Lima Transformasi Paskah Oleh : Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

by
Rudy Rahabeat, Pendeta GPM

PASKAH bagi orang Kristiani merupakan perayaan kebangkitan Isa Almasih. Paskah bukan sekedar sebuah peringatan (anamnesis) namun di dalamnya ada makna transformasi dalam artinya yang holistik. Mengacu pada tema Paskah Gereja Protestan Maluku (GPM) 2019 yakni Kebangkitan Kristus Mentransformasi Kehidupan, berikut lima ruang transformasi Paskah.

Pertama. Transformasi batin. Dalam dasar terdalam insani yakni dalam relung batin bersemayam nilai–nilai kebaikan dan atau keburukan. Nilai-nilai baik senantiasa bergumul dengan nilai-nilai buruk. Ibarat gelap yang bergulat dengan terang maka Paskah membawa manusia pada transformasi kebatinan, dari hidup yang lama menuju hidup yang baru. Dari batin yang penuh kebencian dan iri hati menjadi penuh kasih dan berbela rasa.

Kedua, transformasi kognisi. Paskah mesti pula merubah cara pandang tentang diri dan sesama. Seperti kisah Orang Samaria yang Murah Hati maka sang liyan (orang lain) bukanlah musuh yang harus dibenci dan dijauhi melainkan saudara dan sahabat yang mesti ditolong dan dikasihi. Perubahan cara pandang (mindset) menggerakan perubahan cara sikap atau tindakan kepada diri sendiri maupun sesama. Rasul Paulus berkata, di dalam Kristus tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, orang bersunat atau tidak bersunat. Itu berarti di hadapan Tuhan semua manusia sama dan olehnya harus dihargai harkat dan martabatnya serta tidak terjadi diskriminasi dan persekusi atas alasan apapun.

Ketiga, transformasi sosial-publik. Kita tidak hanya bicara tentang diri dan prolematiknya. Tapi perlu juga menata relasi-relasi dan kebijakan sosial dan ruang publik. Struktur-struktur sosial yang tidak adil dan menindas perlu ditransformasi menjadi struktur sosial yang membebaskan. Tak boleh dominasi mayoritas terhadap minoritas atau sebaliknya.

Loading...

Demikian pula kelas sosial atau kelompok tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antargolongan. Tercipta ruang publik yang sehat. Yesus datang ke dalam dunia untuk mentransfomasi struktur sosial yang memihak kepada orang-orang miskin dan marginal. Mengoreksi imperium Romawi yang fasis dan praktik keagamaan Yahudi yang triumphalistik. Paskah membuka dan membelah tirai yang memisahkan si kaya dan si miskin secara mencolok serta menghadirkan kebaikan bagi semua.

Keempat, transformasi kosmis. Paskah tidak hanya soal relasi antar manusia melainkan mencakup relasi kosmis, semua ciptaan. Kegelapan tiga jam, kubur terbuka adalah jejak-jejak semesta peristiwa kosmos yang mesti diletakan dalam perspektif transformasi kosmis. Alam tak boleh dieksploitasi secara brutal seperti pada film dokumenter “Sexy Killers” yang berkisah tentang ekses tambang batu bara terhadap kerusakan alam dan bumi juga eskploitasi kelas pemodal terhadap rakyat jelata dan alam raya. Paskah hendaknya menjadi perlawanan terhadap pengrusakan bumi sekaligus momen meneguhkan komitmen untuk memelihara bumi sebagai rumah bersama yang nyaman bagi semua ciptaan.

Kelima, transformasi spiritual. Paskah menjadi momentum mengembangkan spiritualitas pro hidup, pro publik, melawan tindakan kekerasan dalam bentuk apapun serta keterarahan kepada Sang Kristus yang bangkit. Dasar tumpuan spritualitas bukan ada pada diri manusia yang rapuh tetapi pada Allah yang bangkit, yang membuka lembaran baru yang penuh pengharapan dan optimisme. Bahwa kematian telah dikalahkan dan masa depan baru patut disongsong dengan iman yang teguh. Dengannya ziarah hidup ini akan diteruskan dengan senantiasa sadar bahwa badai dan gelombang, tantangan dan ancaman tetap ada. Namun bersama Kristus yang bangkit, kita pasti menang.

Selamat Paskah saudara dan sahabatku. Teruslah mentransformasi kehidupan. Sebab Paskah adalah narasi transformasi yang terus terjadi hingga akhir zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *