Mari Berkenalan Dengan Ambon Vintage Bike, Komunitas Pencinta Sepeda Lawasan

by
Ambon Vintage Bike, Komunitas Pencinta Sepeda Lawasan di sekretariat kawasan Jalan AY Patty Ambon, Rabu (19/8/2020). FOTO : PRISKA BIRAHY

TERASMALUKU.COM,AMBON,-Ada yang mengatakan barang lawas tak lekang waktu. Apalagi dalam setiap perburuan, para pencinta barang lawas tentu mahfum rasanya puas mendapat barang incaran yang susah-susah gampang. Apapun itu. Mulai dari baju, buku, kacamata, sepatu, motor hingga sepeda. Kemolekan fisik barang-barang yang disebut vintage ini memang punya tempat tersendiri di mata dan hati siapa saja yang melihat.

Itulah yang dirasa oleh komunitas sepeda vintage di Kota Ambon, Ambon Vintage bike (AMVB). Belum ada sebulan mereka terbentuk. Namun kehadiran di jalanan, sudah mencuri perhatian etalase kota.

Komunitas AMVB resmi terbentuk pada awal Agustus dan baru berjalan selama 22 hari. Mereka adalah genre baru bersepeda dan mungkin satu-satunya di Kota Ambon. Saat yang lain membeli merek-merek dan keluaran terbaru, mayoritas 12 anggota AMVB ini malah asyik berburu barang-barang lawasan yang hampir jarang dilirik orang.

“Beta sudah suka barang lawas lama. Dan enak aja dipandang. Ada cerita tersendiri,” celetuk Haji Sjam, Ketua AMVB saat diwawancarai Terasmaluku.com di Sekretariat AMVB pada Rabu (19/8/2020).

Koleksi sepeda

Bagi Sjam, menggowes sepeda vintage punya kepuasan tersendiri. Sejak memutuskan jatuh hati pada barang lawasan, dia mulai rutin berburu ragam sepeda vintage original. Nah, berbeda dengan anggota yang lain, Sjam penganut aliran keaslian. Atau sepeda yang dia beli adalah bentukan asli pabrikan. Tak ada rekondisi atau reparasi.

Seperti yang dia tunjukkan kepada wartawan. Ada sebanyak tujuh dari 15 koleksi sepeda vintage miliknya yang dipajang sementara di kedai kopi miliknya di kawasan Jalan AY. Patty Ambon. Rerata sepedanya keluaran pabrik asal Amerika, merek dagang Dahon.

Salah satu yang meleka dihati adalah tipe Bromton Dahon Klasik. Ini merupakan seri klasik terbatas dari sepeda lipat keluaran 1980an. Ada juga Dahon California tahun 90an. Jenis ini biasa digunakan untuk rute dalam kota yang lurus alias road bike. Sjam tahu betul cara merawat anak-anak lawasnya sehingga terlihat mewah. Dari jajaran speda yang dipajang, tipe ini begitu pekat dengan kesan vintage. Rangka besi dengan palang tengah bercat perak nan antik dipadu saddle kulit light brown brooks imperial.

“Sepeda tua ini mirip orang tua. Jarang-jarang dipakai. Tapi perawatannya harus maksimal. Dan memang paling enak dipandang,” sebutnya. Dia membuka sedikit bocoran, ada perlakuan khusus untuk sepeda miliknya. Usai digunakan harus segera dilap dengan kain kering dan diberi taburan bedak. Atau jika terkena air hujan, sepeda harus lekas dikeringkan. Sebab kandungan asam air hujan, mempercepat timbulnya korosi.

Dengan perawatan semacam ini, sepeda miliknya tetap terlihat asik klasik. Sjam mendapat banyak manfaat kesehatan dari olahraga satu ini, sekaligus kesegaran mata saat melihat kecantikan belasan sepeda vintage-nya itu.

Loading...

Lain Sjam, lain juga dengan anggota lain. Alfian Baharudin misalnya, dia memilih genre Neo Retro Custom atau sepeda vintage kastem. Mereka penganut aliran vintage namun dipoles dengan sentuhan kebaruan. Seperti pabrikan Jepang, merek dagang Oyama. Dia mengambil rangka lawasan kemudian dirakit ulang dengan part moderen oleh mekanik sepeda handal, Hedi Safari si pemilik bengkel ‘Laki-laki Bae’.

“Katong suka vintage. Cuma memang dirakit dengan part modern. Tetap sih pengen ada yang orisinal macam punya ketua. Yang penting tetap bersepda,” terang dia. Tak menjadi seperti apa sepeda mereka, yang terpenting kebersamaan mengayuh. Soal keunikan, mereka masing- percaya kecintaan pada sepeda vintage memberi warna di jalanan Kota Ambon. Tak hanya itu cerita cerita dibaliknya menjadikan komunitas sepeda ini begitu kaya.

Ada cerita lain misalnya dari Decho dengan sepeda Miyata 941 Neo retro. Sebagai pemain baru dia nyaris kena block saat proses tawar menawar barang.

Di kelas barang vintage, penjual adalah raja. Mereka bebas menentukan kepada siapa barang itu diberikan. Tak peduli seberapa kaya atau niat seseorang. Kadang pembeli harus bertaruh dnegan mood dari si penjual. “Pas cari dapat terus beta tanya-tanya. Wajar kan baru pertama beli. Mungkin orangnya capek, beta di-block. Beta minta tolong Alfian yang nego,” selorohnya.

Haji Sjam, Ketua AMVB bersama Dahon California miliknya

Cerita-ceita kecil di balik itulah yang makin merekatkan anggota di komunitas ini. Bahkan mereka begitu terbuka dengan siapa saja yang ingin masuk kata Alfian, tak mesti harus punya sepeda vintage sebagai syarat. Apapun sepedanya yang penting niat. Pelan-pelan barulah diarahkan dengan ideologi sepeda lawasan khas AMVB.

Memang ada kesan mahal. Apalagi melihat sepeda orisinal milik Haji Sjam yang rerata diperoleh dari Australia dan Belanda.  Untuk sepeda kastem atau Neo Retro Custom, harganya jauh lebih terjangkau. Bahkan soal urusan build up dari rangka, Hedi sangat fasih merakit sesuai isi kantong.

“Sepeda vintage ini tak bisa dipungkiri adalah bahan aktualisasi diri. Komunitas kita masih baru, jadi perlu rutin gowes pasti banyak yang lihat dan tertarik,” ujar Hedi.

Komunitas ini punya agenda rutin saban Rabu sore dan Sabtu pagi. Itu disesuaikan dengan kesibukan masing-masing anggota. Ada yang pengusaha kopi, anggota kepolisian, pegawai BUMN, pegawai pengiriman barang, mekanik.

Di luar itu mereka tetap bersepda saat ada waktu senggang. Rute umum yang dilalui adalah Ambon – Laha dengan tipe jalan lurus jauh. Pemilihan rute juga bukan tanpa alasan. Biasanya para pesepeda dan komunitas sepeda lain melintas jalan itu. Momen ini dijadikan ajang berkenalan kumpul dan menambah teman. (PRISKA BIRAHY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *