menyebar. Tiap orang punya kuasa. Soalnya, sejauhmana kuasa itu dikapitalisasi dan didayagunakan. Jika digunakan secara positif maka kuasa itu dapat menjadi alat pembebasan. Dalam pengertian ini, organisasi pemuda mesti dapat memposisikan visi dan gerakannya untuk menjadikan kuasa dan kekuasaan sebagai alat pembebasan di tengah realitas kemiskinan, pelanggaran HAM, diskriminasi dan kekerasan ekstrim serta krisis lingkungan yang makin mewabah.

Kelima, generasi muda di pusaran budaya digital. Menarik bahwa Kongres AMGPM dilaksanakan secara virtual. Para peserta tidak perlu berkumpul dalam jumlah banyak. Mereka hanya terkonsentrasi pada beberapa simpul dan dihubungkan dengan internet. Melalui jalur virtual interaksi dan komunikasi organisasi dilaksanakan. Ini memiliki dua implikasi makna. Pertama, secara praktis pilihan metodologis ini akan membantu upaya-upaya pencegahan penyebaran virus covid 19.

Potensi adanya kluster baru karena berkumpulnya banyak orang dapat diantisipasi. Kedua, pilihan ini sekaligus menegaskan kepekaan dan respons realistis terhadap konteks masyarakat digital. Kita tidak mungkin kembali lagi ke jaman batu (age stones) dengan romantisme-romantisme masa lalu yang palsu. Kita mesti realistis bahwa zaman telah berubah, bahkan berubah sangat cepat di era revolusi industri 4.0 dan seterusnya. Oleh sebab itu sebagai organisasi pemuda maka sudah seyogyanya AMGPM makin adaptif terhadap perkembangan masyarakat.

Lima catatan reflektif ini kiranya dapat memberi stimulasi bagi ruang diskusi dan pengayaan gagasan untuk memaknai Kongres AMGPM bukan sebatas ritual organisasi semata melainkan momentum untuk memproduksi gagasan-gagasan segar, kajian-kajian komprehensif dan kontribusi-kontribusi positif bukan saja kepada gereja tetapi juga kepada publik. Hal ini selaras dengan kutipan di awal tulisan ini. Lebih daripada itu, selaras pula dengan motto AMGPM bahwa garam dan terang itu harus berdampak. Sebab tak mungkin terang itu disembunyikan melainkan cahayanya mesti terus berpendar ke seluruh penjuru dunia.

Selamat ber-Kongres Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku. Maju terus !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *