Listrik Masuk Desa, Warga Bursel Gelar Prosesi Adat

by
Warga di Bursel menggelar prosesi adat sebagai bentuk syukur masuk lisrik di desa mereka, Sabtu (20/10/2018). FOTO : TAUFIK (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-NAMROLE– Warga Dusun Kawalale Desa Namrinat dan Desa Waenalut Kecamatan Namrole Kabupaten Buru Selatan (Bursel) menggelar prosesi adat pemasangan kabel listrik yang melintasi daerah mereka. Prosesi adat listrik masuk desa ini berlangsung di Air Waitina, kawasan Desa Waenalut, Sabtu (20/10/2018).

Dalam prosesi ini warga memotong ayam putih dan menjalankan sejumlah tradisi adat lainnya. Kepala Soa Dusun Kawalale, Nikson Tomanusa mengatakan, prosesi adat ini sebagai bentuk syukur atas program pemerintah karena PLN masuk ke desa mereka.

Loading…

Ia mengungkapkan sejak 18 Tahun, kehidupan masyarakat di Dusun Kawalele dan Desa Wainalut gelap gulita saat malam tiba. Selama ini warga menggunakan mesin genset untuk penerangan di malam hari.

“Tidak mengherankan, ketika terdengar kabar PT PLN akan mengalirkan listrik ke desa ini, maka disambut dengan prosesi adat sebagai bentuk syukur terhadap perhatian pemerintah lewat pihak PLN Wilayah Maluku, terkhusus PLN Cabang Namrole,” kata Nikson. Ia menuturkan, warga desa tidak sabar membayangkan, betapa terangnya perkampungan mereka jika listrik dari PLN sudah benar-benar mengaliri dusun dan desa.

Sementara itu Kepala Desa Namrinat, Viktor Tomanusa, mengapresiasi program listrik masuk desa ini. “Jujur kami dan warga merasa senang bercampur gembira karena aliran listrik akan segera menerangi desa kami, inpian kami bertahun-tahun terhadap penerangan dari PLN bisa terwujud,” katanya.

Viktor mengaku, kurang lebih 18 Tahun sejak tahun 2000 tidak pernah merasakan terangnya listrik di dusun dan desa setempat. Anak-anak kalau belajar malam hanya diterangi lampu palita. Pada tahun 2017 ada bantuan dari pemerintah daerah berupa lampu tenaga surya. “Dulunya sebelum tahun 2000 sudah ada PLN masuk Dusun Kawalale cuman terjadi kerusakan jaringan listrik dan baru di perbaiki sekarang, ” kata Viktor.

Dia mengatakan, selama ini memang sebagian warga telah menikmati suasana terang di malam hari berkat penggunaan genset. Namun tidak semua warga memiliki genset. Karena ya itu harganya yang mahal. Apalagi pembelian bahan bakar untuk menghidupkan genset tidaklah murah.

“Kalau dirata-rata, maka pembelian bahan bakar untuk menghidupkan genset ini berkisar Rp 700 ribu per bulan. Padahal, genset itu tidak dihidupkan 24 jam, sering hanya digunakan pada malam hari saja agar rumah tidak gelap gulita,” katanya.

Sesuai informasi dari pihak PLN, ada sekitar 103 tiang utilitas siap dipasang untuk mengalirkan aliran listrik ke Dusun Kawalale sampai Desa Wainalut dari pusat Kota Namrole, Bursel. Turut menyaksikan prosesi adat ini Asisten I Bidang Pemerintahan, A. Soumokil, dan pihak PLN Namrole bersama masyarakat setempat (FIK)