Lima Ibadah Jelang Natal dan Tahun Baru di Ambon Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Pendeta Rudy Rahabeat

TINGGAL beberapa hari lagi Natal 25 Desember dirayakan di Ambon dan di berbagai tempat di muka bumi ini. Sebetulnya perayaan-perayaan Natal sudah dilakukan jauh hari sebelum 25 Desember. Ada yang menyebutnya pra natal, syukur natal, dan sebagainya. Umumnya perayaan-perayaan itu memberi aksentuasi pada merekatkan kebersamaan dan persaudaraan selaku keluarga, kelompok kategorial dan umat. Tentu ada juga unsur kegembiraan dan sukacita. Berikut ini lima ibadah yang umumnya berlangsung di Ambon menjelang Natal dan Tahun Baru.

Pertama, Malam  Kajadiang atau Malam Persiapan Natal. Malam Kajading atau Ibadah persiapan Natal di Ambon sangat sakral dan khusuk. Disebuat “Kajadiang” atau kelahiran menunjuk pada kelahiran Yesus Kristus. Ini berupa ibadah yang berlangsung di gedung gereja pada tanggal 24 Desember. Umumnya ibadah berlangsung malam hari. Makanya disebut malam persiapan natal. Tapi di beberapa tempat karena keterbatasan daya tampung maka ibadah dilakukan sore dan malam hari. Dalam ibadah ini ada banyak orang yang datang ke gereja. Tak jarang didirikan tenda-tenda tambahan untuk menampung kehadiran peserta ibadah.

Seusai ibadah di gereja, masih ada ibadah jam 12 malam (pukul 24.00) di rumah pada tiap-tiap keluarga. Momen ini sangat berkesan, sebab orang tua akan memberi nasihat dan doa khusus kepada anak-anak. Demikian pula ikatan kekeluargaan dikuatkan dan tekad untuk membuat hidup lebih bermakna diteguhkan lagi. Ada lilin yang dinyalakan, menyanyikan lagu Malam Kudus dan diakhiri doa. Biasanya sehabis ibadah ada suguhan kue natal. Suasana sangat nikmat. Ada juga tetangga yang datang untuk saling berbagi cerita dan tentu suguhan kue-kue dan minuman.

Kedua, Ibadah Natal pertama. Ibadah ini berlangsung di gereja pada tanggal 25 Desember pagi hari. Agak berbeda dengan ibadah malam persiapan Natal, jumlah peserta ibadah relatif berkurang. Mungkin karena sudah beribadah pada hari sebelumnya. Namun ibadah Natal pertama ini tetap berlangsung khusuk dan gembira. Kisah kelahiran Yesus dan tafsiran atas peristiwa tersebut dibawakan oleh pendeta dalam khotbahnya. Umat diajak untuk hidup meneladani Yesus yang lahir ke dunia untuk menebus manusia. Hidup sederhana, rendah hati dan solider dengan sesama, khususnya mereka  yang miskin dan menderita. Sehabis ibadah ada saling berkunjung antar keluarga dan tetangga. Anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah. Pegang tangan Natal. Itulah istilah di Ambon untuk saling mengungjungi dan bersalaman di hari Natal. Yang datang bukan saja orang tua tapi anak-anak. Bukan saja umat Kristen tapi umat non-Kristen juga datang pegang tangan Natal. Suasana keakraban lintas generasi, lintas suku dan agama terasa begitu berkesan.

Ketiga, Ibadah Natal Kedua. Bukan saja ibadah tanggal 25 tapi tanggal 26 ada ibadah di gereja. Biasanya pada ibadah natal kedua ini dirangkai dengan sakramen Baptisan Kudus. Anak-anak dibaptis sebagai bagian dari anggota jemaat. Pada momen ini ada keluarga-keluarga yang sudah lama merantau membawa anak-anak mereka untuk dibaptis di kampung halaman. Ada sesuatu yang berbeda ketika anak-anak mereka bisa dibaptis di kampung halaman. Hal ini tentu ada kaitannya dengan aspek budaya, psikologis dan sosial. Misalnya suatu waktu ia akan berkata kepada anaknya “kamu dibaptis di gereja dimana dulu ayah ibumu dibaptis”. Atau kamu punya ikatan dengan jemaat ini karena dibaptis di gereja ini.

Umumnya ibadah Natal kedua berlangsung pagi hari. Makanya sering terjadi ketegangan jika pada tanggal 26 Desember masih ada kerja di kantor alias tidak libur. Pada wilayah-wilayah dominan Kristen seperti di Papua dan Menado, tanggal 26 tetap libur. Atau ada orang-orang yang tidak ke kantor karena lebih memilih ke gereja. Rasanya perlu kebijaksanaan negara untuk memperhatikan hal ini.

Keempat, Ibadah Malam Konci Taong. Gereja penuh sesak. Orang-orang yang sebelumnya tidak datang ke gereja, pada Malam Konci Taong mereka datang. Biasanya fenomena ini disebut  fenomena “kapal selam” atau “kupu-kupu kuning”. Kupu-kupu kuning itu hanya muncul setahun sekali. Dalam ibadah Malam Konci Taong atau akhir tahun ini, suasana begitu mempesona. Selain banyak umat yang datang tapi dalam ibadah ini umat benar-benar khusuk. Tak jarang ada yang menitikan air mata saat mendengar khotbah pendeta atau syair-syair lagu yang dibawakan oleh paduan suara atau vocal grup.

Sehabis ibadah gereja, ada juga ibadah di rumah bersama keluarga. Lagi-lagi suasana ini begitu khusuk dan penuh perasaan. Orang tua menggunakan momen tersebut secara khusus untuk saling berbagi semangat dan harapan. Ada juga anak-anak yang mungkin pernah bikin salah kepada orang tua atau saudara, biasanya pada malam Konci Taong ini saling memaafkan. Air mata tumpah di malam konci taong. Bukan karena sedih tapi bahagia. Sehabis itu, saat peralihan tahun ada kembang api atau keramaian di seputar kompleks rumah.

Kelima, Ibadah Taong Baru (Tahun Baru). Pagi hari 1 Januari umat datang ke gereja mengucap syukur sebab telah tiba di hari pertama tahun baru. Ibadah bernuansa gembiran dan sukacita. Ibarat diberi lembaran kertas putih, umat diminta menulis kisah-kisah indah di tahun yang baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah tiba. Kadang ibadah Tahun Baru peserta ibadah agak berkurang. Mungkin karena sudah semalam suntuk beraktivitas di Malam Konci Taong.

Tapi apapun itu, ibadah Taong Baru tetap dilaksanakan dengan penuh syukur. Sehabis ibadah anak-anak berkeliling dari rumah ke rumah. Pegang tangan taong baru. Itulah istilah di Ambon untuk saling mengungjungi dan bersalam. Yang datang bukan saja orang tua tapi anak-anak. Bukan saja umat Kristen tapi umat non-Kristen juga datang pegang tangan taong baru. Suasana keakraban lintas generasi, lintas suku dan agama terasa begitu menawan.

Demikianlah lima ibadah yang biasanya berlangsung di Ambon sejak tanggal 24 Desember hingga 1 Januari. Semoga ibadah-ibadah ini tidak hanya berlangsung di ruang-ruang tertutup, tetapi selalu terbuka untuk menjadi tindakan nyata merangkul semesta dalam kasih. Berbagi sukacita dan solidaritas, harapan dan tekad untuk menjadi lebih baik di rentangan waktu. Sebab sesungguhnya ibadah yang sejati adalah membuat hidup lebih bermakna bagi sesama dan dunia. Salam damai dari Amboina ! (RR).