LPM Lintas IAIN Ambon Gelar Aksi Mengecam Tindakan Kekerasan Terhadap Jurnalis

by
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas Ambon berunjukrasa di depan Polsek Sirimau, Kota Ambon, Senin (9/4), memprotes tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap dua jurnalis Ambon. FOTO : ALFIAN SANUSI (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon berunjukrasa di depan Polsek Sirimau, Kota Ambon, Senin (9/4). Dalam aksinya, mahasiswa memprotes tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap dua jurnalis  Ambon di Rumah Kopi Lela Jalan Samratulangi, Ambon pada  Kamis 29 Maret lalu.

Aksi yang dilakukan mahasiswa ini berbeda dengan aksi unjukrasa   lainnya. Namun yang dilakukan LPM Lintas IAIN Ambon ini dengan menutup mulut tanpa bebicara atau berorasi. Mereka hanya berdiri dengan membawa spanduk dan poster bertuliskan berbagai kecaman atas tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis.

Koordinator aksi, Salma Picalouhata kepada wartawan mengatakan, pihaknya  mengecam intimidasi yang dilakukan oleh Calon Gubernur Maluku Said Assagaff dan sejumlah pihak  terhadap dua jurnalis Harian Rakyat Maluku, Abu Karim Angkotasan dan Sam Hatuena. Selain intimidasi, seorang warga juga memukuli Abu Karim yang juga Ketua AJI Ambon.”Kami  mengecam  tindakan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis tersebut,” katanya.

Menurut Salma, pers merupakan pilar keempat demokrasi dan profesi jurnalis dilindungi Undang –Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. Sehingga menurutnya tidak boleh ada pemukulan maupun penganiyaiaan terhadap jurnalis oleh siapapun juga saat menjalankan tugasnya. Ia juga meminta kepada pihak kepolisian agar  serius dan terbuka memproses kasus kekerasan maupun intimidasi tersebut.

“Kami juga minta kepada pihak kepolisian dan kejaksaan untuk dapat secara terbuka memproses kasus kekerasan maupun intimidasi kepada jurnalis,” ujarnya. Ia berharap, kasus ini tidak boleh diselesaikan secara kekeluargaan, melainkan harus tuntas proses  hukumnya. Hal ini agar tidak ada lagi intimidasi maupun kekerasan terhadap jurnalis di Maluku. (IAN)