Malteng Dan SBT Jadi Project Bank Indonesia

Malteng Dan SBT Jadi Project Bank Indonesia

SHARE
Kepala BI Maluku bersama Dirut BPD Maluku dan Maluku Utara menandatangani perjanjian kerjasama terkait penyaluran uang, Senin (30/4). FOTO : BIR (TERASMALUKU.COM)

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Distribusi uang rupiah hingga ke pelosok terus dilakukan. Kecamatan- kecamatan hingga pelosok daerah terjauh dan terluar dipastikan dapat mengakses uang rupiah baru yang layak edar. Pada kenyataan di masyarakat uang rupiah lusuh dan tidak layak masih beredar luas khususnya di daerah yang sulit dijangkau. Alhasil proses transaksi dan jual beli masih menggunakan uang lama dengan kondisi yang kurang baik.

Pihak Bank Indonesia sebagai pemegang kendali distribusi uang rupiah di Indonesia pun mengambil langkah percepatan untuk mengatasi hal itu. BI Jangkau merupakan pilot project BI untuk mendistribusikan Uang Rupiah hingga ke pelosok tanah air. Kabupaten Maluku Tengan (Malteng) dan Seram Bagian Timur (SBT) dipilih menjadi lokasi pendistribusian Uang Rupiah dalam Pilot project 2018.

“Tahun ini kami pilih dua lokasi yang juga termasuk dalam wilayah 3T (terluar, terpencil, tersepan), untuk mendistribusikan uang,” jelas Bambang Pramasudi, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku saat ditemui Senin (30/4) siang. Program tersebut menyasar kecamatan-kecamatan untuk memudahkan masyarakat menukarkan uang lama yang lusuh dan tak layak dengan uang baru yang dicetak dan diedarkan resmi oleh Bank Indonesia.

Kecamatan Kobisonta menjadi lokasi utama pilot project BI Jangkau di Kabupaten Malteng. Sementara di SBT lokasi utamanya di Kecamatan Bula dan Kecamatan Geser. Bambang menjelaskan pendistribusian itu dimaksud untuk memperkuat transaksi ekonomi serta memaksimalkan kualitas Uang Rupiah yang beredar di masyarakat. Pasalnya masih sering ditemui uang yang kurang layak bahkan nyaris sobek berada di tangan masyarakat.

Apalagi Bambang menilai tiga kecamatan itu merupakan pusat perekonomian di masing masing kabupaten. Aktifitas jual beli serta transaksi ekonomi tumbuh pesat di sana. Karena itu pihaknya menilai perlu untuk memaksimalkan Uang Rupiah yang jadi alat tukar pada tiap wilayah. “Jadi masyarakat itu nantinya bisa menukarkan uang tidak layak edar mereka dengan uang baru yang layak. Distribusi uangnya lebih cepat,” sambung Bambang. Pilot project BI Jangkau, pihak BI bekerjasama dengan PT. Bank Pembanguna Daerah (BPD) Maluku dan Maluku Utara sebagai bank pelaksana BI jangkau.

Senin (30/4), kedua pihak melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama di hadapan para wartawan di aula BI Jalan Patimura, Ambon. Teguh Triyono, Kepala Tim Sistem Pembayaran Peredaran Uang Rupiah layanan dan administrasi menambahkan, sejatinya distribusi uang layak edar sudah dijalankan oleh pihak bank yang memiliki cabang hingga ke daerah terpencil. Hanya saja pihaknya ingin memaksimalkan dan mendorong distribusi berjalan cepat. “Kapasitas mereka pasti terbatas. Sistemnya kita seperti titip ke bank uang layak edar cetakan sempurna biar penukaran dan penarikan uang lebih cepat,” jelasnya.

Meski begitu pihaknya belum bisa menyebutkan jumlah uang yang akan didistribusikan ke tiga kecamatan di dua Kabupaten itu. Mereka harus melakukan Evaluasi kesiapan pihak bank serta data lengkap jumlah uang di masyarakat yang hendak ditukarkan. Setelah itu baru pihak BI mengirimkan cetakan sempurna atau cetakan baru untuk dikirim ke sana. Namun yang pasti Teguh menyebut, pihaknya tetap memberi modal awal Kepada bank pelaksana untuk memperlancar distribusi sambil didata jumlah uang yang perlu ditukar.

Sebelumnya pada 2017 BI Jangkau menetapkan delapan provinsi yang tergolong 3T (terluar, terpencil, terdepan). Yakni Kepulauan Riau, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara dan Papua. Sementara pada 2018 lokasi yang disasar yakni Sumatra Barat, Papua Barat, Banten serta Maluku.(BIR)