Maluku dan Rute Timur Indonesia Makin Terjepit Dengan Bagasi Berbayar

by
Aturan baru yang berlakukan tarif bagasi dinilai cukup memberatkan penumpang. Perhitungan jarak dan rute pada tarif dikhawatirkan akan melemahkan sektor pariwisata. FOTO: ilustrasi tribunnews-surabaya

TERASMLAUKU.COM,-AMBON – Usai ramai masyarakat se-Indonesia kesal dengan harga tiket pesawat yang melambung, kini giliran bagasi dikenai tarif. Lion Air Group salah satu yang ‘lebih dulu’ mematok tarif.

Rute dan jarak destinasi jadi penentu besar kecilnya harga bagasi. Tentu ini amat memberatkan terutama bagi penumpang di di wilayah Timur Indonesia. Mau tak mau mereka harus membayar bagasi agar bisa diterbangkan bersama sampai di tempat tujuan.

Untuk tujuan Bandara Pattimura Ambon misalnya, lama perjalanan udara dari kota asal Jakarta memakan waktu hampir tiga jam. Belum lagi banyaknya barang yang harus dimuat di pesawat. Padahal sebelumnya, tiap penumpang berhak mendapat free bagasi 20 kilogram. Namun sekarang, pihak Lion Air telah merilis ketentuan bagasi berdasarkan berat perkilogram.

Humas Lion Air, Danang Mandala Danang Mandala Prihantoro saat dihubungi Terasmaluku.com, Jumat (1/2/2019) membenarkan hal itu. “Terkait dengan daftar harga bagasi (pre-paid baggage), harga Lion Air dan Wings Air berbeda berdasarkan dengan rute dan jam penerbangan (flight hours),” jelas Danang.

Lebih lanjut dia mengatakan, setiap pelanggan yang membawa bagasi tercatat (checked-in baggage) akan dikenakan biaya kelebihan bagasi (excess baggage) pada hari keberangkatan sesuai tarif yang berlaku. Rinciannya, berat bagasi 5 kg dikenai biaya Rp 155.000, 10 kg – Rp 310.00, 15 kg – Rp 465.000, 20 kg – Rp 620.000, 25 kg – Rp 755.000 dan 30 kg – Rp 930. 000 atau Rp 37.000 perkilogram.

Hal itu jelas menyulitkan pelancong yang ingin bepergian atau mereka yang merencanakan kepindahan dari satu daerah ke daerah lain yang jauh. Imbasnya, denyut periwisata melemah serta daya beli menurun. Kebijakan yang diterbitkan Lion Air itu berlaku pada 22 Januari lalu. Sejak itu sejumlah warga terus menggencarkan protes. Jika dihitung-hitung, setiap penumpang yang membawa bagasi koper berisi baju minimal berat antara 7 kilogram hingga 15 kilogram. Belum termasuk karton atau tas jinjing lain yang dibawa. Itu untuk ukuran rerata penumpang domestik.

Lalu, bagaimana dengan penumpang intenasional. Belakangan, pemerintah Maluku sedang giat promosi pariwisata. Berbagai kegiatan pun berhasil menarik sejumlah wisatawan mancangera. Destinasi makin ramai, okupansi hotel naik, pergerakan UMKM maju pesat. Di lain sisi kebijakan maskapai grup itu malah diprediksi akan mematikan sejumlah usah dan punya efek domino.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) cabang Maluku, Theny Jordan Barlola mengkhawatirkan hal itu. Para pengusaha hotel dan restoran salah satu yang paling merasa dampak kebijakan bagasi berbayar. “Yang waktu harga tiket naik saja banyak yang batal pesan kamar. Apalagi bagasi berbayar. Sama saja,” keluhnya saat ditemui Jumat (1/2/2019) siang di Hotel Manise Ambon.

Dia menyontoh, liburan ala backpacker saja bakal terasa mentereng jika mereka harus membayar harga bagasi. Satu carrier bag yang dipikul saja beratnya bisa setengah dari berat badan. Sedangkan penumpang non-backpacker yang membawa koper, ukurannya bisa dua kali lipatnya. Mereka yang melakukan perjalanan jauh dari luar negeri umumnya membawa lebih banyak barang dengan pertimbangan durasi berlibur, oleh-oleh, serta kuota bagasi asal negara yang cukup besar. Hal itu yang dinilai Theny bisa melemaskan usaha di Maluku.

“Maluku ini kan bukan daerah kontingental. Beda dengan Jawa. Pesawat itu satu-satunya transportasi kalau mau ke Maluku dengan cepat. Kalau di Jawa ada bus, kereta, mobil pribadi,” terang General Manager Hotel Manise itu.

Pada pertengahan Februari nanti, Theny bersama gabungan PHRI se-Indonesia bakal menggelar pertemuan akbar di Jakarta. Dia telah menyiapkan sejumlah bahan termasuk dorongan untuk meninjau kembali kebijakan maskapai tersebut. “Kalau masyarakat beralih ke maskapai atau moda lain mereka pasti tinjau kembali. Semua usaha itu pasti cari profit dan mereka tidak mau rugi,” tegas dia. (PRISKA BIRAHY)

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *