Mantan Kepala Bank Maluku Cabang Dobo Dieksekusi ke Lapas Tual, Begini Perjalanan Kasusnya

by
Terpidana tindakpidana korupsi di Bank Maluku-Malut Cabang Dobo, Aminadab Rahanra (tengah) saat mendatangani berita acara eksekusi ke Lapas Kelasa II B Tual Kamis (15/10/2020). Foto: Humas Kejati Maluku

TERASMALUKU.COM,-AMBON-Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepulauan Aru mengeksekusi Aminadab Rahanra, terpidana kasus korupsi di PT. Bank Maluku-Maluku Utara (Malut) Cabang Dobo.

Aminadab adalah mantan Kepala PT. Bank Maluku-Malut Cabang Dobo yang tersandung korupsi sehingga menyebabkan kerugian negara Rp 3,110 miliar di bank plat merah tersebut.

Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejaksaan Tinggi Maluku, Samy Sapulette menjelaskan, terpidana Aminadab dieksekusi Kejari Kepulauan Aru ke Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Tual, Kamis (15/10/2020).

“Yang bersangkutan dieksekusi Kamis tadi sekitar pukul 14.00 Wit oleh Jaksa pada Kejaksaan Negeri Kepulauan Aru ke Lapas Kelas II B Tual,”jelasnya kepada Terasmaluku.com via seluler Kamis sore.

Aminadab, lanjut juru bicara Kejati Maluku itu, dieksekusi berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 1015K/PID.SUS/2020, tanggal 27 April 2020.

Dalam Amar Putusan MA itu, Aminadab dijatuhi hukuman penjaran selama 6 Tahun, denda Rp.200 Juta subsider 6 bulan kurungan dan pidana tambahan berupa uang pengganti sebesar Rp.3.110.548.000.

Perkara yang menyeret Aminadab ini bermula pada akhir tahun 2010 silam sesuai dakwaan JPU Kejati Maluku, Rolly Manampiring dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Ambon 8 Mei 2019.

Dijelaskan, saksi Elifas Leaua selaku bendahara Setda Kabupaten Kepulauan Aru mencairkan cek senilai Rp4 miiar lebih. Dalam cek tersebut terdapat sisa APBD yang tidak diserap oleh Setda sehingga akan disetor dalam kas daerah, dan pada saat dilakukan penarikan uang tersebut tidak dapat diambil, melainkan dititipkan pada PT. BM-Malut Cabang Dobo.

Selanjutnya tanggal 20 April 2011, Aminadab selaku pimipinan kantor cabang meminta dana milik Setda disetorkan ke dua rekening pribadi masing-masing nomor 0802069719 atas nama saksi Johosua Futnarubun sebesar Rp500 juta.

Loading...

Kemudian disetorkan lagi ke rekening nomor 0802057829 atas nama Petrosina R. Unawekla sebesar Rp500 juta, sementara sisa dana Rp3 miliar didepositokan lagi atas nama Yuuf Kalaiupin.

Pada tanggal 5 Juli 2011, saksi Elifas Leaua melakukan penyetoran ke kas umum daerah dengan rekening nomor 0801036465 sebesar Rp3,353 miliar yang merupakan penyetoran sisa APBD tahun anggaran 2010 dan uang Rp72,3 juta lebih yang merupakan penyetoran sisa dana tidak terduga tahun 2010.

“Lalu tanggal 6 Juli 2011 saksi Elifas juga menyetorkan Rp6566 juta lebih yang merupakan uang setoran sisa APBD tahun anggaran 2010,” ujar JPU kala itu dalam persidangan.

Pada saat saksi Elifas melakukan penyetoran ke kas umum daerah tanggal 5 Juli 2011, Aminadab tidak menarik uang Rp500 juta yang dititipkan pada rekening saksi Joshua Futnarubun tetapi dibiarkan saja dan ditarik secara bertahap oleh Aminadab untuk keperluan pribadi.

Menurut JPU, penarikan secara bertahap oleh Aminadab ini diketahui berdasarkan foto copy rekening saksi Joshua Futnarubun yang diberikan Aminadab pada saat pemeriksaan. Jumlah dana yang ditarik bervariasi antara Rp20 juta hingga 330 juta ini dimulai dari tangga 8 Juni hingga 23 Agustus 2011 lalu.

Rekening Joshua dibuka tanggal 24 Maret 2011 dengan dana Rp100 ribu, dan sebelum dana Setda Rp500 juta dititipkan, sudah ada penyetoran tunai Rp198 juta tanggal 30 Maret 2011 dan Rp100 juta tanggal 6 April 2011, sedangkan saksi Joshua sejak menandatangani buku rekeneningnya tidak pernah melakukan penyetoran maupun penarikan uang.

Selain itu, kata JPU, dana Rp3 miliar milik Setda Aru yang didepositokan ke rekening milik saksi Jusuf Kalaipupin juga tidak pernah diketahui oleh yang bersangkutan dan bunga deposito dinikmati oleh Aminadab.

Aminadab juga pernah memberikan panjar kepada beberapa pengusaha dan SKPD lingkup Pemkab Kepulauan Aru tanpa melalui mekanis dan SOP yang ada pada PT. BM-Malut. (Ruzady)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *