Manusia dan Perjalanan Kemanusiaan Oleh : Glenn Pietersz, aktivis AMGPM

by

Gempa Tehoru adalah pemberitaan yang marak akhir” ini. Sejumlah aktifis bergerak atas nama kemanusiaan untuk membantu sesamanya sebagai kodratnya sebagai manusia.

Rekaman peristiwa visual pun telah banyak menyentuh banyak manusia untuk mendoakan bahkan bergerak langsung membantu derita mereka yang terkena dampak fisik maupun psikis.

Beberapa hari ini, kami Badan Penanggulangan Bencana Sinode GPM bersama Majelis Pekerjan Harian Sinode GPM berkunjung langsung ke lokasi gempa itu terjadi. Dikawal Majelis Pekerja Klasis GPM Masohi dan kawan ” Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Masohi, kami berkunjung dari desa ke desa, jemaat ke jemaat sambil membawa sejumlah materi bantuan untuk konsumsi dan tempat tinggal sementara di pengungsian.

Ya, sementara ini sejumlah masyarakat memilih mengamankan diri di lokasi yg dirasa aman, mengingat saat ini sudah ada potensi patahan. Saunulu misalnya, sebagai lokasi titik awal goncangan, garis pantai mereka tenggelam dan berapa ratus meter dari pantai telah ada garis bentukan alam di yang mnegaskan masyarakat di sisi garis itu harus waspada. Mngkin juga mereka harus direloksi karena dampak ini.

Selain menyalurkan bantuan, kami juga melakukan edukasi singkat menghadapi bencana, pastoral dan menggelar ibadah di alam terbuka tempat mereka tinggal saat ini. Edukasi itu penting, karena mengambil langkah mengungsi juga mampu mengundang permasalahan besar lainnya seperti penyakit.

Media dan gerakan juga terkadang melebihkan gambaran situasi. Hati – hati dengan gerakan pengumpulan dana yang tak jelas arah dan sasarannya. Di sana, dampak fisik sepertinya kurang (ada beberapa rumah masuk kategori rusak ringan dan sedang), tapi dampk psikis cukup terasa. Dari sini, kami mengambil peran dalam trauma healing terkhusus bagi anak”.

Kunjungan dan pendampingan yang membuat kami sadar bahwa manusia memerlukan manusia lain untuk melihat Kuasa Tuhan yang tak terbatas dimensi ruang dan waktu. Kami hanya manusia yang dapat menguatkan manusia lainnya untuk turut memahami kuasa Tuhan yg tak pernah lepas tangan.

Upu Saka Ite, 21|06|2021 – ditengah Gelombang laut menuju Ambon