Mantap! Mahasiswa UKSW Ini Kembangkan Board Game Berjudul The Tale of Pela Gandong, Tentang Tingginya Toleransi Masyarakat Maluku

by

TERASMALUKU.COM,- Mahasiswa UKSW kembangkan Board Game berjudul The Tale of Pela Gandong, game ini bercerita tentang kehidupan di Maluku pada awal abad ke-17, saat pasukan Belanda datang untuk mengambil rempah-rempah di sana. Dalam game ini pemain akan menjadi Raja – sebutan untuk kepala desa di Maluku, yang harus membuat perjanjian dengan Belanda agar meninggalkan Maluku jika penduduk lokal bisa melakukan pembangunan sendiri.

Tak cukup sampai di situ, Belanda yang berniat merusak ikatan persaudaraan Maluku malah memberi kesempatan pada penduduk untuk melakukan tiga pembangunan selama 6 tahun. Jika gagal, Belanda akan mengambil alih pelayaran di daerah tersebut. Cukup rumit? Tenang, para Raja tidak sendiri, karena masing-masing akan dibantu oleh 5 tokoh masyarakat dalam bernegosiasi

Dirancang oleh Allez Martin Tangidy yang merupakan salah satu mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) UKSW, game dengan mekanisme co-operative ini dibuat sebagai simulasi kehidupan sosial rakyat Maluku pada masanya. Judul game ini sendiri diambil dari istilah Pela Gandong, yaitu sistem kehidupan penduduk asli kota di ujung timur Indonesia tersebut.

Rupanya, kisah budaya Pela Gandong tidak hanya menarik untuk Allez saja sebagai designer game tersebut, tetapi juga oleh para mahasiswa yang sempat mencoba permainan ini. Saat diadakan testplay di Open Space Fakultas Teknologi Informasi UKSW pada Senin (10/7) dan Selasa (11/7) kemarin, antusiasme ditunjukkan oleh mahasiswa berbagai fakultas dan jurusan. Bahkan, slot yang disediakan panitia selama dua hari langsung habis di hari pertama registrasi!

Meskipun kebanyakan baru pertama kali bermain board game selain monopoli, UNO, dan catur, semua pemain di testplay hari itu merasa senang dan bisa mengambil banyak nilai positif dari permainan tersebut. Seperti Alethea Elizabeth (22), yang setuju jika board game adalah media pembelajaran yang menyenangkan. “Permainannya asyik, dan ada nilai penting yang terselip di dalamnya.” Jelas mahasiswi Ilmu Internasional ini.

Lain halnya dengan Vishnu Endriyanto (20) yang juga sedang belajar di jurusan DKV ini. Saat mencoba board game di sesi testplay, dirinya mengaku ingin bermain lagi dan lagi. “Ketagihan. Game yang sangat menarik dan dapat membantu belajar toleransi antar sesama.” Ujarnya. Tak hanya mereka berdua, seluruh peserta memberi tanggapan baik yang diisi dalam kuisioner.

Sebelumnya, beberapa desainer board game ternama di Indonesia pun sudah menjajal kemampuan mereka dalam game ini. Seperti Isa R. Akbar (The Festival), Erwin J. Skripsiadi (Senggal Senggol Gang Damai, Pagelaran Yogyakarta, Celebes), dan Vicky Belladino (Perjuangan Jomblo, Candrageni).

Ketika ditanya komentarnya dari sudut pandang desainer, mereka pun mengatakan jika game ini dibangun dengan mekanisme yang menarik. “Aktivasi aksi dalam game ini brilian, tetapi dikemas dengan sederhana sehingga tetap bisa dipahami oleh orang yang baru mulai bermain. Komposisi resources pada tile-nya juga menarik, membuat pemain mau nggak mau harus berdiskusi untuk mencari langkah paling optimal.”

Pendapat positif juga diberikan untuk tema permainan ini. Bagi para desainer tersebut, tema game yang mengangkat tolenransi dan persaudaraan sangat terasa, terlebih karena sejalan dengan mekanisme game itu sendiri. Wah, luar biasa ya! Jadi ingin cepat-cepat bermain game keren ini deh. Sukses terus ya, semoga bisa dikembangkan menjadi lebih baik lagi dan bisa segera beredar luas di kota-kota lainnya!

Ale Rasa Beta Rasa!

Referensi : BOARDGAME.ID